Tiga Dampak Permanen Perang AS-Iran terhadap Ekonomi Global

20 hours ago 6
Tiga Dampak Permanen Perang AS-Iran terhadap Ekonomi Global Ilustrasi.(Magnific)

DAMPAK perang AS-Iran kini dirasakan secara nyata oleh masyarakat global. Di Amerika Serikat, harga bahan bakar bertahan di atas US$4 selama berminggu-minggu, suku bunga KPR melonjak mendekati 7%, dan perusahaan-perusahaan mulai menerapkan biaya tambahan pengiriman akibat rekor biaya diesel yang tinggi.

Meskipun kenaikan biaya hidup ini diharapkan mereda jika kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tercapai, para ahli memperingatkan bahwa perubahan struktural pada ekonomi global tidak akan mudah berbalik. Perang ini membentuk kembali cara dunia berbisnis dalam tiga cara utama.

1. Kendali Iran atas Selat Hormuz

Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz adalah jalur bebas bagi kapal dari negara mana pun untuk mengangkut barang dari dan ke Timur Tengah. Seperangkat lima minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap hari. Namun, serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari mengubah status quo tersebut secara permanen.

Iran kini mendeklarasikan kendali penuh atas selat tersebut. Setelah sempat menutup jalur yang memutus pasokan 13 juta barel minyak, Iran mengubah taktik pada Mei dengan membentuk Persian Gulf Strait Authority. Lembaga ini mewajibkan kapal yang melintas untuk mendaftar, mengikuti jalur navigasi resmi, dan membayar biaya tol.

Ross Mayfield, Strategis Investasi di Baird, menyatakan bahwa penutupan Hormuz berubah dari risiko hipotetis menjadi taktik yang efektif. Analis minyak memperkirakan resolusi konflik di masa depan mungkin akan melibatkan kesepakatan formal yang mengizinkan Iran memungut biaya tol demi keamanan navigasi, serupa dengan biaya layanan yang diterapkan Turki di Selat Turki atau Indonesia di selat-selat tertentu.

2. Tiongkok Memperkuat Peran sebagai Kekuatan Pasar Minyak

Tiongkok membuktikan diri sebagai kekuatan paling berpengaruh di pasar minyak selama perang berlangsung. Hal ini bukan karena produksinya, melainkan kemampuannya memodulasi permintaan secara unik. Dengan mengandalkan cadangan minyak masif yang dibangun sebelum perang, Tiongkok berhasil memangkas impor minyak mentah hingga 5 juta barel per hari.

Selain itu, terjadi perubahan perilaku konsumen yang permanen di Tiongkok:

  • Penggunaan pengisian daya kendaraan listrik (EV) di jalan raya melonjak 55,6% selama libur Mei dibandingkan tahun sebelumnya.
  • Hampir seperempat mobil yang melintas di jalan raya Tiongkok kini adalah kendaraan listrik.
  • Tiongkok mampu dengan cepat beralih dari pembangkit listrik berbahan bakar minyak dan gas ke batu bara, menunjukkan ketahanan luar biasa terhadap guncangan minyak.

Data dari JPMorgan menunjukkan bahwa dari 1,9 miliar barel minyak Timur Tengah yang hilang selama perang, hampir setengahnya (800 juta barel) diserap oleh penurunan konsumsi masyarakat dan bisnis. Fenomena ini memicu spekulasi bahwa dunia mungkin telah mencapai puncak minyak (peak oil).

3. Lonjakan Produksi di Luar Timur Tengah dan Krisis OPEC

Perang AS-Iran memicu percepatan eksplorasi dan produksi minyak di luar kawasan Timur Tengah. Brasil mencatat penambahan output sebesar 800.000 barel per hari diikuti oleh Guyana (300.000), Kanada (200.000), dan Norwegia (150.000). Amerika Serikat sendiri kini memproduksi 900.000 barel lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kondisi ini menekan posisi OPEC. Emirat Arab mengumumkan pengunduran dirinya dari konsorsium pada April lalu. Irak--produsen terbesar kedua di blok tersebut--dilaporkan sedang mempertimbangkan langkah serupa jika target produksinya tidak dinaikkan secara drastis menjadi 5 juta hingga 7 juta barel per hari.

Untuk mengimbangi kendali Iran di Selat Hormuz, produsen Timur Tengah lain mulai mengembangkan rute alternatif. Arab Saudi memaksimalkan pipa East-West dan menggunakan konvoi truk besar menuju Laut Merah, sementara Irak sedang bernegosiasi dengan Chevron untuk membangun pipa menuju Laut Mediterania. Pergeseran ini berpotensi menciptakan kelebihan pasokan minyak permanen yang dapat menekan harga konsumen tetapi mengurangi profitabilitas industri minyak secara global. (CNN/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |