Ilustrasi(Dok Istimewa)
LONJAKAN biaya kesehatan diperkirakan menjadi salah satu tantangan terbesar dunia usaha di Indonesia sepanjang 2026. Di tengah proyeksi inflasi medis yang mencapai 15,1%, lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 14% dan menempati peringkat kelima tertinggi di kawasan Asia Pasifik, perusahaan dituntut menyusun strategi baru agar produktivitas tenaga kerja tetap terjaga tanpa membebani anggaran kesehatan.
Sejumlah pengamat menilai pendekatan pemberian fasilitas kesehatan kepada karyawan tidak lagi cukup dilakukan secara umum. Perusahaan perlu memahami pola penyakit, perilaku pemanfaatan layanan kesehatan, hingga kelompok risiko tenaga kerja agar program kesehatan yang diberikan lebih efektif dan mampu menekan biaya jangka panjang.
Temuan tersebut tergambar dalam Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026 yang dirilis Halodoc for Business. Laporan berbasis data itu disusun dari lebih dari 1 juta transaksi layanan kesehatan dan lebih dari 3.000 diagnosis ICD-10 yang tercatat sepanjang kuartal I 2026, mencakup lebih dari 30 sektor industri di Indonesia.
Chief Marketing Officer Halodoc Fibriyani Elastria mengatakan tantangan utama perusahaan saat ini bukan sekadar besarnya biaya kesehatan, melainkan bagaimana memahami risiko kesehatan karyawan secara lebih akurat.
"Aset paling berharga sebuah perusahaan adalah sumber daya manusianya. Saat ini masih banyak perusahaan yang mengelola kesehatan karyawan secara reaktif tanpa data memadai. Laporan ini menjadi dasar untuk melihat profil kesehatan tenaga kerja secara nyata sehingga strategi benefit yang disusun benar-benar tepat sasaran," kata Fibriyani, di Jakarta, Kamis (16/7).
Laporan tersebut juga menunjukkan persoalan terbesar kesehatan pekerja bukan rendahnya kesadaran, melainkan akses terhadap layanan kesehatan. Banyak pekerja menunda pengobatan karena proses layanan yang dianggap rumit, sehingga keluhan ringan berkembang menjadi penyakit yang membutuhkan biaya penanganan jauh lebih besar.
Chief of Medical Halodoc dr Irwan Heriyanto MARS menjelaskan profil penyakit pekerja Indonesia berubah seiring bertambahnya usia. Kelompok usia muda lebih banyak mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sementara pekerja usia produktif 30–49 tahun didominasi gangguan muskuloskeletal akibat aktivitas kerja. Pada kelompok usia di atas 50 tahun, penyakit kardiovaskular dan kanker menjadi penyumbang biaya kesehatan terbesar.
Menurutnya, terdapat pula perbedaan risiko berdasarkan jenis kelamin. Sebanyak 81% pasien kardiovaskular merupakan laki-laki, sedangkan 72% pasien kanker merupakan perempuan sehingga kebutuhan skrining kesehatan masing-masing kelompok menjadi berbeda.
Selain memetakan pola penyakit, laporan tersebut menemukan pemanfaatan layanan kesehatan digital mampu meningkatkan efisiensi biaya perusahaan. Layanan telemedicine menangani sekitar 24% dari seluruh kasus kesehatan hanya dengan menggunakan 8% dari total biaya kesehatan, dengan tingkat penyelesaian kasus lebih dari 95% tanpa memerlukan kunjungan fisik lanjutan dalam 30 hari.
Sementara itu, pada pasien dengan penyakit kronis, penggunaan layanan Digital Cashless Outpatient (DCO) tercatat mampu menghemat biaya kesehatan hingga 66,4% dalam 90 hari dibandingkan pasien yang tidak menggunakan layanan digital.
Fibriyani menilai telemedicine kini tak lagi sekadar jadi alternatif layanan kesehatan, melainkan bagian penting dari strategi efisiensi perusahaan.
"Telemedicine tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga membantu karyawan memperoleh penanganan lebih cepat sehingga mereka dapat kembali produktif dalam waktu lebih singkat," katanya.
Untuk mendukung pengelolaan kesehatan karyawan secara menyeluruh, Halodoc for Business mengembangkan ekosistem layanan mulai dari telemedicine, pengelolaan administrasi klaim melalui layanan Third Party Administrator (TPA), hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) melalui Halodoc Intelligent Digital Assistant (Hilda).
Vice President of Insurance Halodoc Saswat Satadal mengatakan teknologi AI digunakan untuk mempercepat verifikasi kepesertaan, memantau tagihan medis, memvalidasi klaim, hingga membantu perusahaan menekan biaya pengelolaan klaim hingga 18%.
Selain layanan digital, perusahaan menghadirkan layanan pendampingan pasien saat menjalani perawatan di rumah sakit melalui HaloAssist. Layanan ini memungkinkan karyawan melakukan pemesanan kunjungan lebih awal, memperoleh pendampingan administrasi, hingga pengiriman obat ke rumah setelah selesai menjalani perawatan.
Saat ini, Halodoc for Business melayani lebih dari 1,5 juta peserta aktif, bermitra dengan lebih dari 30 perusahaan asuransi, 3.000 perusahaan, serta didukung jaringan lebih dari 4.700 fasilitas layanan kesehatan di seluruh Indonesia. (H-2)

















































