UEA 'Menjerit' Pariwisata Tumbang Gegara Perang AS-Iran

2 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Sektor pariwisata di Uni Emirat Arab (UEA) menghadapi krisis eksistensial imbas perang Amerika Serikat dan Israel vs Iran. Jumlah wisatawan di Dubai menurun drastis selama periode perang yang dimulai pada 28 Februari lalu. 

Kondisi ini juga sejalan dengan laporan Dubai Airport yang menyebut lalu lintas penumpang pada kuartal pertama turun setidaknya 2,5 juta dibandingkan periode yang sama pada 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Maret lalu bahkan jumlah penumpang turun hingga 66 persen karena kebanyakan warga asing menghindari negara Teluk. Namun, Dubai Airport tak menyebut perkiraan spesifik untuk tahun ini.

Sebagai upaya memulihkan pariwisata, Otoritas Penerbangan Sipil mencabut pembatasan perjalanan udara yang sempat diterapkan usai serangan balasan Iran.

"Keputusan kami diambil setelah penilaian komprehensif terhadap kondisi operasional dan keamanan, berkoordinasi dengan pihak berwenang terkait," demikian pernyataan penerbangan sipil UEA, dikutip Midlle East Eye, Selasa (5/5).

Namun, para pekerja dan pemilik bisnis di Dubai tetap khawatir pencabutan itu bisa mendongkrak angka pariwisata di sana.

Pekerja hotel di UEA, Charity, menceritakan tempat dia bekerja pada bulan Ramadan pernah menjadi suaka bagi penumpang yang terlantar.

Selama bulan tersebut, kolam renang hotel ditutup untuk tamu dan hari-hari terakhir tamu di lantai 20 dipindahkan ke lantai bawah menghindari dampak serangan.

"Hari-hari setelah itu, segalanya benar-benar melambat selama beberapa pekan," kata Charity.

Dia berharap pengumuman pencabutan itu bisa menambah jumlah pengunjung ke UEA dan tentunya ke hotel tempat dirinya bekerja.

"Kita lihat saja dalam seminggu ke depan apakah orang-orang benar-benar mulai kembali," kata Charity.

Dia lalu berujar, "Kami membutuhkan orang-orang Anda [wisatawan asing] untuk kembali."

Pemilik bisnis di City Walk Dubai, Tetiana, juga merasakan dampaknya.

"Dalam dua pekan pertama, orang-orang bilang tinggal di sini tidak sepadan lagi. Mereka bukannya takut, mereka merasa ini tak berharga lagi," ucap Tetiana.

"Bisnis-bisnis tiba-tiba melikuidasi aset mereka," imbuh dia.

(isa/dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |