Ancaman Miopia pada Anak: Pentingnya Deteksi Dini dan Manajemen Progresivitas

1 week ago 11
 Pentingnya Deteksi Dini dan Manajemen Progresivitas Ilustrasi(magnific)

MIOPIA atau rabun jauh pada anak kini tidak lagi dipandang sekadar gangguan refraksi yang cukup dikoreksi dengan kacamata biasa. Para dokter mata memperingatkan bahwa kondisi ini telah berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius karena berpotensi menimbulkan gangguan penglihatan permanen jika tidak ditangani sejak dini.

Pesan tersebut mengemuka dalam Indonesia Meet The Expert 2026 (Myopia Summit 2026) yang diselenggarakan EssilorLuxottica Indonesia bersama Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Jakarta di Jakarta, Minggu (12/7). Forum ini membahas pentingnya standarisasi manajemen miopia berdasarkan bukti ilmiah terbaru.

Deteksi Sejak Fase Pre-Myopia

Ketua Perdami Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, mengungkapkan tren mengkhawatirkan ketika semakin banyak anak berusia di bawah tujuh tahun yang datang dengan kondisi miopia. Ia menekankan bahwa semakin muda usia awal munculnya miopia, semakin cepat pula progresivitasnya.

MI/HO--Indonesia Meet The Expert 2026 (Myopia Summit 2026)

Menurut dr. Julie, intervensi idealnya dilakukan sejak fase pre-myopia. Secara alami, bayi lahir dengan kondisi hipermetrop (rabun dekat ringan) yang akan normal seiring pertumbuhan bola mata (emetropisasi). Namun, jika proses ini terjadi terlalu cepat, anak berisiko masuk ke fase miopia progresif.

Parameter Fase Pre-Myopia:
Kondisi ketika ukuran refraksi mata berada di atas minus 0,50 hingga di bawah plus 0,75 dioptri.

Gaya Hidup dan Faktor Pemicu

Selain faktor genetik dan keturunan Asia, gaya hidup modern menjadi pemicu utama ledakan kasus miopia. Penggunaan gawai dalam durasi lama, aktivitas membaca jarak dekat (near work) yang berlebihan, serta kurangnya aktivitas luar ruangan menjadi sorotan utama para pakar.

Paparan sinar matahari diketahui merangsang produksi dopamin yang berfungsi menghambat pertumbuhan bola mata. Sebaliknya, kebiasaan tidur larut malam dan minimnya waktu bermain di luar rumah akibat jadwal sekolah yang padat mengganggu mekanisme alami ini, sehingga memicu pemanjangan sumbu bola mata (axial length).

Risiko Komplikasi Permanen

Membiarkan miopia berkembang tanpa kendali dapat menyebabkan high myopia hingga pathologic myopia. Berikut adalah beberapa risiko komplikasi yang dapat terjadi:

Jenis Komplikasi Dampak pada Penglihatan
Myopic Maculopathy & Foveoschisis Kerusakan pada pusat penglihatan (makula).
Posterior Staphyloma Penipisan dan penonjolan dinding bola mata.
Neuropati Optik Gangguan pada saraf optik yang memicu kebutaan.
Macular Hole Terbentuknya lubang pada makula.

Inovasi Lensa Pengendali Miopia

Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz, menyatakan bahwa manajemen miopia kini bergeser dari sekadar koreksi menjadi pengendalian. Salah satu inovasi yang dipaparkan adalah lensa Essilor® Stellest® dengan teknologi Highly Aspherical Lenslet Target (H.A.L.T.).

Lensa ini menggunakan 1.021 lenslet untuk menciptakan sinyal optik yang menghambat pertumbuhan bola mata. Berdasarkan studi klinis selama tujuh tahun, teknologi ini menunjukkan hasil yang signifikan dalam memperlambat laju miopia pada anak dan remaja hingga usia 19 tahun.

Indikator Keberhasilan (Studi 7 Tahun) Hasil Capaian
Perlambatan Perkembangan Miopia Hingga 2,30 Dioptri
Hambatan Pemanjangan Sumbu Aksial 0,92 Milimeter

Konferensi ini juga menghadirkan perspektif internasional dari Dr. Loh Kai Lyn (Singapura) serta pakar nasional seperti Dr. dr. Tri Rahayu, Sp.M(K) dan dr. Devina Nur Annisa, Sp.M(K). Kolaborasi antara akademisi, organisasi profesi, dan industri ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran orang tua di Indonesia untuk melakukan pemeriksaan mata rutin sejak dini demi menjaga kualitas penglihatan generasi mendatang. (Z-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |