Tokoh Perdamaian Mindanao Raih Penghargaan Harmoni Asia Tenggara 

2 weeks ago 12
Tokoh Perdamaian Mindanao Raih Penghargaan Harmoni Asia Tenggara  Uskup Agung Emeritus Cotabato, Kardinal Orlando Beltran Quevedo(Temasek)

Di tengah masyarakat Asia Tenggara yang semakin beragam dan saling terhubung, upaya memperkuat kohesi sosial melalui dialog, toleransi, dan kerja sama lintas komunitas dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga perdamaian yang berkelanjutan. Berbagai inisiatif yang mendorong harmoni di tengah perbedaan pun terus mendapat perhatian dan apresiasi di tingkat regional. Salah satu bentuk apresiasi tersebut diwujudkan melalui Harmony in Diversity Award, penghargaan yang ditujukan bagi individu-individu di Asia Tenggara yang menunjukkan dedikasi luar biasa dalam membangun harmoni sosial dan mempererat hubungan antar komunitas yang berbeda latar belakang budaya maupun keyakinan.

Pada penyelenggaraan perdananya, penghargaan tersebut diberikan kepada Uskup Agung Emeritus Cotabato, Kardinal Orlando Beltran Quevedo. Penghargaan yang dipersembahkan oleh Temasek Foundation bersama 5P Global Movement sebagai sekretariat pendukung itu menyoroti kontribusi panjang Kardinal Quevedo dalam mendorong dialog dan perdamaian di Mindanao, Filipina.

Sebagai kardinal pertama yang berasal dari Mindanao, Quevedo dikenal luas sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan dialog antarumat beragama sebagai jalan membangun kepercayaan dan mengatasi perpecahan sosial. Ia meyakini bahwa hubungan yang terjalin melalui interaksi sehari-hari antar masyarakat dari berbagai keyakinan menjadi dasar penting bagi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.

Selama masa pengabdiannya, Kardinal Quevedo juga aktif mendorong penyelesaian konflik melalui pendekatan sosial dan politik yang menekankan keadilan, penghormatan terhadap hak masyarakat adat, serta penyelesaian berbagai ketidakadilan historis yang terjadi di kawasan tersebut.

Pada 1996, ia turut mendirikan Bishops-Ulama Conference, forum yang mempertemukan pemimpin Katolik, Protestan, dan Muslim dalam sebuah wadah dialog dan kerja sama lintas agama. Selain itu, ia juga terlibat dalam berbagai advokasi kebijakan perdamaian, termasuk mendukung lahirnya Bangsamoro Basic Law (BBL) untuk memperkuat perlindungan hak-hak dasar masyarakat.

Harmony in Diversity Award pertama kali diluncurkan pada Agustus 2025 dengan tujuan memperluas pemahaman mengenai pentingnya harmoni sosial, memperkuat dampak para penggerak perubahan di tingkat komunitas, serta membangun jejaring regional yang berkomitmen menciptakan masyarakat yang damai dan inklusif.

Tahun ini, penghargaan tersebut menerima lebih dari 70 nominasi dari berbagai negara Asia Tenggara, mencerminkan besarnya perhatian terhadap upaya memperkuat kohesi sosial melalui kepemimpinan komunitas, dialog, dan kolaborasi lintas sektor.

Patron Harmony in Diversity Award sekaligus mantan Presiden Singapura, Halimah Yacob, mengatakan penghargaan tersebut hadir untuk mengapresiasi individu yang memilih membangun jembatan di tengah perbedaan dan memperkuat persatuan masyarakat.

"Kardinal Quevedo mencerminkan semangat tersebut melalui dedikasinya selama puluhan tahun dalam membangun perdamaian dan memperkuat hubungan antar komunitas di Mindanao," ujar Halimah.

Sementara itu, Executive Director dan Chief Executive Officer Temasek Foundation, Ng Boon Heong, menyebut karya Kardinal Quevedo menjadi pengingat bahwa harmoni tidak tercipta secara instan, melainkan dibangun melalui komitmen jangka panjang, kesabaran, dan upaya yang berkelanjutan.

Pendiri 5P Global Movement, Arsjad Rasjid, menambahkan bahwa penghargaan tersebut bertujuan merayakan individu-individu yang menunjukkan bahwa perdamaian yang berkelanjutan lahir dari rasa saling percaya, penghormatan, dan keberanian menjembatani perbedaan.

"Kiprah Kardinal Quevedo juga mencerminkan semangat keberagaman yang menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif,"tutur Arsjad.

Kardinal Quevedo sendiri mengaku terhormat menerima penghargaan tersebut. Ia menegaskan bahwa harmoni bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan kesediaan untuk menerima dan menghormati keberagaman dengan penuh empati dan pengertian.

Menurutnya, perdamaian yang langgeng tumbuh dari hubungan sehari-hari yang dibangun melalui dialog, rasa hormat, dan kasih sayang antar individu dari berbagai latar belakang.

Penghargaan Harmony in Diversity Award akan diserahkan secara resmi dalam seremoni yang berlangsung di Jakarta pada 15 Juli 2026. Selain trofi penghargaan, Kardinal Quevedo juga akan menerima hadiah sebesar 20.000 dolar AS serta kesempatan berbagi pengalaman dengan para pemimpin, pegiat perdamaian, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara di Asia Tenggara. (E-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |