BMKG Imbau Warga Pesisir tak Abaikan Gempa Lemah Berkepanjangan Tanda Tsunami

1 week ago 6
BMKG Imbau Warga Pesisir tak Abaikan Gempa Lemah Berkepanjangan Tanda Tsunami Museum tsunami dipadati pengunjung libur lebaran: Wisatawan berada di ruang visual digital interaktif dan imersif Museum Tsunami Aceh saat libur Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah di Banda Aceh, Aceh, Senin (23/3/2026).(Antara)

SEISMOLOG BMKG Pepen Supendi mengingatkan masyarakat di wilayah pesisir agar tidak mengabaikan gempa yang terasa lemah namun berlangsung cukup lama. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi karakteristik tsunami earthquake atau gempa pembangkit tsunami yang berpotensi memicu gelombang besar meski guncangannya tidak terlalu kuat.

"Ketika berada di kawasan pantai dan merasakan guncangan yang relatif lama meskipun lebih lemah dibanding biasanya, maka boleh jadi itu adalah tanda-tanda tsunami earthquake. Segera menjauhi pantai menuju tempat yang lebih tinggi. Jangan menunggu warning ataupun sirene," ujar Pepen dalam webinar peringatan 20 tahun Gempa dan Tsunami Pangandaran, Kamis (16/7).

Pepen menjelaskan, gempa dan tsunami Pangandaran pada 17 Juli 2006 merupakan salah satu contoh paling penting dari tsunami earthquake di Indonesia. 

Peristiwa tersebut menewaskan lebih dari 600 orang dan membuat ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Tsunami juga berdampak sepanjang sekitar 250 kilometer pesisir selatan Jawa hingga wilayah Yogyakarta.

Ia menerangkan bahwa berbeda dengan gempa besar pada umumnya, tsunami earthquake memiliki proses patahan yang berlangsung lambat atau slow rupture

Energi gempa lebih banyak dipancarkan pada frekuensi rendah sehingga guncangan yang dirasakan masyarakat relatif lemah. Dalam kasus Pangandaran, guncangan di wilayah tersebut hanya sekitar III-IV MMI meski magnitudonya mencapai 7,7.

"Masyarakat menganggap itu hanya gempa biasa karena guncangannya tidak terlalu kuat. Padahal sekitar satu jam kemudian tsunami datang," katanya.

Menurut Pepen, penelitian juga menunjukkan adanya kemungkinan kontribusi sesar cabang (splay fault) dan longsoran bawah laut lokal yang memperbesar tinggi tsunami di beberapa lokasi. Di Nusa Kambangan, ketinggian tsunami tercatat mencapai sekitar 21 meter sehingga diduga tidak hanya berasal dari satu sumber patahan.

Ia menambahkan bahwa wilayah selatan Jawa masih memiliki dua segmen megathrust, yakni Jawa Barat dan Jawa Timur, yang berpotensi memicu gempa besar di masa mendatang. Karena itu, penguatan sistem pemantauan, penelitian, serta kesiapsiagaan masyarakat harus terus dilakukan.

"Kita tidak berharap bencana itu terjadi, tetapi kesiapsiagaan komunitas dan keberlanjutan sistem monitoring memiliki peranan yang sangat penting untuk menghadapi potensi tsunami di kemudian hari," ujarnya. (E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |