Ilustrasi karya seniman tentang wahana New Horizons milik NASA.(NASA)
WAHANA antariksa tak berawak milik NASA, New Horizons, dilaporkan telah resmi terbangun dari masa hibernasi panjangnya. Wahana yang kini berada di lokasi luar biasa jauh, sekitar 6 miliar mil (9,6 miliar kilometer) dari Bumi, bersiap untuk memulai fase baru dalam misi penjelajahannya di wilayah terluar sistem tata surya kita, jauh melintasi orbit Pluto.
Keputusan untuk menidurkan wahana ini sebelumnya diambil oleh tim kendali misi demi menghemat daya baterai nuklir dan menjaga usia pakai instrumen penting di dalamnya. Selama masa hibernasi tersebut, sebagian besar sistem komputer non-esensial dimatikan, meninggalkan hanya sistem pelacak kesehatan dasar yang secara berkala mengirimkan sinyal "ping" lemah kembali ke pusat kendali di Bumi.
Kini, setelah menerima serangkaian perintah radio yang dikirimkan dari jaringan antena Deep Space Network milik NASA, komputer utama New Horizons mulai mengaktifkan kembali seluruh instrumen ilmiahnya. Proses penyerapan data dan kalibrasi ulang alat deteksi langsung berjalan untuk memastikan perangkat mampu beroperasi optimal di lingkungan yang sangat dingin dan gelap.
Berada di wilayah yang dikenal sebagai Sabuk Kuiper (Kuiper Belt), New Horizons memikul tugas ilmiah yang sangat krusial. Wilayah ini dipenuhi miliaran objek es purba dan planet kerdil yang merupakan sisa-sisa material dari proses pembentukan tata surya sekitar 4,6 miliar tahun lalu. Karena lokasinya yang belum terjamah, wilayah ini menyimpan rahasia besar mengenai asal-usul bumi dan planet lainnya.
Fokus utama New Horizons dalam fase bangun ini adalah melakukan pengamatan jarak jauh terhadap objek-objek Sabuk Kuiper yang dilewatinya. Instrumen kamera canggihnya akan mengambil gambar serta mengukur tingkat kecerahan objek es tersebut dari sudut pandang unik yang tidak mungkin bisa didapatkan oleh teleskop berbasis di Bumi maupun teleskop ruang angkasa James Webb.
Selain memotret objek es, wahana ini juga terus mengumpulkan data mengenai lingkungan heliosfer luar, seperti mengukur densitas debu kosmik dan memetakan karakteristik angin surya di perbatasan sistem matahari. Data-data ini penting untuk memahami bagaimana tata surya kita berinteraksi dengan ruang antarbintang (interstellar space).
Tim ilmuwan NASA menyatakan bahwa meskipun pasokan bahan bakar wahana ini perlahan menurun, energi yang tersisa diprediksi masih cukup untuk mempertahankan operasional New Horizons hingga tahun 2030-an. Keberhasilan membangunkan kembali wahana legendaris ini menjadi tonggak sejarah baru dalam upaya manusia memetakan area paling terpencil yang bisa dicapai oleh teknologi masa kini. (Space/Z-2)

















































