Warga Rusia di Bali Disekap 30 Jam, Pelaku Paksa Kuras Aset Kripto

1 week ago 16
Warga Rusia di Bali Disekap 30 Jam, Pelaku Paksa Kuras Aset Kripto (MI/Arnoldus)

POLDA Bali tengah menyelidiki kasus dugaan penculikan dan penganiayaan yang menimpa seorang warga negara (WN) Rusia berinisial AI, 41, di wilayah Badung, Bali. Korban mengaku disekap selama kurang lebih 30 jam dan dipaksa oleh para pelaku untuk menyerahkan akses akun aset kripto miliknya.

Korban yang diketahui bernama Artem Ivanov, seorang wiraswasta yang menetap di Villa Ukulele, Pecatu, Kuta Selatan, melaporkan bahwa peristiwa tersebut bermula pada Kamis (2/7/2026) malam. Saat itu, korban yang baru pulang bekerja dihadang oleh mobil Nissan Serena hitam di kawasan Jalan Uluwatu.

Kabid Humas Polda Bali, Kombes Ariasandy, menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan korban, pelaku berjumlah dua orang dan mengenakan penutup wajah (sebo). "Korban mengaku diborgol menggunakan borgol plastik dan kepalanya ditutup oleh dua pelaku bermasker sebelum dibawa ke lokasi yang tidak diketahui," ujar Ariasandy, Kamis (9/7/2026).

Penyekapan dan Kekerasan Fisik

Selama masa penyekapan di suatu rumah bertingkat yang menyerupai sel tahanan, AI mengaku mengalami kekerasan fisik. Pelaku diduga menendang dan memukul korban agar ia bersedia memberikan kata sandi akun aset kripto miliknya.

Selain mengincar aset digital, para pelaku juga mengambil telepon genggam merek Xiaomi milik korban serta kunci vila yang tersimpan di dasbor sepeda motor. Kunci tersebut diduga digunakan pelaku untuk menyatroni Villa Ukulele guna mengambil telepon genggam lain yang berisi akses cadangan akun kripto korban.

Korban akhirnya dilepaskan pada Sabtu (4/7/2026) sekitar pukul 04.00 Wita di depan Rumah Sakit Universitas Udayana, Jimbaran. Setelah bebas, korban langsung menjalani perawatan medis di IGD rumah sakit tersebut.

Kendala Penyelidikan

Polda Bali melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di beberapa lokasi, termasuk lokasi pencegatan dan kediaman korban. Namun, polisi menemui sejumlah kendala teknis di lapangan.

Hasil penyelidikan sementara menunjukkan tidak ada kamera pengawas (CCTV) di lokasi pencegatan karena kondisi jalan yang sempit dan sepi. Sementara itu, CCTV di Villa Ukulele dilaporkan mati saat kejadian akibat korsleting listrik pada mesin air.

Untuk melacak jejak pelaku, penyidik kini fokus pada beberapa langkah strategis:

  • Melakukan analisis cell dump di empat lokasi berbeda guna melacak pergerakan telepon genggam korban melalui titik BTS.
  • Menganalisis rekaman CCTV di sekitar RS Universitas Udayana (lokasi pembuangan korban).
  • Menelusuri identitas dan pergerakan mobil Nissan Serena hitam yang digunakan para pelaku.

"Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan intensif. Perkembangan lebih lanjut akan kami sampaikan setelah ada titik terang dari tim di lapangan," tutup Ariasandy. (I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |