Ilustrasi(Magnific)
KASUS infeksi menular seksual (IMS) di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian karena tidak hanya menyerang kelompok usia dewasa. Sudah semakin banyak ditemukan pada usia muda yang telah aktif secara seksual.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, sepanjang 2024 tercatat sebanyak 23.347 kasus sifilis. Dari jumlah tersebut, 19.904 merupakan sifilis dini atau infeksi yang masih berada pada tahap awal. Selain itu, terdapat 77 kasus sifilis kongenital, yaitu infeksi yang ditularkan dari ibu kepada bayi selama masa kehamilan.
Kasus gonore juga masih tergolong tinggi dengan total 10.506 kasus. DKI Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah kasus terbanyak.
Sementara itu, beban kasus HIV di Indonesia juga masih cukup besar. Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia dalam jumlah orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) dan peringkat ke-9 untuk infeksi baru HIV. Pada 2025, jumlah ODHIV diperkirakan mencapai sekitar 564.000 orang.
Namun, baru sekitar 63% yang mengetahui status HIV mereka. Dari jumlah tersebut, sekitar 67% telah menjalani terapi antiretroviral (ARV), sedangkan hanya 55% yang berhasil mencapai viral load tersupresi, yakni kondisi ketika jumlah virus berada pada tingkat yang tidak terdeteksi sehingga risiko penularannya menjadi sangat rendah.
Melihat kondisi tersebut, upaya pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan penyebaran IMS di masyarakat.
Apa Itu Infeksi Menular Seksual?
Infeksi menular seksual merupakan penyakit yang disebabkan bakteri, virus, maupun parasit yang umumnya ditularkan melalui aktivitas seksual. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi.
Beberapa jenis IMS yang paling sering ditemukan antara lain sifilis, gonore, klamidia, hepatitis B, hepatitis C, HIV, hingga infeksi human papillomavirus (HPV). Selain berdampak pada kesehatan organ reproduksi, penyakit ini juga dapat memicu komplikasi serius apabila tidak ditangani, seperti gangguan kesuburan, kerusakan organ, hingga meningkatkan risiko beberapa jenis kanker.
7 Cara Mencegah Infeksi Menular Seksual
Mengutip informasi dari Siloam Hospitals, terdapat sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko tertular infeksi menular seksual.
1. Gunakan Kondom saat Berhubungan Seksual
Penggunaan kondom secara benar dan konsisten menjadi salah satu cara paling efektif untuk membantu menurunkan risiko penularan IMS. Selain itu, menjaga kebersihan organ intim serta tidak berbagi handuk maupun pakaian dalam juga dapat membantu menjaga kesehatan area genital.
2. Tidak Berganti-ganti Pasangan Seksual
Memiliki satu pasangan seksual yang saling setia dapat mengurangi risiko penularan infeksi. Jika diperlukan, pasangan juga dianjurkan menjalani pemeriksaan IMS dan bersikap terbuka mengenai hasilnya. Apabila salah satu terdiagnosis IMS, keduanya sebaiknya menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter agar tidak terjadi infeksi berulang.
3. Sunat pada Pria
Sunat diketahui dapat membantu menurunkan risiko beberapa jenis infeksi menular seksual, termasuk HIV, herpes genital, dan HPV. Tindakan ini mengurangi area lembap di bawah kulup yang dapat menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme penyebab infeksi.
4. Hindari Seks Bebas
Melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan meningkatkan risiko tertular berbagai IMS, terutama jika dilakukan tanpa menggunakan kondom. Karena itu, menghindari perilaku seksual berisiko menjadi salah satu langkah pencegahan yang penting.
5. Hindari Hubungan Seksual dengan Pasangan yang Sedang Terinfeksi
Apabila pasangan diketahui mengidap IMS, sebaiknya tunda hubungan seksual hingga pengobatan selesai dan dokter menyatakan kondisi tersebut aman. Langkah ini dapat mencegah penularan maupun infeksi berulang.
6. Batasi Konsumsi Minuman Beralkohol
Konsumsi alkohol secara berlebihan dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan sehingga meningkatkan kemungkinan melakukan hubungan seksual yang tidak aman. Oleh karena itu, membatasi konsumsi alkohol juga menjadi bagian dari upaya pencegahan IMS.
7. Lengkapi Vaksinasi
Vaksinasi hepatitis B dan HPV merupakan langkah pencegahan yang tidak kalah penting. Vaksin hepatitis B dianjurkan diberikan sejak bayi, sedangkan vaksin HPV paling efektif diberikan sebelum seseorang terpapar virus, yaitu mulai usia 9 tahun hingga sekitar 26 tahun sesuai rekomendasi.
Bagi perempuan berusia di atas 26 tahun yang belum pernah menerima vaksin HPV, skrining rutin seperti Pap smear dan tes HPV tetap dianjurkan sebagai upaya deteksi dini kanker serviks.
Peningkatan kasus infeksi menular seksual menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan masih perlu terus ditingkatkan. Selain menerapkan perilaku seksual yang aman, pemeriksaan kesehatan secara berkala juga penting dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.
Dengan mengenali cara penularan, melakukan deteksi sejak dini, serta menerapkan berbagai langkah pencegahan, risiko penyebaran infeksi menular seksual dapat ditekan sehingga kesehatan diri sendiri maupun pasangan tetap terjaga. (Kemenkes/Siloam Hospital/Z-2)

















































