Sejumlah anak yang diduga menjadi korban keracunan MBG dirawat di bangsal anak RSUD Lubuk Basung, Agam, Sumatera Barat, Kamis (2/10/2025)( ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau para orang tua untuk tidak menunda membawa anak ke fasilitas kesehatan (faskes) saat mencurigai terjadinya keracunan makanan. IDAI menegaskan bahwa keterlambatan penanganan medis jauh lebih berbahaya dibandingkan jenis kuman penyebab keracunan itu sendiri.
Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, DR. Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K), mengingatkan orang tua agar tidak membuang waktu dengan menunggu reaksi ramuan tradisional atau penawar racun buatan sendiri.
"Jangan menunda ke fasilitas kesehatan karena menunggu ramuan penawar racun bekerja. Keterlambatan datang ke fasilitas kesehatan lebih berbahaya daripada jenis kuman penyebab," kata Dr. Yogi dalam diskusi media di Jakarta, Jumat (11/9).
Gejala Umum Keracunan Makanan
Dr. Yogi memaparkan, gejala keracunan yang paling lazim ditemui meliputi mual, muntah, nyeri perut, serta buang air besar (BAB) cair atau berdarah. Namun, terdapat pula gejala tidak khas yang wajib diwaspadai seperti demam, pusing, pandangan kabur, kelemahan anggota gerak, dan kesemutan.
Sebagian besar anak yang mengalami keracunan akan menunjukkan tanda dehidrasi, seperti mulut kering, kehausan terus-menerus, urine berwarna pekat, jarang berkemih, hingga lemas.
IDAI secara khusus menyoroti tiga tanda bahaya utama yang tidak boleh diabaikan orangtua:
- Diare Berdarah (E. coli Toksin Shiga): Diare berdarah dengan atau tanpa demam sangat berbahaya pada hari ke-5 hingga ke-10 karena dapat memicu anemia, penurunan trombosit, dan gangguan ginjal akut.
- Botulisme pada Bayi: Ditandai dengan urutan khas berupa sembelit baru, isapan ASI melemah, perubahan suara tangisan, kelopak mata menurun (ptosis), hingga kelemahan otot tubuh dari atas ke bawah.
- Infeksi Listeria dan Cyclospora: Listeria mengancam bayi baru lahir dan anak dengan daya tahan tubuh rendah, sementara Cyclospora memicu diare cair berkepanjangan hingga berpekan-pekan.
Empat Petunjuk Kapan Harus Mencurigai Keracunan
Dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut menjelaskan empat indikator utama bagi orangtua untuk mengenali indikasi keracunan makanan:
- Penyakit Muncul Berkelompok: Gejala sakit dialami secara bersamaan oleh orang-orang yang mengonsumsi makanan, minuman, atau berada di tempat yang sama. Ini merupakan petunjuk tunggal paling kuat.
- Paparan Makanan Risiko Tinggi: Konsumsi daging atau unggas kurang matang, susu tanpa pasteurisasi, makanan laut mentah, air sumur/banjir, susu formula bubuk, atau pemberian madu pada bayi di bawah 12 bulan.
- Riwayat Perjalanan dan Pola Musiman: Riwayat bepergian ke daerah dengan jaminan sanitasi rendah atau keberadaan patogen musiman.
- Selang Waktu Inkubasi yang Cocok: Jarak waktu antara jam makan dan munculnya gejala sesuai dengan masa inkubasi patogen.
Kondisi Darurat yang Wajib Segera Dirujuk
IDAI meminta orang tua segera membawa anak ke rumah sakit apabila menemukan kondisi darurat seperti muntah terus-menerus, BAB berdarah, diare lebih dari tiga hari, demam tinggi, anak sulit dibangunkan atau bingung, kejang, dehidrasi berat, serta kelemahan anggota gerak.
Kewaspadaan ekstra dan rujukan langsung juga berlaku wajib bagi bayi berusia di bawah tiga bulan yang mengalami demam. (Ant/P-4)
















































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9300188/original/036780100_1784309060-16__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8226516/original/031332300_1781086646-timnas_1.jpg)