Benarkah erupsi gunung bisa bikin Bumi lebih dingin? Ini faktanya

5 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada awal September 2026 kembali menjadi perhatian setelah aktivitas vulkaniknya meningkat dan abu erupsi berdampak hingga sejumlah wilayah di Indonesia. Erupsi tersebut bahkan mengganggu aktivitas penerbangan di beberapa bandara akibat sebaran abu vulkanik.

Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan lain: apakah erupsi gunung api juga bisa memengaruhi suhu bumi?

Jawabannya, bisa. Namun, tidak semua erupsi otomatis membuat suhu bumi turun. Pengaruh terhadap suhu global sangat bergantung pada skala erupsi, jumlah gas yang dilepaskan, serta seberapa tinggi material vulkanik tersebut mencapai atmosfer.

Ketika membicarakan erupsi dan perubahan suhu bumi, banyak orang mungkin langsung membayangkan abu vulkanik. Padahal, material yang paling berpengaruh terhadap pendinginan global adalah gas sulfur dioksida atau SO2.

Pada erupsi besar, sulfur dioksida dapat terdorong hingga lapisan stratosfer. Di sana, gas tersebut bereaksi dengan uap air dan membentuk partikel aerosol sulfat berukuran sangat kecil.

Partikel ini dapat bertahan selama berbulan-bulan hingga beberapa tahun dan memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke angkasa. Akibatnya, lebih sedikit energi matahari yang mencapai permukaan bumi sehingga suhu rata-rata global dapat mengalami penurunan.

Sementara itu, abu vulkanik umumnya jatuh kembali ke permukaan dalam waktu relatif lebih cepat sehingga pengaruhnya terhadap suhu global tidak sebesar aerosol sulfat di stratosfer.

Baca juga: 7 tanda gunung api akan meletus yang perlu diketahui

Erupsi besar bisa membuat bumi lebih dingin

Salah satu contoh paling jelas adalah erupsi Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991.

Erupsi tersebut melepaskan sekitar 18,5 juta ton sulfur dioksida ke stratosfer. Gas itu kemudian membentuk aerosol sulfat yang menyebar di atmosfer dan menyebabkan suhu rata-rata permukaan bumi turun sekitar 0,5 derajat Celsius selama beberapa tahun.

US Geological Survey (USGS) juga mencatat bahwa erupsi besar Pinatubo menyebabkan pendinginan permukaan bumi secara global. Fenomena serupa menunjukkan bahwa gunung api memang dapat memengaruhi iklim, terutama setelah erupsi eksplosif yang mampu mengirim sulfur dioksida dalam jumlah besar ke stratosfer.

Indonesia juga punya contoh besar

Indonesia sendiri pernah mengalami salah satu erupsi yang dampaknya terhadap iklim sangat besar, yaitu erupsi Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat pada 1815.

USGS mencatat bahwa erupsi Tambora termasuk erupsi terbesar dalam sejarah yang tercatat. Material vulkanik yang masuk ke atmosfer menyebabkan suhu global turun secara signifikan. Tahun berikutnya, 1816, bahkan dikenal sebagai "Year Without a Summer" atau "tahun tanpa musim panas" karena sejumlah wilayah di belahan bumi utara mengalami kondisi yang jauh lebih dingin dari biasanya.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa efek erupsi gunung api tidak selalu berhenti di sekitar lokasi gunung. Jika erupsinya cukup besar, dampaknya dapat menyebar melalui atmosfer dan memengaruhi kondisi iklim di wilayah yang sangat jauh.

Baca juga: Apa yang terjadi di dalam gunung sebelum erupsi? Ini prosesnya

Lalu, apakah semua erupsi membuat bumi dingin?

Jawabannya tidak. Erupsi kecil yang hanya mengeluarkan abu dan gas dalam jumlah terbatas biasanya tidak memiliki pengaruh berarti terhadap suhu rata-rata bumi.

Kuncinya adalah seberapa banyak sulfur dioksida yang mencapai stratosfer. Semakin besar erupsi dan semakin tinggi gas tersebut masuk ke atmosfer, peluang terjadinya dampak iklim juga semakin besar.

Bahkan, gunung api juga mengeluarkan karbon dioksida (CO2), yang merupakan gas rumah kaca. Secara teori, CO2 vulkanik dapat memberikan efek pemanasan. Namun, untuk erupsi modern, efek pendinginan dari aerosol sulfat setelah erupsi besar biasanya jauh lebih terlihat dalam jangka pendek.

Ada satu hal penting yang juga perlu diluruskan.

Meskipun gunung api dapat memengaruhi suhu bumi, erupsi gunung api bukan penyebab utama pemanasan global yang terjadi saat ini.

Erupsi besar memang dapat menyebabkan pendinginan sementara selama beberapa bulan hingga beberapa tahun. Setelah aerosol vulkanik berkurang dan mengendap, efek pendinginan tersebut juga ikut melemah.

Dengan kata lain, pengaruh erupsi terhadap iklim lebih mirip "gangguan sementara" dibandingkan perubahan permanen terhadap suhu bumi.

Jadi, benarkah erupsi bisa memengaruhi suhu bumi?

Benar, tetapi terutama jika erupsinya sangat besar dan mampu memasukkan sulfur dioksida dalam jumlah besar ke stratosfer. Gas tersebut kemudian membentuk aerosol yang memantulkan sinar matahari sehingga bumi mengalami pendinginan sementara.

Baca juga: Basarnas: Belum ada tanda penemuan jurnalis di Pulau Sertung

Baca juga: Kenapa abu vulkanik bisa menyuburkan tanah? Ini penjelasannya

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |