Selat Hormuz.( ANTARA/Anadolu)
AMERIKA Serikat (AS) mendesak Iran untuk mengakui bahwa Selat Hormuz tetap terbuka pada Sabtu (11/7) serta berjanji menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial. Laporan tersebut diungkapkan oleh media Axios dengan mengutip keterangan dari sejumlah pejabat tinggi AS.
Para pejabat tersebut mengatakan pesan diplomatik itu disampaikan secara langsung kepada pihak Iran maupun melalui perantara mediator regional di Timur Tengah.
Ketegangan bersenjata antara kedua negara kembali memuncak setelah pasukan militer AS melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah Iran pada Rabu (8/7) dini hari. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim langkah ofensif tersebut merupakan balasan atas tindakan agresif Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Merespons serangan Washington, pihak Iran melaporkan telah melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menyasar langsung pangkalan-pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Selain meluncurkan serangan balasan secara militer, Teheran juga menuduh Washington telah melanggar nota kesepahaman yang disepakati sebelumnya mengenai penghentian permusuhan.
Merespons tuduhan tersebut, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran sudah tidak lagi berlaku. Tak lama setelah pernyataan Trump pada Rabu malam, militer Amerika Serikat langsung melancarkan gelombang serangan udara berikutnya ke wilayah Iran.
Di sisi lain, isu pemulihan program nuklir Iran juga kembali mencuat ke permukaan. Reuters melaporkan pada Jumat (10/7), dengan mengutip pernyataan pejabat AS, bahwa kesepakatan baru mengenai program nuklir Iran akan memaksa Teheran untuk menyerahkan seluruh persediaan uranium yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi.
Jika Teheran menolak klausul tersebut, Amerika Serikat menegaskan memiliki opsi militer yang siap dieksekusi untuk memastikan persediaan uranium tersebut tetap terkubur di bawah tanah dan tidak disalahgunakan menjadi senjata pemusnah massal. (Sputnik/RIA Novosti/Ant/P-4)

















































