Anggota DPR AS Ro Khanna menuduh militer Israel berbohong terkait insiden penahanan dirinya oleh pemukim bersenjata dan tentara IDF di Tepi Barat.(X/@Rokhanna)
ANGGOTA Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Ro Khanna, menuduh pemerintah dan militer Israel telah berbohong terkait insiden penahanan dirinya oleh kelompok pemukim bersenjata dan tentara Israel di Tepi Barat.
Khanna sebelumnya mengunggah bukti video di media sosial yang menunjukkan iring-iringan kendaraannya diadang di perbukitan Hebron Selatan, dekat desa Zanuta. Dalam wawancara di program Meet the Press NBC News pada hari Minggu, Khanna langsung membantah klaim Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang menyebut tentaranya telah "membubarkan dengan cepat" para warga sipil Israel dan membuka blokade jalan.
"IDF berbohong," tegas Khanna. "Apa yang terjadi adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka membiarkan pemukim dengan kekerasan menahan warga negara Amerika, termasuk pejabat pemerintah Amerika. Pemukim-pemukim ini mengacungkan senapan M4, menendang ban van kami, menertawakan kami, mengejek kami, dan merekam kami."
"Kami ditahan selama sekitar 20 minutes, ketakutan akan nyawa kami. Kemudian IDF datang, empat tentara. Mereka memberi tahu penerjemah kami bahwa mereka berada di pihak pemukim. Mereka menahan kami lebih lanjut dan memblokade kami."
Khanna juga menepis pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut para pengadang tersebut hanya kelompok kecil "kenakalan remaja". Khanna mendesak Netanyahu melakukan investigasi terhadap para pemukim kekerasan serta empat tentara IDF yang terlibat.
Tudingan Bermotif Politik
Menanggapi insiden tersebut, pejabat Israel mengeklaim bahwa Khanna menolak agenda yang ditawarkan pemerintah Israel, termasuk pertemuan dengan mantan sandera di Gaza. Pihak Israel menuduh Khanna datang hanya demi mencari berita utama di media.
Duta Besar Israel untuk AS, Michael Leiter, bahkan menuduh kunjungan Khanna ke Tepi Barat merupakan aksi politik untuk mengalihkan perhatian dari isu domestik di AS serta mempromosikan dirinya untuk pencalonan presiden tahun 2028. Leiter menyayangkan keputusan Khanna yang lebih memilih bekerja sama dengan organisasi hak asasi manusia Breaking the Silence.
Kesaksian Khanna didukung penuh oleh Nadav Weiman, Direktur Breaking the Silence yang mendampingi delegasi tersebut di lapangan.
"Pemukim bersenjata adalah yang pertama tiba, dan kemudian, seperti yang telah menjadi norma, tentara Israel bergabung dengan mereka," tulis Weiman di media sosial. "Bersama-sama mereka menahan delegasi tersebut selama lebih dari satu jam. IDF berbohong dan ini bukan yang pertama kalinya."
"Saya pergi berbicara dengan para tentara untuk meminta mereka menggunakan wewenang mereka guna mengusir para pemukim yang telah mengancam kami dan memblokade jalan. Sebaliknya, [saya] melihat bagaimana para pemukim yang memberikan perintah, bukan sebaliknya." (The Guardian/Z-2)

















































