Ilustrasi luar angkasa(Magnific)
UNTUK pertama kalinya, mesin sinar-X (X-ray) portabel berhasil digunakan di luar angkasa. Keberhasilan tersebut menjadi langkah penting dalam pengembangan layanan kesehatan bagi astronaut, terutama saat manusia mulai menjalankan misi jangka panjang ke Bulan hingga Mars.
Selama ini, astronaut umumnya hanya mengandalkan alat ultrasonografi (USG) untuk memeriksa kondisi tubuh ketika mengalami cedera di luar angkasa. Berbeda dengan USG yang membutuhkan medium agar gelombang suara dapat merambat, sinar-X dapat digunakan tanpa memerlukan medium sehingga tetap bisa berfungsi di lingkungan hampa udara.
Meski demikian, mesin sinar-X konvensional memiliki sejumlah kendala untuk dibawa ke antariksa. Perangkat tersebut umumnya berukuran besar, membutuhkan daya listrik tinggi, menghasilkan gambar yang kurang optimal apabila objek bergerak, serta rentan mengalami kerusakan akibat guncangan selama proses peluncuran maupun pendaratan.
Padahal, meningkatnya rencana eksplorasi manusia ke Bulan, termasuk pembangunan pangkalan permanen, membuat risiko cedera pada astronaut ikut meningkat. Kondisi itu mendorong perlunya perangkat diagnostik yang lebih ringkas, ringan, dan tetap mampu bekerja di lingkungan luar angkasa.
Saat ini, perkembangan teknologi telah memungkinkan hadirnya mesin sinar-X portabel yang jauh lebih kecil dibandingkan perangkat konvensional. Di Bumi, alat tersebut bahkan telah dimanfaatkan dalam berbagai situasi, mulai dari ajang olahraga hingga wilayah dengan fasilitas kesehatan yang terbatas.
Dokter sekaligus Asisten Profesor Kedokteran Dirgantara di Mayo Clinic, Sheyna Gifford mengatakan mesin sinar-X portabel telah digunakan secara luas karena praktis dan mudah dioperasikan. Dilansir dari Space, Sabtu (18/7)
"Mesin sinar-X portabel digunakan di berbagai tempat, mulai dari Kentucky Derby, di pinggir lapangan Super Bowl, hingga di berbagai wilayah dengan sumber daya kesehatan yang terbatas di seluruh dunia. Alat ini dapat beroperasi menggunakan tenaga surya dan bisa dijalankan oleh orang yang tidak memiliki keahlian medis," kata Gifford.
Gifford bersama timnya melakukan serangkaian pengujian. Percobaan awal dilakukan pada 2022 melalui penerbangan parabola yang mampu menciptakan kondisi gravitasi mikro seperti di antariksa.
Dalam simulasi tersebut, awak penerbangan berhasil menggunakan mesin sinar-X portabel untuk mengambil gambar tangan seseorang sebagai pembuktian awal bahwa perangkat itu dapat beroperasi dalam kondisi tanpa gravitasi.
Uji coba sebenarnya dilakukan pada 31 Maret 2025 melalui misi privat Fram2 yang membawa empat astronaut pemula mengorbit Bumi selama 3,5 hari menggunakan wahana SpaceX Crew Dragon.
Empat astronaut hanya menerima pelatihan selama empat jam mengenai cara mengoperasikan mesin sinar-X tersebut. Selama berada di orbit, mereka diminta mengambil gambar sinar-X sebuah jam tangan pintar, tangan, perut, panggul, hingga dada.
Seluruh hasil pemindaian direkam dalam format digital sehingga dapat langsung diperiksa tanpa perlu mencetak atau mencuci film seperti pada sistem sinar-X konvensional.
Setelah misi berakhir, tiga pakar medis secara independen membandingkan hasil sinar-X yang diambil di luar angkasa dengan gambar yang dibuat di Bumi sebelum peluncuran.
Hasilnya menunjukkan kualitas gambar yang dihasilkan di Bumi memang masih lebih baik. Namun, gambar yang diperoleh di orbit dinilai sudah cukup jelas untuk membantu dokter mendiagnosis berbagai cedera, termasuk patah tulang.
"Kami meyakini bahwa sistem portabel yang sudah tersedia secara komersial memiliki peluang besar untuk bertahan selama pengujian sebelum peluncuran dan tetap dapat digunakan di luar angkasa oleh awak yang hanya memiliki pelatihan minimal," ujar Gifford. (H-4)


















































