INFO TEMPO — Rehabilitasi fasilitas pendidikan yang rusak akibat banjir bandang dan longsor di tiga provinsi Sumatra pada November 2025 terus berlangsung, meski sebagian sekolah saat ini masih belajar di tenda dan ruang darurat.
Hal ini diakui Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian. “Masih ada beberapa yang menggunakan tenda, terutama di daerah zona merah," ujarnya usai rapat bersama DPR, senin, 25 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kendati masih terdapat kendala di sejumlah titik, Tito memastikan mayoritas sekolah sudah kembali beroperasi di gedung masing-masing setelah dilakukan perbaikan. "Mayoritas sudah kembali di sekolah masing-masing. Dari 4.922 sekolah, seingat saya hampir 3.800 sudah kembali digunakan dan telah diperbaiki," ujarnya.
Pernyataan ini dipertegas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui rilis pada 29 Mei 2026. Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan revitalisasi sekolah terus berproses dan bertahap.
Pada fase awal, fokus diarahkan pada penyediaan ruang kelas darurat, distribusi perlengkapan sekolah, hingga dukungan psikososial bagi siswa terdampak. Selanjutnya, pemulihan masuk ke tahap rehabilitasi dan revitalisasi fasilitas pendidikan yang rusak.
Proses belajar dilakukan dengan skema fleksibel menyesuaikan kondisi tiap daerah, mulai dari penggunaan ruang kelas sementara atau tenda darurat, belajar bergantian, hingga menumpang di sekolah lain yang tidak terdampak.
Terkait rehabilitasi bangunan, sebanyak 3.101 sekolah telah melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) revitalisasi dengan total nilai bantuan mencapai Rp 2,9 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.033 sekolah telah menerima penyaluran bantuan tahap pertama sebesar 70 persen dengan total nilai sekitar Rp 2 triliun. Sementara itu, 68 sekolah lainnya masih dalam proses penyaluran bantuan senilai Rp 31,7 miliar.
Adapun menyambut tahun ajaran baru 2026/2027 pada Juli mendatang, Kemendikdasmen menargetkan 311 sekolah selesai direvitalisasi 100 persen sebelum bulan tersebut. Percepatan ini terus dilakukan agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lebih normal pada semester baru mendatang.
Kendati begitu, sebanyak 66 sekolah harus direlokasi karena berada di zona rawan bencana. Proses belajar mengajar masih berlangsung di bawah tenda. Contohnya SD Negeri 10 Linge di Kabupaten Aceh Tengah.
“Sekolah ini masuk zona merah sehingga harus direlokasi guna menjamin keselamatan siswa maupun guru yang mengajar,” kata Ketua Tim Satgas PRR Aceh Kemendagri, Imran, seperti dikutip Antara, 30 Mei 2026.
Ia mendesak Pemkab Aceh Tengah segera mengirim proposal kepada Kemendikdasmen sehingga lekas ditangani. “Tembuskan juga kepada Ketua Satgas PRR sehingga pembangunan sekolah barunya bisa dipercepat,” ucap Imran.
Pemulihan pendidikan memang bukan sekadar membangun ulang ruang kelas yang rusak, namun memastikan aspek keselamatan jadi poin utama agar proses belajar tidak kembali terganggu apabila terjadi bencana susulan. “Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama, namun hak anak untuk tetap belajar tidak boleh terhenti,” kata Abdul Mu’ti. (*)














































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)


