AZWI: Krisis Plastik Dampak Perang Iran Momentum Perkuat EPR

4 hours ago 3

PERANG Israel-AS dan Iran telah mengakibatkan distribusi energi dan bahan kimia terganggu sebab gangguan rantai pasok. Salah satu komoditi petrokimia yang terdampak akibat peperangan ini adalah plastik

Krisis kantong plastik ini membuat harga di pasaran melonjak tinggi, termasuk di Indonesia. Lonjakan harga tersebut sudah mulai terjadi sebelum Idul Fitri 2026 dengan rata-rata harga meningkat 30 persen. Kemudian, setelah Lebaran, kenaikan semakin tinggi menjadi 70 persen. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menilai persoalan yang terjadi saat ini merupakan krisis sistemik yang memukul seluruh rantai ekonomi, baik dari produsen hingga konsumen. Aliansi meinlai lonjakan harga yang terjadi memperlihatkan betapa rentannya sistem plastik berbasis bahan bakar fosil.

“Sekitar 40 persen produksi petrokimia digunakan untuk kemasan berkualitas rendah yang hanya dipakai sekali, lalu menjadi polusi di dalam negeri. Ini bukan fondasi ekonomi yang kuat,” kata Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia Tiza Mafira melalui keterangan tertulis yang dibagikannya pada Senin, 6 April 2026.

Menurut Tira, krisis plastik saat ini bisa diakali dengan mendorong penggantian plastik sekali pakai ke mekanisme guna ulang (re-use) untuk efisiensi. Kata dia, dengan metode guna ulang, kebutuhan akan produk sekali pakai bakal berkurang dan mampu menjangkau lebih banyak konsumen di masa krisis.

Selain itu, percepatan implementasi kebijakan nasional ihwal pengurangan sampah oleh produsen melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 juga menjadi kunci dalam merespons krisis kantong plastik di Tanah Air. Jauh sebelum adanya krisis ini, pemerintah telah mencanangkan untuk membatasi penggunaan plastik kresek sekali pakai yang biasanya banyak beredar di masyarakat. 

Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar, berpandangan yang sama. Kata dia, "Sekarang jadi momentum untuk kembali memprioritaskan pengurangan produksi plastik dari hulu dan membangun sistem guna ulang.” 

Ibar menambahkan, respons pasar terhadap lonjakan harga ini seharusnya bukanlah menunggu harga kembali normal, tapi menciptakan inovasi untuk menggantikan keberadaan kemasan sekali pakai yang menyumbang banyak dampak buruk terhadap lingkungan. “Sudah saatnya memperbaiki tata kelola daur ulang, memperkuat extended producer responsibility secara menyeluruh, dimulai dengan mengeliminasi kemasan-kemasan yang sulit didaur ulang,” ujarnya. 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |