KAWASAN wisata Ubud di Gianyar, Bali akan kembali menjadi tuan rumah bagi puluhan musisi jazz internasional dan Indonesia melalui acara Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2026. Gelaran ini tepatnya berlangsung pada 7-8 Agustus 2026 di STHALA Ubud Bali, A Tribute Portfolio Hotel.
“Tahun ini kami tidak mendapat dukungan sama sekali dari pemerintah. Secara finansial juga sangat berat. Tapi semangat kawan-kawan musisi dan dukungan komunitas membuat festival ini bisa bertahan,” kata Anom Darsana, Co-founder UVJF, dalam jumpa pers pada Kamis, 30Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurutnya, justru pemerintah dari negara lain memberikan kepercayaan kepada festival ini sehingga banyak musisi internasional dapat hadir karena memperoleh dukungan dari pemerintah dan lembaga kebudayaan dari negaranya.
Beberapa di antaranya adalah Simone Prattico dari Italia yang akan tampil bersama musisi jazz Indonesia Sri Hanuraga (piano) dan Kevin Yosua (bass). Musik mereka menggabungkan pengaruh Mediterania, nuansa Jawa, dan improvisasi jazz kontemporer dalam format trio yang dinamis.
Kemudian grup Jade & Paperstock (Belanda) yang dipimpin gitaris Belanda Jadi Peperzak. Kuartet internasional ini mempertemukan pianis Indonesia Kasyfi Kalyasyena, bassist Nepal Sulav Maharjan, dan drummer Belanda Rafael Slors dalam proyek jazz kontemporer yang kaya akan komposisi liris, harmoni yang mendalam, dan improvisasi kolektif. Proyek ini didukung oleh Erasmus Huis Jakarta.
Ada juga grup Watchdog dari Prancis yang menampilkan Anne Quillier pada berbagai instrumen keyboard dan Pierre Horckmans pada klarinet. Musik mereka memadukan komposisi dan improvisasi dengan perhatian besar pada tekstur dan lanskap suara. Penampilan ini didukung oleh AJC (Association Jazzé Croisé) dan Institut Français Indonésie.
Co Founder Ubud Village Jazz Festival lainnya, Yuri Mahatma berharap, model dukungan semacam itu menjadi inspirasi bagi pemerintah dan lembaga kebudayaan di Indonesia. “Semoga ke depan ekosistem musik di Indonesia juga semakin kuat dalam mendukung musisi-musisi berbakat agar mereka dapat tampil di panggung internasional dan menjadi duta budaya Indonesia melalui musik,” sebutnya.
Selain musisi-musisi itu, UVJF ke-13 antara lain akan menghadirkan Pong Nakornchai Ensemble (Thailand) yang mempertemukan empat suara musik berbeda dari Thailand, Indonesia, dan Amerika Serikat dalam sebuah proyek jazz kontemporer yang berpusat pada komposisi pemain saksofon sopran Joe Rosenberg. Proyek ini turut melibatkan Indra Gupta (bass) dan Michael Ananda (gitar).
Koko Harsoe, gitaris ternama Indonesia, akan tampil bersama SAN Trio, trio jazz fusion asal Bali yang terdiri dari Savio (piano), Amos (kontrabas), dan Nara (drum). Dengan latar belakang musik yang beragam, mereka mengeksplorasi jazz modern melalui improvisasi, interaksi, dan ekspresi orisinal.
H ZETTRIO menghadirkan warna unik dalam musik instrumental Jepang kontemporer. Dikenal melalui ciri khas hidung berwarna mereka—biru untuk H ZETT M (piano), merah untuk H ZETT NIRE (bass), dan perak untuk H ZETT KOU (drum)—trio ini terkenal dengan dialog musikal yang enerjik, permainan piano yang memukau, groove yang kuat, serta presisi ritmis yang tinggi.
Straight and Stretch Quartet, yang dipimpin oleh Yuri Mahatma (gitar) dan Astrid Sulaiman (piano), menghadirkan interpretasi unik jazz dalam spektrum yang luas. Dikenal melalui penampilannya di berbagai festival besar di Indonesia, Eropa, dan Australia, kuartet ini memadukan kecanggihan jazz dengan semangat keterbukaan.
Pada kesempatan ini mereka akan berkolaborasi dengan trombonis Jepang Masahiko Kitahara, vokalis jazz Indonesia Dian Pratiwi, serta penyanyi dan penulis lagu asal Singapura Glen Wee yang akan membawakan karya-karya dari album debutnya Sounds in the City yang dirilis oleh Warner Music Singapore.
Selain itu ada juga penampilan Salamander Big Band, salah satu orkestra jazz independen terlama di Indonesia. Mereka merayakan hampir dua dekade perjalanan musiknya melalui formasi sekitar 27 musisi yang membawakan repertoar swing klasik, karya big band kontemporer, serta aransemen orisinal.
Strings Corner Project menawarkan dialog musikal yang memadukan ekspresi flamenco, improvisasi jazz, dan ritme Nusantara. Dipimpin oleh gitaris Adien Fazmail dan Icang Rahimy, kelompok ini menghadirkan pertunjukan yang kaya akan interaksi melodi dan eksplorasi ritmis.
Dengan suara yang hangat dan ekspresif, Dattie Do memadukan tradisi jazz dengan karya-karya personal yang sarat cerita. Bersama gitaris Hoang Tung dari Hanoi, Vietnam, serta musisi Indonesia Warman Sanjaya dan Sinuksma, mereka menghadirkan kolaborasi lintas budaya yang dibentuk oleh improvisasi, ritme, dan dialog musikal.
Imelda Rosalin, vokalis, pianis, dan penulis lagu jazz Indonesia asal Jawa Barat yang dikenal melalui musikalitasnya yang matang serta akar yang kuat dalam musik klasik dan jazz, akan tampil bersama kuintetnya.
Legenda jazz Bali Dodot akan membawakan karya-karya orisinalnya bersama Wisnu Priambodo (drum) dan Helmy Agustrian (bass). Festival ini juga menghadirkan talenta-talenta baru dalam skena jazz Bali seperti LaDju dan Michael Ananda Trio.
Sebagai bagian dari komitmen UVJF dalam mendukung regenerasi musisi jazz Indonesia melalui semangat preservation of Jazzistry, tahun ini festival juga menampilkan Rason Trio serta JZ.KA Trio, yang menampilkan para musisi muda berbakat Indonesia.
“Karena itu, saya merasa kita semu para pecinta jazz,maka tentu memiliki tanggung jawab untuk memastikan regenerasi ini terus berjalan,” ujarnya. Generasi baru jazz membutuhkan panggung dan kesempatan dengan standar internasional agar bisa bertumbuh dan berinteraksi dengan musisi dari berbagai negara.














































