Ahmad Tohari: Menulis Layaknya Berzikir bagi Saya, Harus Khusyuk

1 week ago 8
 Menulis Layaknya Berzikir bagi Saya, Harus Khusyuk SASTRAWAN Indonesia, Ahmad Tohari.(Dok. MI/Lilik Dharmawan)

BUDAYAWAN sekaligus sastrawan nasional Ahmad Tohari mengajak generasi muda, khususnya para pelajar, untuk memperkuat budaya literasi melalui kebiasaan membaca dan menulis. Menurutnya, aktivitas tersebut merupakan sarana vital untuk pengembangan diri sekaligus menjadi indikator kemajuan suatu bangsa.

"Menulis merupakan aktivitas strategis sebagai sarana dalam rangka mengembangkan diri yang utama. Orang yang menulis biasanya kepandaiannya di atas rata-rata. Karenanya, maju tidaknya suatu bangsa ditentukan oleh literasi masyarakatnya," ujar Ahmad Tohari di SMAN 1 Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (16/7).

Kehadiran penulis novel legendaris Ronggeng Dukuh Paruk tersebut dalam rangka kegiatan "Meet and Greet Budayawan Nasional Ahmad Tohari" sekaligus memperingati HUT ke-29 SMAN 1 Sigaluh. Dalam dialog tersebut, pria yang akrab disapa Kang Tohari ini mengungkapkan bahwa ia memaknai aktivitas menulis sebagai bentuk ibadah.

"Kalau saya, menulis saya anggap cara berdzikir saya, maka saya khusyuk setiap kali menulis. Awal menulis, mencontek dahulu tidak apa-apa karena kita pasti membutuhkan inspirasi dari bahan bacaan penulis-penulis terdahulu," tuturnya di hadapan ratusan siswa.

Ia juga memotivasi para siswa agar tidak takut memulai karya. Kang Tohari menceritakan pengalamannya sendiri yang harus melalui proses panjang sebelum karyanya diakui secara nasional. "Baru pada tulisan kelima, tulisan saya dimuat Kompas," ungkapnya, menekankan pentingnya ketekunan dan banyak membaca karya bermutu sebagai fondasi menulis.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya penguasaan "Tri Gatra Bahasa", yakni bahasa Indonesia, bahasa ibu (daerah), dan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Menurutnya, karya tulis yang berkualitas dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas Indonesia kepada dunia internasional.

Program Satu Kelas Satu Buku

Kepala SMAN 1 Sigaluh, Linovia, menyatakan kehadiran Ahmad Tohari menjadi momentum istimewa karena bertepatan dengan peluncuran Program Satu Kelas Satu Buku (SKSB). Program unggulan ini berhasil menghasilkan 24 buku karya siswa dari setiap kelas, serta satu buku karya kolaborasi guru dan tenaga kependidikan.

"Semoga ini menjadi langkah awal yang baik untuk menumbuhkan semangat literasi di kalangan murid dan guru. Ke depan kami akan terus mengembangkan kegiatan literasi seperti ini," kata Linovia.

Apresiasi juga datang dari Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Banjarnegara, Arief Rachman. Ia berharap 25 buku karya warga sekolah tersebut dapat menjadi koleksi Perpustakaan Daerah (Perpusda) Banjarnegara agar bisa diakses oleh masyarakat luas. (Ant/H-3)

"Kami berharap 25 karya buku nantinya bisa dikirim ke Perpusda Banjarnegara untuk dipajang bersama buku-buku lain karya penulis lokal. Program SKSB ini merupakan inisiatif yang sangat baik dari SMAN 1 Sigaluh," pungkas Arief. (Ant/H-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |