BMKG: InaTEWS Kini Mampu Keluarkan Peringatan Tsunami Kurang dari Tiga Menit

1 week ago 3
 InaTEWS Kini Mampu Keluarkan Peringatan Tsunami Kurang dari Tiga Menit Peta potensi tsunami di Kota Padang. Sumatra Barat membutuhkan 600 unit sirine peringatan dini tsunami (Early Warning System) untuk tujuh kabupaten/kota yang rawan tsunami. Hingga saat ini, Sumbar baru memasang enam unit sirene peringatan dini tsunami (Ind(MI/Yose Hendra)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan sistem peringatan dini tsunami Indonesia atau InaTEWS kini mampu mengeluarkan informasi potensi tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa terjadi.

Ketua Tim Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Wenisa mengatakan kemampuan tersebut merupakan hasil pengembangan bertahap sejak tsunami Aceh 2004 dan tsunami Pangandaran 2006.

"Perjalanan membangun sistem peringatan dini tsunami bukan proses yang singkat. Saat ini dengan perkembangan teknologi dan penambahan jaringan pengamatan, kemampuan kita terus meningkat," kata Wenisa dalam webinar peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran, Kamis (16/7). 

Ia menjelaskan sebelum 1990 Indonesia masih menggunakan sistem manual dan analog sehingga informasi gempa baru dapat disampaikan dalam satu hingga dua hari. 

Pada periode 1991–2007 waktu penyampaian informasi menjadi sekitar tiga jam. Setelah InaTEWS diresmikan pada 2008, BMKG mampu mengeluarkan informasi gempa dan peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari lima menit, dan kini terus ditingkatkan menjadi sekitar tiga menit.

Menurut Wenisa, saat ini BMKG didukung lebih dari 500 stasiun seismograf yang terhubung dengan sistem analisis otomatis. Ketika gempa terdeteksi, BMKG akan menentukan apakah gempa tersebut berpotensi tsunami. 

Jika berpotensi, validasi dilakukan menggunakan jaringan tide gauge sebelum informasi disebarluaskan melalui berbagai kanal diseminasi. 

Ia menambahkan sistem peringatan dini tsunami merupakan kerja bersama sedikitnya 22 kementerian dan lembaga. BMKG bertindak sebagai koordinator komponen hulu (upstream) yang melakukan deteksi dan analisis, sedangkan BNPB bersama pemerintah daerah menjadi bagian dari komponen hilir (downstream) yang meneruskan informasi dan mengarahkan evakuasi masyarakat.

Wenisa menegaskan tujuan utama InaTEWS bukan hanya menyampaikan informasi secara cepat, tetapi memastikan masyarakat dapat merespons dengan benar.

"Yang kita harapkan adalah respons yang tepat dan cepat dari komunitas sehingga kita mampu mengurangi bahaya dan risiko akibat gempa dan tsunami," ujarnya.

Selain memperkuat jaringan pemantauan, BMKG juga tengah mengembangkan kemandirian teknologi melalui program Sistem Merah Putih atau Garuda agar sistem peringatan dini dapat dibangun dan dikembangkan oleh sumber daya nasional. (E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |