Baterai Nusantara dorong kemandirian ekosistem baterai di ASEAN

1 week ago 20

Jakarta (ANTARA) - Kerja sama Indonesia dengan Malaysia mulai diarahkan pada pengembangan ekosistem baterai di kawasan Asia Tenggara, salah satunya melalui pengembangan Baterai Nusantara,.

Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini mengatakan bahwa kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kemampuan industri baterai di ASEAN secara mandiri.

“Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi dari sisi material baterai, khususnya pengembangan katoda. Sementara itu, Malaysia memiliki fasilitas pilot yang dapat digunakan untuk memproduksi sel baterai. Kami lebih senang kalau kita juga bisa membuat sel baterai di sini,” kata Evvy di Jakarta, Rabu.

Dia melanjutkan, pengembangan Baterai Nusantara ini dilakukan dengan mengirimkan material yang dikembangkan di Indonesia ke Malaysia untuk kemudian diproses menjadi baterai.

Baca juga: Dukung kendaraan listrik, BRIN riset baterai dari limbah batu bara

Baca juga: China tetapkan standar akurasi indikator kesehatan baterai EV

Produk tersebut bahkan telah diperkenalkan di Malaysia bersama kementerian terkait di negara tersebut.

Lebih lanjut, Evvy menyatakan bahwa kerja sama ini tidak hanya berkaitan dengan produksi baterai, tetapi juga menjadi langkah awal untuk membangun rantai pasok baterai yang melibatkan negara-negara ASEAN.

“Kita juga ingin mencoba bagaimana di ASEAN ini tidak tergantung juga. Jadi punya baterai ASEAN sendiri,” katanya.

Kerja sama ini didasari ASEAN memiliki pasar kendaraan listrik yang cukup besar, sehingga dapat menjadi basis pengembangan teknologi baterai regional.

Namun, untuk mencapai tahap tersebut, diperlukan penguatan kemampuan riset hingga produksi di masing-masing negara.

Salah satu langkah yang dinilai penting, adalah membangun fasilitas pilot plant di Indonesia.

Baca juga: CATL dan BYD berlomba kembangkan baterai "solid-state" pada 2027

Menurut Evvy, fasilitas tersebut dibutuhkan sebagai jembatan antara hasil pengembangan material di laboratorium menuju produksi baterai dalam skala komersial.

“Pilot itu kita tidak perlu langsung membuat gigawatt hour. Kita perlu bridging antara material ini ke sana,” ujarnya.

Melalui fasilitas pilot, teknologi yang sudah dikembangkan di laboratorium dapat diuji dalam skala lebih besar sebelum masuk ke tahap industrialisasi.

Indonesia juga dapat mempelajari teknologi komersial yang digunakan mitra, kemudian mengembangkannya kembali melalui riset nasional.

Evy menilai pendekatan tersebut perlu mulai diterapkan Indonesia agar tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga memiliki kemampuan memproduksi sel baterai secara mandiri.

Kolaborasi Indonesia-Malaysia ini sekaligus menjadi bagian dari agenda lebih luas untuk memperkuat kemampuan teknologi baterai ASEAN.

Dengan menggabungkan sumber daya, riset, fasilitas produksi, dan pasar regional, ASEAN diharapkan tidak hanya menjadi basis produksi kendaraan listrik, tetapi juga mampu membangun teknologi baterainya sendiri.

Baca juga: Geely siapkan baterai "solid-state" baru, bisa tambah jarak tempuh EV

Baca juga: ESDM sebut pembangunan pabrik baterai EV di Karawang sudah rampung

Baca juga: Hongqi jadi merek pertama di luar BYD yang gunakan  Blade Battery 2.0

Pewarta:
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |