Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).(ANTARA/Freepik)
KEMAJUAN teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membawa banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, perkembangan yang sama juga dimanfaatkan untuk melancarkan berbagai bentuk kejahatan digital, mulai dari penyebaran hoaks, pembuatan video deepfake, hingga penipuan siber yang semakin sulit dikenali.
Kondisi tersebut membuat literasi digital menjadi bekal penting agar masyarakat mampu memanfaatkan AI secara bijak sekaligus terhindar dari berbagai ancaman di ruang digital. Pentingnya edukasi tersebut menjadi sorotan dalam program literasi digital bertajuk Cek Sebelum Cekcok yang diselenggarakan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina bekerja sama dengan PT Pintu Kemana Saja (PINTU). Kegiatan tersebut diikuti ratusan warga Kota Bekasi.
Chief Marketing Officer (CMO) PINTU, Timothius Martin, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan literasi digital masyarakat agar lebih siap menghadapi berbagai risiko di era teknologi.
“Kolaborasi PINTU dengan Universitas Paramadina merupakan bentuk komitmen serta tanggung jawab PINTU akan pentingnya literasi digital guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi ancaman siber,” ujarnya dalam keterangan resmim
Sementara, anggota DPRD Kota Bekasi, Chairun Nisa, mengatakan kebutuhan akan literasi digital semakin penting mengingat tingginya penggunaan internet di masyarakat.
Pihaknya mencatat Kota Bekasi memiliki sekitar 2,8 juta penduduk, dengan sekitar 2,2 juta di antaranya merupakan pengguna internet. Di sisi lain, masyarakat kini menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial sehingga semakin rentan terhadap berbagai modus penipuan maupun manipulasi informasi.
“Kita wajib menjadi bagian dari sumber daya manusia Kota Bekasi yang cerdas digital. Karena kita tahu hampir setiap orang saat ini menghabiskan waktunya berlama-lama di media sosial, maka dari itu perlu melindungi kita semua dari praktik penipuan digital,” katanya.
Dalam kesempatan sama, Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Dr. Rini Sudarmanti, mengingatkan masyarakat agar lebih kritis ketika menerima informasi di media sosial. Menurutnya, kemajuan AI membuat konten manipulatif menjadi semakin meyakinkan sehingga tidak mudah dibedakan dengan informasi asli.
Ia menjelaskan beberapa ciri informasi yang patut diwaspadai, seperti judul yang berlebihan, foto atau video hasil rekayasa AI, narasumber yang tidak jelas, hingga narasi bombastis yang mendorong masyarakat segera menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi.
“Kita harus curiga jika ada judul yang lebay, foto atau video hasil rekayasa AI, serta ‘sumber hantu’ yang tidak jelas nama ahlinya. Waspadai juga narasi bombastis yang memaksa untuk menyebarkan berita demi memicu kepanikan,” ujarnya.
Rini mengimbau masyarakat untuk tidak menebak-nebak kebenaran suatu informasi, melainkan memanfaatkan panduan maupun kanal resmi pemerintah guna melakukan verifikasi.
Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Komdigi, Dimas Aditya Nugraha, mengatakan kemampuan masyarakat dalam mengenali hoaks masih beragam. Berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 7% masyarakat sangat yakin terhadap informasi hoaks yang diterima, 25% merasa yakin, sementara 45% masih bimbang dalam menentukan apakah informasi tersebut benar atau tidak.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya membiasakan prinsip saring sebelum sharing agar masyarakat tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi maupun menjadi korban manipulasi digital.
Di sisi lain, penggunaan AI di Indonesia juga terus meningkat. Berdasarkan Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 dari PwC Indonesia, sebanyak 69% pekerja Indonesia yang disurvei telah memanfaatkan AI dalam pekerjaannya selama satu tahun terakhir untuk meningkatkan produktivitas.
Senior Product Marketing Specialist PINTU, Reyner Jonathan, mengatakan masyarakat perlu menerapkan beberapa langkah sederhana agar tidak menjadi korban penipuan berbasis AI maupun kejahatan digital.
Menurutnya, masyarakat sebaiknya tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya, tidak panik ketika menerima pesan yang mencurigakan, selalu memeriksa sumber informasi maupun nomor resmi apabila ada pihak yang mengatasnamakan institusi tertentu, serta menghindari mengklik tautan sembarangan yang berpotensi mengarah pada praktik phishing.
Di sisi lain, Reyner menilai AI juga memiliki banyak manfaat apabila digunakan secara tepat. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mencari resep masakan, membandingkan produk sebelum membeli, membantu membuat caption media sosial bagi pelaku usaha, hingga menyusun pembukuan sederhana untuk mendukung aktivitas bisnis.
“AI ini hanya alat yang seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif,” ujarnya.
Program literasi digital bertajuk Cek Sebelum Cekcok turut mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Pemerintah Kota Bekasi, serta menghadirkan akademisi dan praktisi industri untuk membahas cara mengenali hoaks, video deepfake, hingga ancaman siber berbasis AI yang semakin marak.

















































