Perubahan sikap anak.(Dok. Magnific)
PERUBAHAN sikap mendadak pada remaja bukan sekadar dinamika pubertas biasa, melainkan bisa menjadi sinyal awal gangguan kesehatan jiwa seperti depresi dan kecemasan (anxiety). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua untuk peka terhadap transisi emosional ini guna mencegah dampak jangka panjang.
Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan urgensi isu ini, di mana 15,5 juta atau 1 dari 3 remaja usia 10–17 tahun di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Anggota UKK Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Angga Wirahmadi, menyebutkan bahwa kecemasan dan depresi adalah gangguan yang paling sering melanda kelompok usia ini.
Faktor Pemicu Gangguan Mental Remaja
Angga menjelaskan dalam seminar media, Selasa (21/7/2026), bahwa fase remaja sangat kompleks karena melibatkan tiga faktor utama:
- Biologis: Lonjakan hormon pubertas yang memicu ketidakstabilan emosi.
- Sosial: Tekanan teman sebaya, bullying, hingga kondisi keluarga yang tidak harmonis.
- Digital: Paparan media sosial yang memicu krisis percaya diri dan cyberbullying.
Mengenali Gejala Depresi dan Anxiety
Orang tua perlu mencermati tanda-tanda yang sering kali samar. Gejala depresi meliputi kehilangan minat pada hobi, mudah lelah, rendah diri, hingga penurunan nafsu makan. Sementara itu, gejala kecemasan ditandai dengan overthinking, gelisah, serta keluhan fisik seperti jantung berdebar dan sakit perut.
Indikator paling krusial adalah penurunan fungsi sehari-hari.
"Jika ada perubahan perilaku emosi yang tiba-tiba tanpa sebab jelas, atau mempengaruhi fungsi seperti tidak mau sekolah, tidak mau makan, hingga enggan mandi, itu harus segera dirujuk," tegas Angga.
Langkah Penanganan bagi Orang Tua:
- Bangun komunikasi hangat dengan mendengarkan tanpa menghakimi.
- Dorong aktivitas positif seperti olahraga atau organisasi.
- Terapkan gaya hidup sehat dan batasi durasi media sosial.
- Segera konsultasi ke psikolog atau psikiater jika muncul indikasi menyakiti diri sendiri (self-harm).
Deteksi dini menjadi kunci utama karena masalah mental remaja sering kali menyerupai fenomena gunung es. Pendekatan yang tepat dari orang tua dan tenaga medis diperlukan untuk menggali masalah psikososial yang tersembunyi sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. (Z-10)

















































