Akar Tawas Ut dari Kalimantan Potensial Obati Diabetes

8 hours ago 1

TANAMAN liar endemik Kalimantan Ampelocissus Rubiginosa Lauterb atau yang lebih dikenal masyarakat suku Dayak dengan nama lokal "Tawas Ut" atau “Panamar Peri” memiliki potensi anti-diabetes. Tim peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Jember menemukan bahwa ekstrak etanol akar tanaman tersebut mampu menghambat enzim pemecah gula dalam darah dengan efektivitas lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan Acarbose, obat antidiabetes standar yang umum digunakan. 

Penelitian yang berkolaborasi dengan BRIN, James Cook University Australia, dan University of Wollongong Australia ini telah mempublikasikan temuannya itu dalam jurnal internasional Journal of Biologically Active Products pada Desember 2025. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dalam keterangan yang dibagikannya, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Jember, Ari Satia Nugraha, menjelaskan bahwa riset tim itu didorong oleh masalah diabetes yang semakin berat di Indonesia. Sebanyak 19,5 juta penduduk tercatat menderita penyakit ini yang menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia, dengan pengeluaran negara mencapai Rp 95 triliun hanya untuk biaya pengobatan.

Di sisi lain, sekitar 90 persen bahan baku obat-obatan di Indonesia masih bergantung pada impor. Kondisi ini membuat harga obat kerap menjadi hambatan bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan pengobatan jangka panjang.

Diabetes, Ari menerangkan, termasuk penyakit kronis dan pengobatannya membutuhkan jangka panjang. "Trennya kini sudah menjangkiti usia produktif, bahkan usia 30 tahun. Sementara kita punya 6.000 spesies tanaman obat yang belum sepenuhnya dieksplorasi,” tuturnya dalam keterangan itu yang dikutip pada Rabu, 3 Juni 2026. 

Perhatian tim tertuju pada Tawas Ut, tanaman merambat yang tumbuh liar di hutan Kalimantan. Masyarakat Dayak telah sejak lama memanfaatkannya untuk menyembuhkan luka dalam maupun luar. Namun, kandungan antidiabetesnya belum pernah diteliti.

Tawas Ut memiliki tampilan yang tidak biasa. Bentuk akarnya menyerupai ketela, tetapi ketika kering, teksturnya sekeras kayu jati sehingga harus segera diproses saat masih basah. Sampel pertama diperoleh tim dari Kalimantan pada 2015, dan selama hampir satu dekade dilakukan serangkaian tahapan mulai dari isolasi senyawa aktif, uji laboratorium (in vitro), hingga uji pada hewan percobaan (in vivo).

"Saya sudah meneliti tanaman obat hampir 20 tahun, Ekstrak tanaman ini termasuk unik, serta memiliki kandungan polifenol yang sangat tinggi,” tutur Ari. Setelah uji laboratorium menunjukkan hasil yang menonjol, tim memutuskan melanjutkan penelitian hingga tahap uji hewan yang selesai dilaksanakan pada 2024. 

Secara sederhana, tanaman ini bekerja dengan cara menghambat enzim pemecah karbohidrat menjadi gula di dalam usus. Dampaknya, jumlah gula yang masuk ke aliran darah pun berkurang. 

Enzim yang dihambat bernama 'alfa-glukosidase'. Ibarat pintu gerbang yang mengatur lalu lintas gula, ekstrak tanaman ini “mengunci” pintu tersebut agar lonjakan gula setelah makan tidak terlalu tinggi. Mekanisme serupa juga digunakan oleh Acarbose, obat antidiabetes yang telah lama digunakan secara klinis. 

Pada uji laboratorium, ekstrak akar Tawas Ut bahkan terbukti jauh lebih efisien dalam menghambat enzim pemecah karbohidrat dibandingkan Acarbose. Untuk menghasilkan efek yang sama, Tawas Ut hanya membutuhkan dosis hampir lima kali lebih kecil. "Semakin kecil dosis yang diperlukan untuk menghasilkan efek tertentu, semakin kuat aktivitas suatu zat aktif," kata Ari.

Keampuhan ini kemudian diuji secara langsung pada tikus yang telah diinduksi diabetes. Hasilnya, dalam 14 hari pengobatan, kadar gula darah tikus turun hingga 57 persen, lebih tinggi dibandingkan Glibenklamid, obat diabetes lain yang juga umum diresepkan dokter, yang hanya mencapai penurunan sekitar 44 persen.

Ekstrak ini juga membantu menurunkan kadar lemak darah, dengan penurunan trigliserida hampir 40 persen dan kolesterol sekitar 28 persen. Temuan ini dianggap penting karena penderita diabetes kerap mengalami gangguan metabolik lain secara bersamaan, termasuk tingginya kadar lemak dalam darah. 

Pemeriksaan tambahan pada jaringan hati tikus juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kerusakan sel hati pada kelompok yang diberi ekstrak Tawas Ut jauh lebih ringan dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapat pengobatan. 

Meski demikian, seluruh hasil penelitian ini masih berasal dari uji laboratorium dan uji pada hewan percobaan. Sebelum Tawas Ut dapat digunakan secara luas pada manusia, masih diperlukan serangkaian uji klinis lebih lanjut.

“Kami sudah menyaring puluhan tanaman dari Indonesia, dan tidak ada yang seefektif ini," kata Ari sambil menambahkan, "Uji in vitro-nya bagus, lebih baik daripada senyawa standar. Ini mendukung apa yang telah diketahui masyarakat Dayak selama berabad-abad bahwa tanaman ini memang berkhasiat.” 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |