Ketegangan meningkat setelah pasukan Komando Sentral AS meluncurkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Iran atas perintah Presiden Donald Trump.(Centcom)
KETEGANGAN di kawasan Teluk kembali membara setelah Amerika Serikat meluncurkan gelombang serangan udara baru ke wilayah Iran. Pentagon mengonfirmasi operasi militer ini bertujuan menekan kemampuan militer Iran dalam mengganggu keamanan jalur maritim internasional.
Komando Sentral AS (CENTCOM) mengumumkan operasi tersebut melalui sebuah pernyataan resmi. Pihak militer menegaskan serangan ini diperintahkan langsung oleh Gedung Putih.
"Pada pukul 17.00 waktu setempat hari ini, pasukan Komando Sentral AS mulai meluncurkan lebih banyak serangan terhadap Iran untuk terus melemahkan kemampuan mereka dalam menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang transit dengan bebas di Selat Hormuz," tulis Komando Sentral AS dalam unggahan di platform X.
CENTCOM menambahkan Presiden Donald Trump "mengarahkan serangan tersebut untuk menuntut pertanggungjawaban pasukan Iran."
Lokasi yang Menjadi Target Serangan
Media resmi Iran melaporkan beberapa lokasi di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, menjadi sasaran serangan. Wilayah yang terkena dampak meliputi Pulau Qeshm, Bandar Abbas, dan Hajiabad. Meski media pemerintah Iran awalnya hanya menyebut pelaku sebagai "musuh", laporan di lapangan mengonfirmasi kerusakan di sejumlah fasilitas militer.
Kantor Berita Republik Islam (IRNA), mengutip gubernur Qeshm, Hossein Amir Teymouri, menyatakan bahwa sekitar 10 hingga 11 proyektil musuh telah menghantam Pulau Qeshm. Teymouri menegaskan seluruh lokasi yang terkena dampak merupakan target militer dan tidak ada korban jiwa di pulau tersebut.
Namun, dalam pembaruan terpisah, IRNA melaporkan seorang teknisi pemeliharaan dari Perusahaan Telekomunikasi Seluler Iran tewas saat bertugas di Pulau Farur, Kabupaten Bandar Lengeh. Dua rekan kerja teknisi tersebut juga dilaporkan terluka akibat serangan itu.
Dampak dan Serangan Balasan di Kawasan Teluk
Operasi militer ini diluncurkan setelah Iran mengklaim telah menyerang beberapa pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan mereka menggunakan drone terpandu untuk menargetkan aset militer AS, termasuk sistem pertahanan udara Patriot.
Dampak dari saling serang ini turut berimbas ke negara tetangga. Kementerian Pertahanan Kuwait melaporkan tiga pos perbatasan darat mereka di bagian utara mengalami kerusakan akibat serangan yang mereka sebut sebagai "serangan kriminal yang bermusuhan."
Selain itu, sebuah fasilitas pengeboran minyak lepas pantai milik Kuwait Oil Company juga dihantam drone terpandu, yang melukai satu orang pekerja. Pihak berwenang Kuwait kini telah menetapkan status siaga penuh pada angkatan bersenjata mereka untuk menjaga keamanan wilayah kedaulatannya. (CNN/Z-2)

















































