CATL wanti-wanti soal baterai gagal di tengah banjir produksi EV

3 days ago 7

Jakarta (ANTARA) - Produsen baterai listrik asal China Contemporary Amperex Technology (CATL) mewanti-wanti para produsen mobil listrik (EV) mengenai masalah kegagalan baterai di tengah banjirnya produksi EV yang didominasi oleh produsen-produsen asal China.

Pesan itu disampaikan Kepala CATL Robin Zeng dalam ajang World Power Battery Conference 2026 yang berlangsung di Yibin, Provinsi Sichuan, China beberapa waktu lalu seperti dikutip dari Car News China, Jumat (4/9) waktu setempat.

Kekhawatiran Zeng itu berangkat dari fakta bahwa sepanjang 2026 sudah ada sebanyak 600 model mobil listrik yang dirilis di pasaran. Dalam periode tersebut, itu artinya ada tiga mobil yang diluncurkan per hari dalam sembilan bulan terakhir.

Baca juga: Suzuki masih yakin mobil listrik akan "merusak" karakter Jimny

Baca juga: Li-Auto segera hadirkan penyegaran untuk MPV Mega

Kecepatan peluncuran produk demi produk itu menurutnya membuat siklus pengujian baterai dan validasi kualitas baterai menjadi lebih pendek dan hal itu cukup banyak berkontribusi pada temuan baterai-baterai mobil listrik yang berfungsi abnormal atau bisa disebut sebuah kegagalan.

Zeng memang tidak merinci produsen atau merek mana yang terdampak masalah ini, namun kekhawatirannya berdasar mengingat kondisi banjir produksi EV selain berdampak pada keselamatan konsumen juga membuat kondisi pasar menjadi tidak sehat.

Data industri yang dikutip dalam laporan terbaru menunjukkan penurunan harga transaksi untuk beberapa kendaraan listrik massal China selama paruh pertama 2026.

Sementara harga sel lithium besi fosfat (LFP) yang menjadi bahan baku baterai mobil listrik dilaporkan terus mengalami penurunan dan telah menyentuh harga di bawah 0,35 yuan/Wh (Rp919/Wh).

Jika melihat kondisi lapangan, memang sudah terkuak beberapa kasus kegagalan baterai mobil listrik dari produsen China.

Misalnya seperti laporan 213.000 kendaraan GAC Aion pada Juli 2026 yang dilaporkan mengalami masalah berupa pembengkakan baterai hingga baterai terus-terusan kehilangan daya akibat sel CALB yang tidak optimal.

Baca juga: Fitur Omoda O4, mobil listrik dengan teknologi AI harga Rp400 jutaan

Lalu ada juga sengketa yang terjadi antara produsen mobil dan pemasok baterai akibat kualitas baterai yang buruk seperti yang terjadi di akhir 2025 antara anak perusahaan Geely yaitu Viridi E-Mobility Technology dan Sunwoda.

Viridi menggugat Sunwoda sebagai produsen baterai karena sel baterai yang diterima Viridi mengalami cacat kualitas dan itu berasal dari Sunwoda pada periode Juni 2021 dan Desember 2023.

Berkaca dari kondisi-kondisi tersebut, maka dari itu Zeng mengingatkan bahaya dari produksi massal EV yang harus diperhatikan oleh para produsen.

Meski ada beragam pengujian untuk membuktikan kualitas baterai, namun uji-uji tersebut bisa saja tidak akurat karena standar yang ada tidak menetapkan bagaimana kinerja paket baterai lengkap di bawah beban benturan tingkat kendaraan, termasuk deformasi dinamis, kerusakan penutup, atau kerusakan sistem pendingin.

Pada akhirnya pernyataan Zeng itu berpusat pada pertanyaan dasar tentang rekayasa dan manufaktur yaitu apakah siklus pengembangan kendaraan yang semakin singkat memberikan waktu yang cukup untuk mengidentifikasi cacat baterai sebelum produk mencapai produksi massal.

Baca juga: Kanada mulai buka gerbang untuk import mobil China

Baca juga: Menperin upayakan TKDN kendaraan listrik hingga 80 persen di 2030

Baca juga: BYD Sealion 08 meluncur di pasar China

Pewarta:
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |