Ilustrasi(magnific)
TREN kebugaran di Indonesia tengah mengalami lonjakan pesat. Saat ini, ribuan penggiat olahraga antusias menggabungkan sesi functional fitness berintensitas tinggi dengan tantangan lari jarak jauh di lintasan aspal. Namun, di balik semangat hybrid training ini, terdapat risiko tersembunyi jika transisi latihan dilakukan terlalu cepat.
Menjelang berbagai kompetisi dan ajang maraton, pakar medis dari Mount Elizabeth Hospitals, bagian dari jaringan IHH Healthcare Singapore, mengimbau para atlet untuk memperhatikan kesehatan ortopedi sebagai fondasi utama performa jangka panjang.
Olahraga ketahanan (endurance) memberikan tekanan struktural besar pada sistem muskuloskeletal, mulai dari tulang, sendi, ligamen, hingga tendon.
"Banyak penggiat kebugaran menganggap rasa sakit sebagai simbol ketangguhan. Padahal, memaksakan diri menahan rasa sakit yang tidak wajar adalah kesalahan fatal," ujar Dr. Alan Cheung, Spesialis Bedah Ortopedi di Mount Elizabeth Novena Hospital, Singapura.
Ia menambahkan bahwa mengabaikan cedera dapat memicu ketidakstabilan sendi dan risiko degeneratif seperti osteoartritis.
Mengenali "Tanda Bahaya" (Red Flag) Ortopedi
Para pakar menekankan pentingnya membedakan nyeri otot biasa (DOMS) dengan indikasi masalah struktural yang serius. Berikut adalah tiga tanda bahaya utama yang perlu diwaspadai:
| Tes Pemanasan | Nyeri mereda saat pemanasan namun muncul lebih parah setelah latihan; indikasi peradangan kronis atau beban berlebih pada tendon. |
| Nyeri Tulang Terpusat | Rasa sakit tajam di satu titik spesifik dan sensitif saat disentuh; gejala awal patah tulang stres (stress fracture). |
| Nyeri Tidak Simetris | Sakit hanya pada satu sisi tubuh; menandakan ketidakseimbangan mekanis yang berisiko memicu cedera lanjutan. |
Strategi Proaktif Perawatan Sendi
Untuk menjaga keberlanjutan dalam berolahraga, Mount Elizabeth Hospitals merekomendasikan empat strategi utama bagi para atlet:
- Kelola Lonjakan Intensitas: Hindari peningkatan durasi atau intensitas secara mendadak. Lakukan peningkatan secara bertahap untuk membangun kapasitas jaringan tubuh.
- Pemulihan Jaringan Optimal: Prioritaskan tidur berkualitas dan nutrisi kaya kalsium serta Vitamin D untuk menjaga kepadatan tulang, terutama bagi atlet perempuan.
- Latihan Silang Rendah Benturan: Gunakan hari pemulihan aktif untuk berenang, bersepeda, atau mendayung guna mengurangi tekanan vertikal pada sendi.
- Perkuat Fondasi Tubuh: Fokus pada stabilitas otot inti (core) dan keselarasan tungkai bawah untuk membantu tubuh menyerap benturan dengan lebih efektif.
Dengan merespons tanda bahaya secara proaktif, para atlet tidak hanya dapat mencapai garis finis dalam kondisi prima, tetapi juga mampu mempertahankan rutinitas latihan hingga bertahun-tahun ke depan. (Z-1)

















































