ilustrasi(magnifik)
WABAH Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) kini telah merenggut 600 korban jiwa. Data terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan lonjakan fatalitas yang cepat, hanya berselang tiga hari setelah angka kematian melewati 500 orang.
Tercatat ada 1.759 kasus terkonfirmasi di RD Kongo sejak wabah dideklarasikan pertengahan Mei, dengan tingkat kematian mencapai 34 persen.
Sementara itu, dua orang dilaporkan meninggal dunia di negara tetangga, Uganda, dari total 20 kasus terkonfirmasi.
"Wabah terus meluas, dan skala sebenarnya belum sepenuhnya dapat dipastikan," ujar Perwakilan WHO untuk RD Kongo, Anne Ancia dikutip dari AFP.
Konsentrasi utama wabah berada di Provinsi Ituri dan dipicu oleh spesies langka Bundibugyo yang belum memiliki vaksin atau pengobatan resmi.
Guna mengatasinya, uji coba klinis terhadap antibodi monoklonal MBP134 dan obat antivirus remdesivir telah dimulai sejak 2 Juli.
"Sangat disayangkan, ini masih dalam fase perluasan. Kami ingin mengatakan bahwa situasinya mulai stabil, tetapi sejujurnya kami belum bisa menyatakannya," kata Ancia.
Dari ibu kota Ituri, Bunia, Ancia memaparkan bahwa pergerakan penduduk, ketidakamanan, dan kerapuhan sistem kesehatan mempersulit kendali wabah. Pusat penanganan kini beroperasi pada kapasitas 90 persen.
Selain itu, dari 10.000 kontak yang dipantau, tingkat tindak lanjut baru mencapai 82 persen, padahal WHO menargetkan 95 persen untuk menghentikan wabah.
WHO saat ini membutuhkan dana sebesar 115 juta dolar AS atau sekitar Rp2,08 triliun yang baru terpenuhi 32 persen.
Kondisi diperparah oleh bentrokan antara militer Kongo dan kelompok bersenjata M23 di Kivu Selatan.
Kepala HAM PBB, Volker Turk, mendesak penghentian segera pertempuran karena dampak buruknya terhadap warga sipil dan risiko memicu eksodus pengungsi ke negara tetangga. (Ndf)

















































