ilustrasi(Fox Sport)
Semifinal Piala Dunia 2026 menghadirkan laga klasik yang telah lama dinantikan. Inggris dan Argentina memastikan tempat di empat besar setelah sama-sama melewati laga dramatis pada babak perempat final, Minggu (12/7) pagi WIB.
Inggris lebih dulu mengamankan tiket usai bangkit menundukkan Norwegia 2-1 melalui babak tambahan di Stadion Miami. Jude Bellingham menjadi pahlawan the Three Lions lewat dua golnya, termasuk gol penentu kemenangan pada babak tambahan. Beberapa jam kemudian, juara bertahan Argentina menyusul setelah menaklukkan Swiss 3-1 juga lewat perpanjangan waktu di Stadion Kansas City.
Hasil itu memastikan semifinal panas berbalut rivalitas ikonis dalam sejarah Piala Dunia. Inggris dan Argentina akan berduel di semifinal yang digelar di Atlanta, Kamis (16/7) dini hari WIB. Yang lolos akan menghadapi pemenang laga Prancis kontra Spanyol di partai final.
Tuchel merasa Inggris beruntung
Meski lolos, kemenangan Inggris jauh dari kata meyakinkan. Skuad asuhan Thomas Tuchel sempat tertinggal lebih dulu akibat gol Andreas Schjelderup pada menit ke-36. The Three Lions kemudian menyamakan kedudukan lewat Bellingham menjelang turun minum. Gol tersebut sempat memicu kontroversi karena bola hasil tendangan gawang Norwegia diduga mengenai kabel kamera yang membentang di atas lapangan sebelum lahirnya proses serangan Inggris. Protes pemain Norwegia tak mengubah keputusan wasit yang tetap mengesahkan gol tersebut.
Norwegia juga sempat mencetak gol kedua pada babak kedua tetapi dianulir setelah tinjauan VAR. Inggris akhirnya memastikan kemenangan ketika Bellingham memanfaatkan bola muntah hasil tembakan Morgan Rogers yang gagal diamankan kiper Orjan Nyland.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel mengaku timnya beruntung bisa lolos ke semifinal. Dia menilai performa anak asuhnya masih jauh dari memuaskan.
"Kami membuat pertandingan menjadi sangat sulit untuk diri sendiri. Hasilnya memang luar biasa karena bisa mencapai semifinal, tetapi saya tidak puas dengan penampilan tim. Kami sangat beruntung hari ini," ucap Tuchel.
Di kubu lawan, pelatih Norwegia Stale Solbakken menerima hasil tersebut meski menyayangkan insiden yang mengawali gol penyama kedudukan Inggris.
"Bola itu berubah arah dan jatuh lurus dari atas. Itu memang merugikan kami, tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Pertandingannya juga tidak mungkin diulang," katanya.
Scaloni sebut Argentina menderita
Sementara itu, Argentina juga dipaksa bekerja keras menghadapi Swis. Tim asuhan Lionel Scaloni unggul cepat lewat sundulan Alexis Mac Allister pada menit ke-10 memanfaatkan sepak pojok Lionel Messi.
Swis bangkit pada babak kedua melalui gol Dan Ndoye yang menyamakan skor menjadi 1-1. Momentum sempat berpihak kepada wakil Eropa tersebut sebelum Breel Embolo diusir wasit usai menerima kartu kuning kedua setelah tinjauan VAR.
Unggul jumlah pemain belum membuat Argentina mudah mencetak gol. Kebuntuan baru pecah pada menit ke-112 ketika Julian Alvarez melepaskan tembakan melengkung ke pojok atas gawang Swis. Lautaro Martínez kemudian memastikan kemenangan lewat serangan balik menjelang laga usai. Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengakui anak asuhnya harus berjuang habis-habisan menghadapi permainan fisik Swis.
"Kami benar-benar harus menderita. Mereka tim yang sangat kuat secara fisik dan membuat kami kesulitan menemukan solusi. Hari ini keberuntungan juga berpihak kepada kami setelah mereka kehilangan satu pemain," ucap Scaloni.
Kemenangan tersebut membawa Argentina selangkah lebih dekat untuk mempertahankan gelar juara dunia. Namun, sebelum memikirkan partai final, Lionel Messi dan kolega lebih dulu harus melewati hadangan Inggris.
(AFP/E-3)

















































