Tunanetra Berwisata Volume 4(Istimewa)
BAGI sebagian orang, mengemudikan perahu kayak sendirian di tengah perairan hutan bakau adalah ide yang cukup nekat. Namun bagi 10 penyandang tunanetra di Jakarta, tantangan ekstrem itu justru menjadi wahana paling ampuh untuk memerdekakan rasa percaya diri dan memetik kebahagiaan secara utuh. Melalui kegiatan Tunanetra Berwisata Vol. 4, sebanyak 10 peserta disabilitas netra diajak mengarungi alur Hutan Mangrove Pantai Indah Kapuk (PIK) selama dua jam dengan perahu kayak solo, membuktikan bahwa ruang inklusif bisa diciptakan di mana saja.
Selama kurang lebih dua jam, para peserta mengayuh kayak menyusuri alur perairan hijau nan asri. Kegiatan ini tak sekadar menjadi ajang rekreasi, tetapi juga ruang untuk mengasah kepercayaan diri, memupuk kemandirian, dan menghadirkan kebahagiaan lewat petualangan alam terbuka
Dari 10 peserta, sebagian besar merupakan pasangan tunanetra (suami-istri), yang sudah diseleksi kesiapannya melalui wawancara, mengingat kegiatan kali ini cukup ekstream. Petualangan juga ditemani para volunteer atau relawan yang kebanyakan merupakan pemain kayak berpengalaman (kayakers) yang bertugas menemani sebagai pendamping atau instruktur dayung. Satu peserta kayak didampingi satu instruktur pendamping untuk memastikan keselamatan mereka.
Ketua Panitia Tunanetra Berwisata Volume Ke-4, Nicky Hogan, mengungkapkan bahwa persiapan untuk agenda ini membutuhkan proses yang terbilang panjang.
"Karena ini konsep yang sedikit nyeleneh, sedikit ekstrem. Termasuk kita lakukan survei di lokasi, di taman mangrove di Peak. Ada 10 tunanetra yang melakukan kayak secara solo, berarti juga ada 10 pendamping yang terus menempel mereka di kayak yang terpisah selama perjalanan 2 jam itu. Tapi selain itu, tentunya juga kita menyiapkan ada rescue, ada kayak khusus untuk rescue, dan juga ada perahu yang memang disiapkan untuk berjaga-jaga. Alhamdulillah semua berjalan secara lancar," katanya.
Jauh sebelum hari keberangkatan, tim panitia telah melakukan survei mendalam di lokasi. Setiap detail medan, arus air, hingga aksesibilitas jalur dianalisis secara cermat demi mengantisipasi potensi bahaya. Panitia juga berdiskusi intensif untuk menyelaraskan data peserta, baik yang berasal dari Yayasan Mitra Netra maupun peserta independen.
"Dari beberapa peserta yang terpilih untuk mengikuti kegiatan ini, tim mencoba untuk datang langsung menemui dan mewawancarai kesiapan mereka menjelang hari keberangkatan. Di antaranya adalah Pak Asmat dan Bu Atun, pasangan suami istri mandiri yang menyambut kami dengan hangat di kediaman mereka," ujarnya.
Sebelum turun ke air, para peserta mengikuti sesi briefing di dalam ruangan sekaligus berinteraksi dengan pendamping masing-masing agar lebih akrab. Dalam sesi ini, panitia memaparkan Prosedur Standar Operasional (SOP) keselamatan, termasuk penggunaan rompi pelampung (life jacket).
Pengenalan ini dilakukan melalui rabaan sentuhan tangan dan deskripsi verbal yang mendetail. Para peserta juga diajak memetakan dan mengenali lingkungan baru mereka, demi membangun rasa aman serta menumbuhkan rasa percaya diri serta kemandirian yang utuh. Selanjutnya pengenalan berfokus pada pengenalan elemen petualangan di tepi air. Mengandalkan indra peraba mereka yang begitu peka, para peserta tunanetra mulai meraba dan menerjemahkan bentuk fisik perahu kayak, merasakan berat dan ritme genggaman pada bilah dayung, hingga memastikan jaket keselamatan terpasang sempurna sebagai pelindung badan.
Pendamping Tunanetra, Martin Hertanto, menegaskan pentingnya kepatuhan pada standar keselamatan tersebut:
"Enggak ada yang terkecuali, semuanya menggunakan life jacket. Dan prosedur re-entry, saya yakin para guides juga sudah familiar. Sekitar sudah fitting, jadi diharapkan pendamping bisa membantu untuk fitting. Fitting-nya ada yang 0,65, mungkin teman-teman sudah tahu, jadi harus dikeluarkan dulu, baru peg-nya ditarik," katanya.
Kabag Administrasi Yayasan Mitra Netra, Tri Winarsih, menyambut baik inisiatif kegiatan wisata tunanetra tersebut. Sebagai yayasan mitra dari Komunitas Tunanetra Berwisata, ia berterima kasih telah memberdayakan para tunanetra supaya lebih mandiri, cerdas dan bermakna bagi masyarakat.
"Saya senang sekali. Saya lihat YouTube-nya itu, ya. Saya sebenarnya iri, lho. Sebenarnya iri dalam artian, wah, tunanetra itu ternyata mampu. Jadi terima kasih sekali itu. Jadi yang tidak tertangani oleh kita di sini, tetapi ada lembaga atau komunitas yang mau berkontribusi seperti itu. Itu senang sekali."
Adapun menurut Sergio Kurnianto Rustan (Oci) selaku inisiator komunitas dan kegiatan menjelaskan kalau petualangan tunanetra yang digelar Komunitas Tunanetra Berwisata kali ini merupakan volume ke-4 dengan agenda wisata mendayung kayak, setelah tiga kegiatan petualangan digelar lebih dahulu, yakni volume ke-1 berpetualang masuk hutan, volume ke-2 senorkeling, lalu ke-3 mencoba scuba diving. "Nah, yang keempat mencoba mendayung kayak. Kita mau menyambut, mau menyenangkan, mau membahagiakan 10 orang tunanetra. Kalau kita bicara tunanetra berwisata, jadi yang kita ajak berwisata adalah para tunanetra dan pasangannya, totaly blind," katanya.
Pengalaman tidak Terlupakan
Petualangan mendayung kayak bagi tunanetra menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan. Misalnya bagi Supingatun, seorang tunanetra sejak lahir. Ibu Atun, demikian orang-orang memanggilnya, sehari-hari merupakan ibu rumah tangga dengan keterampilan tukang pijat. Ketika menerima tawaran berwisata mendayung kayak, segera saja ia setuju. "Bapaknya (suami) yang pertama kali ditawarin, terus ngajakin saya, ya sudah, ayo aja, gitu. Saya itu membayangkan 'kayak' itu seperti apa, saya enggak tahu. Tapi kalau perahu yang di Anyer itu, saya pernah naik. Jadi penasaran, pengin tahu seperti apa."
Asmad, suami Supingatun, memberi pengakuan serupa. Ketika ditawari berwisata segera menyambut baik dengan mengajak istrinya. "Saya pikir, kapan saya dapat giliran untuk diajak, gitu kan, ya. Nah, Alhamdulillah pas kemarin ada teman yang di mitra itu menawarkan, saya langsung mau. Apalagi kan momennya itu berkayak, saya juga belum tahu sama sekali, apa, gambarannya belum tergambar seperti apakah perahu berkayak itu. Jadi saya langsung mau, tanpa memikirkan risikonya apa, gitu. Saya mau, gitu aja," ujarnya.
Peserta lain, Antonius Ia Rosadi, awalnya ketika mulai turun ke bawah menuju kayak merasa sangat takut. "Tapi ternyata begitu dicoba perlahan, rileks, ternyata menyenangkannya lebih timbul, lebih muncul dibanding rasa takutnya."
Hal senada disampaikan Trio Aji Basuki, "Enaknya itu karena kita sebelum terjun dikasih simulasi, ya, bagaimana cara dayung, bagaimana cara menstabilkan. Jadi kita benar-benar dapat pengalaman baru yang menyenangkan. Kalau khawatir sih enggak. Enggak khawatir. Karena safety, ya, Mas."
Setelah lelah bermain kayak, para peserta kemudian diajak menikmati kuliner dengan suguhan jamuan makan malam istimewa berupa hidangan sehat daging asap otentik dan lalapan dedaunan tradisional, yang diracik serta disajikan oleh tim kuliner Asap Isep dari Sukabumi. Ruang komunal sederhana itu seketika berubah menjadi wadah hangat untuk saling bertukar rasa bagi para peserta.
Dedek Gatot Marulitua, Wakil Direktur Taman Wisata Alam Angke Kapuk tidak kuasa menahan harunya melihat kegiatan para tunanetra tersebut. "Ini membuka mata saya. Ternyata yang buta itu saya selama ini. Hal yang tidak lazim. Sangat menyentuh bagi saya sebagai pengelola tempat ini, karena berbagi kebahagiaan yang biasanya tidak bisa dinikmati oleh para penyandang tunanetra. Jadi dengan adanya acara ini, saya berharap acara ini terus berlangsung dan kita dari pihak Jakarta Mangrove Resort akan membuat tempat ini lebih ramah untuk para penyandang disabilitas." ujarnya.
(P_4)

















































