Dari Ginjal hingga Paru-Paru, Ini Deretan Organ Babi Hasil Rekayasa Genetika yang Sukses Diuji ke Manusia

5 days ago 15
Dari Ginjal hingga Paru-Paru, Ini Deretan Organ Babi Hasil Rekayasa Genetika yang Sukses Diuji ke Manusia ilustrasi(Magnific)

PEKEMBANGAN teknologi transplantasi organ terus menunjukkan kemajuan yang signifikan. Salah satu inovasi yang kini menjadi perhatian dunia medis adalah xenotransplantasi, yaitu prosedur transplantasi organ dari hewan ke tubuh manusia. 

Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan berhasil menguji transplantasi berbagai organ babi yang telah dimodifikasi secara genetik, mulai dari ginjal, jantung, hati, hingga paru-paru.

Upaya tersebut dilakukan sebagai solusi atas keterbatasan jumlah donor organ manusia.

Setiap tahun, jutaan pasien di berbagai negara harus menunggu donor organ dalam waktu yang lama, sementara tidak sedikit yang meninggal sebelum memperoleh transplantasi. Karena memiliki ukuran organ dan karakteristik fisiologis yang mendekati manusia, babi dipilih sebagai salah satu kandidat utama dalam pengembangan xenotransplantasi.

Ginjal Babi Paling Banyak Diuji.

Pada 2024, dokter di Amerika Serikat berhasil melakukan transplantasi ginjal babi hasil rekayasa genetika kepada pasien hidup. Organ tersebut mampu menjalankan fungsi penyaringan darah dan menghasilkan urine setelah ditransplantasikan.

Keberhasilan ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan transplantasi organ lintas spesies dan membuka jalan bagi uji klinis berikutnya.

Selain ginjal, transplantasi jantung babi juga menjadi pencapaian bersejarah. Meski pasien tidak bertahan dalam jangka panjang, prosedur tersebut menunjukkan bahwa jantung babi yang telah dimodifikasi dapat bekerja di dalam tubuh manusia untuk sementara waktu. Temuan itu menjadi dasar bagi penelitian lanjutan guna meningkatkan keamanan dan daya tahan organ hasil transplantasi.

Transplantasi Paru-Paru.

Penelitian terbaru menunjukkan paru-paru babi hasil rekayasa genetika mampu berfungsi selama beberapa hari setelah ditransplantasikan ke tubuh manusia yang telah dinyatakan mati batang otak. Hasil tersebut memberikan harapan baru bagi pengembangan terapi bagi pasien dengan penyakit paru stadium akhir.

Tidak hanya itu, para ilmuwan juga tengah mengembangkan transplantasi hati babi sebagai terapi sementara bagi pasien yang mengalami gagal hati akut.

Meski masih berada pada tahap penelitian, hasil awal menunjukkan organ tersebut mampu menjalankan sebagian fungsi metabolisme sehingga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa xenotransplantasi masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah risiko penolakan organ oleh sistem kekebalan tubuh manusia serta kemungkinan penularan penyakit dari hewan. Oleh karena itu, organ babi yang digunakan telah melalui rekayasa genetika untuk meningkatkan kecocokannya dengan tubuh manusia sekaligus mengurangi risiko tersebut.

Apabila penelitian terus menunjukkan hasil positif, xenotransplantasi berpotensi menjadi salah satu solusi untuk mengatasi krisis kekurangan donor organ di dunia. Para ilmuwan berharap kemajuan teknologi ini dapat memperluas akses transplantasi bagi pasien yang membutuhkan sekaligus meningkatkan angka harapan hidup di masa mendatang.

(Nature/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |