Suasana Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumatera Utara, kembali diterjang banjir ke-17 kalinya sejak bencana besar 25 November 2025. Sungai Silagalaga meluap dan merendam permukiman warga, akibatnya masyarakat kembali trauma da(MI/Januari Hutabarat)
DERASNYA hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah sejak Sabtu (18/7) malam hingga Minggu (19/7) menyebabkan Sungai Aek Silaga Laga kembali meluap. Luapan sungai yang melintasi Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka, itu menggenangi permukiman warga di Desa Huta Nabolon dan sekitarnya.
Banjir kali ini kembali membangkitkan trauma mendalam masyarakat. Sejak bencana besar 25 November 2025 yang menewaskan ratusan orang dan menyebabkan kerusakan parah di kawasan tersebut, banjir yang terjadi kali ini merupakan yang ke-17. Bagi warga, setiap hujan deras bukan lagi sekadar perubahan cuaca, melainkan ancaman yang mengingatkan mereka pada tragedi yang merenggut banyak nyawa. Suara gemuruh air Sungai Aek Silaga Laga kini selalu disambut dengan rasa cemas dan ketakutan.
"Ini sudah banjir yang ke-17 sejak 25 November 2025. Kami berharap pemerintah benar-benar serius mencari solusi agar kejadian seperti ini tidak terus berulang," ujar Indra Perdana Pasaribu.
Menurut Indra, penanganan yang dilakukan selama ini masih bersifat sementara dan belum mampu mengatasi persoalan utama, yakni meluapnya Sungai Aek Silaga Laga saat hujan deras. Warga mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum, segera merealisasikan pembangunan tanggul permanen sebagai langkah mitigasi jangka panjang.
"Jangan tunggu sampai ada korban lagi. Kami hanya ingin hidup tenang tanpa rasa takut setiap kali hujan turun," katanya.
Senada dengan itu, Sahat Manalu, warga Kelurahan Huta Nabolon, mengaku banjir membuat masyarakat tidak berdaya karena kawasan permukiman nyaris terkepung air.
Kekhawatiran warga semakin bertambah ketika banjir membawa beberapa potong kayu gelondongan yang berpotensi menghantam rumah maupun jembatan.
"Kami sangat takut. Saat banjir datang, kami hanya bisa berjaga dan berharap air segera surut. Potongan kayu besar yang hanyut membuat situasi semakin mengkhawatirkan," ujarnya.
Warga menilai pemerintah belum menjadikan pembangunan tanggul permanen sebagai prioritas, padahal banjir terus berulang setiap musim hujan.
Mereka berharap pengalaman pahit tragedi 25 November 2025 menjadi pelajaran penting agar penanganan tidak lagi sebatas darurat, melainkan diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang permanen.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret sebelum bencana serupa kembali memakan korban.
Bagi warga Huta Nabolon, banjir yang terus berulang bukan lagi sekadar bencana alam, tetapi ancaman nyata yang setiap saat dapat kembali merenggut harta benda bahkan nyawa. (H-2)

















































