Berawal dari Pinjaman Rp2 Juta, Kini Berdayakan Perempuan dan Difabel

1 week ago 11
Berawal dari Pinjaman Rp2 Juta, Kini Berdayakan Perempuan dan Difabel Sugeng Paijo (kiri) dan istrinya, Khania Kendarsyah (kanan), mengembangkan usaha Jajanan Mamake.(MI/Lilik Darmawan)

USAI menikah dengan Khania Kendarsyah, Sugeng Paijo atau yang akrab dipanggil Jojo, memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah petak ukuran 4x5 meter dengan biaya sewa sekitar Rp500 ribu per bulan di Cilacap, Jawa Tengah.

Khania yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, harus rela meninggalkan pekerjaannya sebagai Human Resources Development (HRD) sebuah perusahaan untuk menjadi ibu rumah tangga (IRT). Waktu itu, Jojo yang seorang penyandang disabilitas daksa masih sebagai penyiar sebuah radio terkenal di Cilacap. 

Karena merasa rumah petak sempit, Jojo dan istrinya pun pindah ke rumah kontrakan milik ibu dari Jojo di Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan.

“Tidak usah membayangkan luasannya, karena sama-sama sempitnya. Bahkan, dapur untuk masak hanya berukuran sekitar 3 meter persegi. Kecil sekali. Setiap malam, ketika anak-anak sudah tidur, saya bersama istri memproduksi manggleng. Sebetulnya, itu usaha ibu sejak tahun 2016 yang kemudian saya kembangkan bersama istri,” katanya beberapa saat lalu.

Usaha mulai jalan, kebetulan orang tua ingin mengembangkan dan butuh modal. Kemudian, mereka bertemu dengan PNM Mekaar

“Ada tawaran dari PNM untuk mengembangkan usaha. Namun, karena ibu saya sudah tua, maka disarankan yang meminjam adalah istri saya. Akhirnya, Khania yang meminjam. Pinjaman pertama senilai Rp2 juta. Meski kelihatan kecil, tapi bagi kami sangat bermanfaat. Maka ada lembaga selain PNM memberi pinjaman tanpa agunan. Paling kan rentenir, dan kami jelas tidak mau. Kami tidak punya sertifikat, karena rumah yang kami diami tanahnya milik sebuah perusahaan. Tanah ini hanya hak guna saja. Makanya sebetulnya kami benar-benar tidak memiliki agunan,” ujarnya.

Dari pinjaman Rp2 juta itulah, usaha bisa kembali jalan. Bahkan, Khania mulai me-rebranding jajanan manggleng dengan merek Jajan Mamake. 

“Dengan modal itu, mulai tahun 2018, kami mencoba untuk mem-branding dengan packaging yang menarik. Selain itu, kami mulai berjualan lewat media sosial Instagram dan marketplace. Kami menjual di marketplace untuk meningkatkan trust publik,” katanya.

Semakin Fokus

Tahun 2019 awal, Jojo mundur dari penyiar radio, karena dia bersama istrinya yakin untuk mengembangkan usaha. Apalagi, dirinya sudah melihat ada modal lain yang bisa diraih. 

“Saya berani mundur, karena waktu itu saya mendapat job sebagai event organizer (EO) untuk beberapa event besar di Cilacap. Pemikiran saya, begitu job selesai, tentu akan dapat modal untuk mengembangkan usaha yang mulai ditekuni istri dengan merek Jajanan Mamake,” jelasnya.

Skenario berubah. Mulai akhir 2019 hingga 2020, covid-19 merebak. Termasuk di Indonesia. Modal dari EO gagal diraih. Seluruh acara dibatalkan. Jelas itu menjadi pukulan berat hingga kembali ke titik nadir. Namun, Jojo dan Khania tidak menyerah. Mereka mengintensifkan pemasarannya melalui media sosial dan marketplace

“Ternyata ada hikmahnya juga ketika covid-19 melanda. Hampir semua orang mencari makanan secara online. Inilah titik baliknya, dagangan kami laris manis, ”ujarnya.

Meski serba terbatas, tetapi ternyata media sosial mampu mendongkrak pemasaran. 

“Lucunya, karena tampilan Instagram kami terlihat rapi dan profesional, banyak orang mengira usaha kami sudah besar. Padahal kenyataannya sangat sederhana. Kami bahkan belum memiliki rak display. Produk-produk hanya disimpan di dalam kardus. Kalau sekarang cerita itu dikenang memang bisa ditertawakan, tetapi dulu benar-benar masa yang sulit,” katanya.

Bahkan, pernah ada dua bus wisata dari Teluk Penyu yang ingin mampir ke Jajan Mamake setelah melihat promosi di Instagram

“Mereka mengira kami sudah punya toko besar, padahal saat itu kami masih berjualan dari rumah kontrakan kecil. Akhirnya kami hanya bisa mengatakan bahwa tempat sedang direnovasi dan menawarkan untuk mengantarkan pesanan langsung kepada pelanggan,” jelasnya.

Dari situlah perlahan mereka mendapatkan pelanggan, terutama dari kalangan menengah ke atas, seperti tamu hotel dan wisatawan yang mencari oleh-oleh khas Cilacap melalui internet. 

“Pada saat banyak UMKM baru mulai belajar berjualan online, kami sudah lebih dulu terbiasa menggunakan media sosial dan marketplace. Karena tidak memiliki modal produksi, kami meminta pelanggan melakukan transfer terlebih dahulu sebelum barang diproduksi. Jadi sebenarnya para pembeli itulah yang menjadi modal awal usaha kami. Pada titik ini, peran PNM sangat luar biasa, karena menjadi satu-satunya lembaga pembiayaan yang menyalurkan dana ke kami,” ungkap dia.

Usaha Berkembang

Setelah manggleng, keduanya beranjak menekuni jajanan lainnya. Yakni keripik sukun, kentang hingga produk basah brownies dan frozen food. Produk yang sangat laku di pasaran adalah keripik sukun. 

“Selama dalam perjalanan mengembangkan usaha kami, PNM selalu membersamai. Mulai dari pembiayaan, memfasilitasi pelatihan hingga pemasaran. Pokoknya dari hulu sampai hilir,” ungkapnya. 

Menurutnya, exposure usaha semakin moncer ketika Jojo mengikuti sebuah ajang kompetisi Juragan Jaman Now yang diselenggarakan stasiun televisi swasta. “Program yang ditayangkan pada 2023 tersebut, dampaknya luar biasa. Kami sampai mendapat pesanan stik sukun dalam bentuk produk jadi sebanyak 1,5 ton hingga 2 ton. Pemesannya kebanyakan para penjual di marketplace. Produk kami sempat viral waktu itu,” katanya.

Bahkan, lanjutnya, permintaan stik sukun sebenarnya sudah datang dari Malaysia, Australia, sampai Taiwan. “Namun kami kewalahan memenuhi permintaan tersebut. Problem utamanya ada pada supply chain (rantai pasok). Sukun bukan tanaman budi daya, ditambah lagi sifatnya musiman. Jadi ketika sedang tidak musim, bahan bakunya benar-benar tidak ada. Dari situ kami mulai berpikir, sebenarnya produk ini punya peluang ekspor. Namun persoalannya tetap sama, yakni pasokan,” ujar dia.

Tidak berhenti di industri kecil makanan, Jojo dan Khania mengepakkan sayap untuk produksi kerajinan. Yang ditangani adalah produk kerajinan berbahan baku gedebok atau pelepah pisang. Bagi Jojo, kulit pohon pisang bukanlah limbah, namun dapat menjadi bahan baku kerajinan. 

“Ide ini muncul dari pengalaman di Jajan Mamake. Ketika permintaan besar tetapi pasokan bahan baku tidak mencukupi. Nah, kulit pohon pisang ini bisa menjadi alternatif karena di mana-mana ada dan tidak bergantung pada musim. Apalagi, produknya dipastikan ramah lingkungan. Saya mulai belajar mengolah pelepah pisang dari berbagai sumber, termasuk YouTube dan Instagram. Sampai sekarang riset dan pengembangannya masih terus berjalan,” ungkapnya. 

Pelepah pisang itu diolah hingga menyerupai kulit sintetis. Bahkan ada pihak yang tertarik menggunakan material tersebut untuk sandal hotel. Ketika ada permintaan ekspor, kami sudah siap dari sisi bahan baku dan kualitas produksi. Karena memang arahnya ingin masuk pasar ekspor.

Produk yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari card holder atau dompet penyimpan kartu-kartu, wallpaper dekoratif, keranjang laundry, keranjang sampah, hingga topi. Beberapa produk juga dikolaborasikan dengan perajin lain. 

“Untuk pemasaran produk-produk ramah lingkungan ini, kami juga mengarah ke pasar korporasi. Selain melalui Instagram dan marketplace, kami aktif menjalin relasi dengan perusahaan,” kata dia.

Sementara itu, Khania turut mengurus Kelompok Usaha Bersama (KUB) bernama Wijayapura. Kelompok ini melimpatkan para perempuan di wilayah pesisir Laut Cilacap. 

“Kami diberi pelatihan ecoprint dengan difasilitasi PNM. Sampai sekarang klaster ini masih tetap berjalan. Karena mereka juga dilayani pembiayaan oleh PNM. Saya sendiri juga mendapat pembiayaan hingga Rp14 juta,” tambah Khania.

Berdasarkan perhitungan dari Jojo dan Khansa, usaha yang dirintis dari nol tersebut, sekarang mulai menggeliat dan memiliki omzet hingga puluhan juta. 

“Omzet Jajan Mamake saat ini berkisar Rp30 juta per bulan dengan enam pekerja, semuanya perempuan. Dari awal memang kami ingin memberdayakan perempuan, khususnya mereka yang menjadi tulang punggung keluarga atau single parent,” ujarnya.

Kemudian untuk ecoprint, anggota yang terlibat di KUD sekitar 15 orang, mayoritas perempuan dan ada juga teman-teman difabel. “Mereka rata-rata merupakan nasabah PNM karena awalnya memang dibentuk sebagai klaster binaan. Omzet ecoprint saat ini berkisar Rp15 juta per bulan. Produknya sering dibawa dalam berbagai kegiatan pameran dan promosi, termasuk lewat jejaring kolaborasi,” katanya.

Sedangkan untuk kerajinan dari gedebok pisang, omzet per bulan saat ini berkisar Rp25 juta. 

“Memang arah pasar kami lebih banyak ke korporasi, sehingga pola penjualannya tidak rutin harian, tetapi sekali ada pembelian biasanya langsung dalam jumlah besar. Misalnya, kemarin kami mendapat pesanan dari Baznas hingga Rp21 juta untuk kebutuhan suvenir acara dan pelatihan,” ujarnya.

Pelibatan Difabel

Sebagai seorang penyandang disabilitas, Jojo juga tergerak untuk memperhatikan para difabel di Cilacap. Kemudian dia mendirikan Yayasan Dipa Mandiri Nusantara dan unit usaha Dipa Craft. Meski yayasan baru berdiri pada 2025, embrio gerakan tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak 2022. 

Berangkat dari pengalaman pribadi sebagai penyandang disabilitas sekaligus aktivitasnya sebagai Ketua Unit Layanan Inklusi Disabilitas Penanggulangan Bencana, Jojo banyak berdialog dengan sesama difabel mengenai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. 

“Ketika sering kumpul dan ngobrol dengan teman-teman disabilitas, saya melihat sebenarnya bantuan itu cukup banyak. Tetapi sering kali kurang merata, tidak tepat sasaran, dan sifatnya masih charity,” ujar Jojo.

Menurutnya, pola bantuan yang hanya bersifat karitatif justru kerap memunculkan ketergantungan. Bahkan dalam jangka panjang dapat menciptakan mental block yang menghambat kreativitas dan produktivitas penyandang disabilitas. 

“Kadang muncul perasaan tidak percaya diri, merasa tidak bisa, dan akhirnya sulit berkembang. Padahal mereka punya potensi,” katanya.

Berangkat dari pengalaman di dunia kewirausahaan, Jojo kemudian mencoba membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada komunitas difabel di Cilacap. Ia ingin penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk mandiri secara ekonomi. 

“Yayasan Dipa Mandiri Nusantara yang berfokus pada isu strategis pemberdayaan perempuan dan disabilitas. Yayasan tersebut tidak hanya memberikan pelatihan keterampilan, tetapi juga membangun sistem pendampingan agar peserta benar-benar bisa menjalankan usaha,” jelasnya.

Jojo mengatakan, salah satu persoalan terbesar yang dihadapi pelaku UMKM difabel adalah pemasaran dan permodalan. Banyak penyandang disabilitas sebenarnya memiliki keterampilan, tetapi kesulitan mengembangkan usaha karena terbatas modal dan akses pasar.

Untuk menjawab persoalan tersebut, yayasan membentuk Dipa Craft sebagai unit usaha sekaligus ruang produksi bersama. Dalam sistem itu, yayasan berperan sebagai fasilitator. 

“Mereka kami beri bahan untuk dikerjakan, lalu produk yang dihasilkan kami bantu pasarkan. Jadi teman-teman difabel bisa fokus berkarya,” ujarnya.

Saat ini, sekitar 20 hingga 25 penyandang disabilitas aktif terlibat dalam berbagai kegiatan produksi dan pemberdayaan di Dipa Craft. Namun dalam proses pendampingan, Jojo menyadari persoalan yang dihadapi penyandang disabilitas ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar ekonomi. 

“Ada persoalan sosial, kekerasan, sampai pendampingan hukum. Karena itu kami mulai bekerja sama dengan dengan berbagai pihak lain untuk membantu advokasi,” katanya.

Menurut Jojo, yayasan yang baru resmi berdiri pada Juni 2025 itu terus berkembang melalui berbagai kolaborasi baru hampir setiap bulan. Salah satu mitra yang aktif mendukung adalah PNM yang selama ini membantu penyerapan produk sekaligus memberikan pelatihan usaha.

“PNM bukan hanya menyalurkan kredit, tetapi juga mendampingi dari hulu sampai hilir. Itu yang sebenarnya sangat dibutuhkan teman-teman difabel,” ujarnya.

Melalui Dipa Craft, Jojo dan istrinya mencoba membangun blueprint atau model pengembangan masyarakat inklusif di Cilacap. Mereka ingin membuktikan bahwa usaha tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga harus memberikan dampak sosial dan lingkungan. 

“Pola pikir usaha ya tetap usaha, tetapi harus ada dampak sosial dan lingkungan. Mudah-mudahan nanti ada penerusnya dan bisa berkelanjutan,” ujarnya.

Selain membangun usaha bersama, yayasan juga mulai merintis sistem pendataan penyandang disabilitas di tingkat kecamatan. Setiap wilayah memiliki perwakilan yang bertugas mendata jumlah penyandang disabilitas, jenis disabilitas, hingga kebutuhan yang mereka hadapi.

Pendataan itu disertai proses mitigasi agar data yang dimiliki benar-benar riil dan lebih akurat. Sebab hingga kini, menurut Jojo, salah satu persoalan utama dalam isu disabilitas adalah minimnya data yang valid dan merata. 

“Sebenarnya yayasan ini bukan ingin berjalan sendiri secara eksklusif. Kami ingin menjadi jembatan atau fasilitator agar bantuan dari berbagai pihak bisa lebih terarah dan berdampak nyata,” katanya.

Ia mencontohkan, banyak bantuan yang sebenarnya diberikan dengan niat baik, tetapi tidak berkelanjutan karena tanpa pendampingan. Misalnya bantuan mesin jahit yang akhirnya mangkrak dan tidak digunakan. 

“Bukan berarti mereka tidak peduli. Mungkin hanya belum tahu cara membantu yang tepat,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap gerakan inklusivitas tidak berhenti pada bantuan sesaat. Bagi Jojo, penyandang disabilitas membutuhkan ruang untuk berkembang, kesempatan untuk bekerja, dan sistem pendampingan yang berkelanjutan sehingga bisa hidup mandiri di tengah masyarakat. (LD/E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |