Jejak karbon organik kompleks paling luas yang pernah terdeteksi di Planet Merah.(Dok. NASA/JPL-Caltech/MSSS)
BUKTI yang mengarah pada kemungkinan adanya kehidupan di Mars kembali bertambah. Ilmuwan menemukan salah satu jejak karbon organik kompleks paling luas yang pernah terdeteksi di Planet Merah, tersimpan di dalam batuan lumpur pada bekas saluran sungai purba di Kawah Jezero.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science Advances. Penelitian dilakukan berdasarkan ratusan deteksi macromolecular carbon (MMC), yakni jaringan besar dan kompleks yang tersusun dari atom-atom karbon, pada dua batuan yang telah diambil sampelnya oleh rover Perseverance milik NASA.
Kedua batuan tersebut berasal dari formasi Bright Angel di Neretva Vallis, sebuah lembah yang pada masa lalu menjadi saluran air menuju danau yang berada di dalam Kawah Jezero.
Para peneliti menyebut temuan ini sebagai salah satu deteksi paling signifikan terhadap karbon organik kompleks di Mars. Karbon tersebut ditemukan pada permukaan batuan alami dan berada di dalam mineral sedimen serta mineral karbonat dan sulfat yang terbentuk belakangan.
Analisis Instrumen SHERLOC
Untuk mengidentifikasi material tersebut, tim menggunakan instrumen SHERLOC (Scanning Habitable Environments with Raman & Luminescence for Organics & Chemicals) yang terpasang pada Perseverance. Instrumen tersebut menggunakan laser ultraviolet dan spektroskopi fluoresensi untuk menganalisis komposisi batuan.
Hasil pengamatan menunjukkan karbon kompleks kemungkinan masuk dan tersimpan di dalam batuan melalui sedikitnya dua tahap dalam sejarah pembentukannya:
- Tahap pertama: Terjadi ketika sedimen diendapkan di lingkungan sungai purba.
- Tahap berikutnya: Berlangsung ketika air tanah kemudian mengubah batuan dan membentuk mineral baru di dalamnya.
Meski demikian, temuan karbon organik tersebut belum dapat membuktikan secara absolut bahwa Mars pernah dihuni makhluk hidup. Para ilmuwan belum mengetahui apakah molekul-molekul tersebut berasal dari proses biologis, terbentuk melalui proses geologis tanpa keterlibatan kehidupan, atau bahkan dibawa ke Mars melalui material dari luar planet, seperti meteorit.
Kaitan dengan "Bintik Macan Tutul"
Penemuan ini melanjutkan perhatian terhadap batuan di lokasi yang sama setelah Perseverance pada 2024 mengidentifikasi pola khas yang dikenal sebagai "bintik macan tutul" (leopard spots).
Di Bumi, bintik berukuran milimeter semacam itu dapat terbentuk melalui reaksi kimia dan mineral yang berkaitan dengan aktivitas mikroba. Namun, para ilmuwan juga belum menutup kemungkinan bahwa pola tersebut dapat terbentuk melalui proses abiotik atau tanpa kehidupan.
Apakah Ini Benar-Benar Tanda Kehidupan di Mars?
Astronom Chris Lintott menjelaskan bahwa terdapat sejumlah temuan di Mars yang, jika ditemukan di Bumi, kemungkinan besar akan dianggap sebagai indikasi kuat keberadaan kehidupan. Namun, kondisi di Mars berbeda.
Ketika menemukan sesuatu yang menyerupai tanda-tanda kehidupan di Mars, ilmuwan justru harus melakukan langkah sebaliknya, yakni berusaha menyingkirkan seluruh kemungkinan lain sebelum menyimpulkan bahwa fenomena tersebut berasal dari aktivitas biologis.
Tantangan terbesar para ahli astrobiologi bukan sekadar menemukan molekul organik, melainkan menentukan apakah molekul tersebut merupakan hasil kehidupan atau proses alamiah tanpa kehidupan. Tantangan tersebut berlaku dalam pencarian kehidupan di berbagai tempat di Tata Surya, mulai dari permukaan Mars hingga semburan material dari Enceladus, salah satu bulan Saturnus.
Untuk membedakan kedua kemungkinan tersebut, para ilmuwan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut dan analisis mendalam terhadap sampel batuan yang ada. (BBC Sky at Night Magazine/H-3)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9292877/original/058508100_1783663395-IMG_2546.jpg)




