BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengusung konsep hybrid eco-engineering sebagai bagian dari upaya mempercepat pembangunan infrastruktur pelindung pesisir di Pantai Utara (Pantura) Jawa. Kolaborasi lintas lembaga dan mitra diperkuat di tengah rencana groundbreaking proyek Giant Sea Wall (GSW) Teluk Jakarta yang diperkirakan mulai berjalan pada Oktober 2026 mendatang.
Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Dinar Catur Istiyanto, menyampaikan pentingnya memperkuat strategi ke arah proteksi lingkungan yang berkelanjutan dan terintegrasi. Terkait pembangunan struktur keras (hard structure), ia mengungkapkan urgensi mengombinasikan pembangunan struktur keras dengan solusi natural yang sesuai kebutuhan lokal demi efisiensi jangka panjang.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Koordinasi bersama Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) menyepakati rencana lokasi riset BRIN berupa pembangunan demonstration plot (demplot) breakwater di Pantai Sederhana, Bekasi, menyesuaikan dengan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL) yang telah ada. Di sana kami mengusung konsep hybrid eco-engineering,” kata Dinar melalui keterangan tertulis, Kamis, 11 Juni 2026.
BRIN mengusulkan pembangunan breakwater sepanjang 100 meter dengan lapis lindung BRINlock yang kemudian akan diintegrasikan dengan penanaman mangrove. Guna mendukung implementasi fisik ini, kesiapan data teknis terus dikejar.
“Saat ini kami perlu melakukan pengukuran batimetri dan pengumpulan data tanah. Proposal risetnya sendiri sudah disetujui, dan kami sedang menunggu finalisasi persetujuan anggaran yang diharapkan rampung dalam satu hingga dua minggu ke depan,” katanya.
Dinar menyebut rencana kerja sama yang saat ini berjalan mencakup potensi produksi unit lapis lindung BRINlock dengan PT Semen Indonesia (Persero) atau BUMN konstruksi lainnya.
Di sisi lain, aspek ekologis dari ekosistem pesisir turut menjadi perhatian serius. Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Khusnul Setia Wardani, sebagai koordinator untuk implementasi demplot rehabilitasi mangrove menegaskan ancaman terhadap kelestarian kawasan pesisir seperti di Muara Gembong, tidak hanya datang dari faktor alam.
“Banyaknya pengajuan pembukaan lahan untuk area tambak menjadi tantangan tersendiri. Studi kami menunjukkan kerusakan mangrove di lapangan tidak semata-mata diakibatkan oleh hantaman gelombang laut, melainkan dipicu oleh pembukaan tambak-tambak tersebut,” ucap Khusnul.
Ia menekankan perlunya kajian mendalam yang komprehensif mengenai zonasi dan spesifikasi vegetasi sebelum konstruksi masif dilakukan. “Sangat penting bagi kita untuk melakukan kajian mendalam mengenai spesifikasi yang sesuai, mulai dari pemilihan jenis mangrove yang tepat hingga penentuan jarak aman yang ideal antara posisi hutan mangrove dengan struktur tanggul,” katanya.
Sebagai referensi keberhasilan, ia membagikan studi kasus transisi ekologi di Losarang, Indramayu. Pembangunan tanggul di wilayah tersebut berhasil memicu sedimentasi yang memperlambat arus, sehingga mendorong pertumbuhan mangrove baru secara alami.
Merespons paparan dari para peneliti BRIN, pihak BOPPJ menyatakan kesiapannya untuk mengintegrasikan rekomendasi riset tersebut ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Teluk Jakarta. Deputi I BOPPJ Sawarendro menekankan langkah konkret akan segera diambil untuk menyelaraskan kondisi di lapangan.
“Kami akan segera melakukan pengumpulan serta pemetaan data untuk area mangrove dan tambak. Selanjutnya, data tersebut akan dituangkan ke dalam peta layout dan cross section untuk dimasukkan secara resmi ke dalam perencanaan wilayah Teluk Jakarta,” ungkap Sawarendro.
Selain fokus pada Teluk Jakarta, ia juga menyoroti tantangan di segmen Kendal-Semarang-Rembang. Penurunan tanah (land subsidence) di wilayah tersebut masih terus terjadi meskipun penggunaan air tanah telah dibatasi. Untuk itu, ia berharap BRIN dapat memberikan telaah teknis mengenai pengelolaan kolam retensi, area water treatment, serta kajian faktor tektonik dan geologi yang memengaruhi wilayah Pantura.
Terkait infrastruktur tanggul di Semarang, Sawarendro menyatakan penggunaan struktur BRINlock di depan tanggul memiliki konsep pemecah gelombang yang efisien sehingga tidak memerlukan kekuatan struktur yang berlebihan.

































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)














