Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencak-mencak kepada Aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan mengulang ancamannya terkait Greenland setelah pertemuan tertutup dengan Sekretaris Jenderal, Mark Rutte.
Kemarahan Trump terhadap sekutu NATO yang tidak mendukung perang Iran menimbulkan kekhawatiran AS akan meninggalkan aliansi hampir delapan dekade. Namun, dalam pernyataan pertama setelah pertemuan, Trump hanya menegaskan kembali rasa frustrasinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"NATO tidak ada saat kami membutuhkan mereka, dan mereka tidak akan ada jika kami membutuhkan mereka lagi," tulis Trump di Truth Social, dikutip AFP.
"Ingat Greenland, itu pulau besar yang buruk pengelolaannya dan penuh es," tambah dia.
Sebelum melancarkan perang terhadap Iran, ancaman Trump untuk merebut Greenland dari sekutu NATO, Denmark, menjadi isu penting yang mengganggu aliansi.
Pertemuan ini berlangsung sehari setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata rapuh selama dua pekan.
Trump menuding NATO sebagai "macan kertas" karena menolak memimpin upaya membuka Selat Hormuz dan membatasi penggunaan pangkalan AS di wilayah mereka.
Ia juga mengecam beberapa pemimpin secara pribadi, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan mengejek kapal induk Inggris sebagai "mainan".
Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan Trump mempertimbangkan untuk menghukum beberapa anggota NATO yang dianggap tidak membantu selama konflik dengan memindahkan pasukan AS dari negara mereka.
Rencana ini masih jauh dari ancaman Trump sebelumnya untuk menarik AS sepenuhnya dari NATO, yang membutuhkan persetujuan Kongres.
Dalam pertemuan tertutup di West Wing, Rutte menyatakan bahwa diskusi tersebut berjalan lancar.
"Itu diskusi yang sangat terbuka dan jujur," ujar Rutte kepada CNN dalam wawancara televisi.
Sebelum kunjungan ke Gedung Putih, Rutte juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membahas perang Rusia-Ukraina.
"Kedua pemimpin membahas Operasi Epic Fury, upaya yang dipimpin AS untuk mencapai penyelesaian negosiasi dalam perang Rusia-Ukraina, serta peningkatan koordinasi dan pembagian beban dengan sekutu NATO," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Tommy Pigott.
Sejak Trump kembali berkuasa, NATO terus dilanda krisis, termasuk ancaman terhadap Greenland, pengurangan dukungan terhadap Ukraina, dan ancaman untuk tidak melindungi sekutu.
Rusia dan China mengamati situasi ini dengan seksama, sementara Rutte berperan memenangkan sikap AS terhadap Iran.
(rnp/bac)
Add
as a preferred source on Google

12 hours ago
9







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)







