HAMPIR 70 persen warga Amerika Serikat menyatakan khawatir atas konflik antara AS dan Iran, menurut survei YouGov bersama CBS News yang dirilis Ahad seperti dilansir Antara.
Sebanyak 68 persen responden memilih kata “khawatir” untuk menggambarkan perasaan mereka, 57 persen mengaku merasa tertekan, dan 54 persen menyatakan marah.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Survei itu juga menunjukkan 59 persen warga menilai konflik berjalan “agak buruk” atau “sangat buruk” bagi AS, naik dua poin dibanding 22 Maret.
Selain itu, 62 persen responden menilai Presiden Donald Trump tidak memiliki rencana jelas terkait konflik tersebut, sementara 66 persen menyebut pemerintah belum menjelaskan tujuan militernya.
Ancaman Trump untuk “menghancurkan peradaban Iran” yang diunggah di Truth Social pada 7 April dinilai negatif oleh 59 persen responden, dengan 47 persen menyatakan sangat tidak menyukai pernyataan tersebut.
Secara keseluruhan, 64 persen warga AS tidak menyetujui cara Trump menangani situasi dengan Iran, naik dua poin dari survei sebelumnya.
Sebanyak 61 persen memberi penilaian negatif terhadap kinerja Trump.
Sementara itu seperti dilansir CBS News, sebanyak 87 persen responden berharap Selat Hormuz dapat kembali dibuka agar akses minyak dunia kembali berjalan lancar. Sedangkan 82 persen berharap rakyat Iran menjadi lebih bebas dan aman.
Kendati demikian, hanya 45 persen responden yang menginginkan pemerintahan Trump mengakhiri konflik dengan pemerintahan Iran saat ini. Sementara sisanya keberatan.
Survei dilakukan pada 8–10 April terhadap 2.387 orang dewasa di AS, dengan margin kesalahan 2,4 poin persentase.
Konflik memanas sejak 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menimbulkan korban sipil.
Merespons ancaman terhadap kedaulatannya, Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Iran juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.
Situasi ini dengan cepat berkembang menjadi krisis regional. Jalur perdagangan energi global yang melintasi Selat Hormuz pun terancam, sehingga harga minyak sempat bergejolak.
Saat eskalasi semakin memanas dan konflik meluas ke negara-negara Teluk serta Libanon, muncul jeda sempit berupa gencatan senjata sementara selama dua pekan yang membuka ruang bagi diplomasi Iran-AS.
Di tengah tekanan internasional, Amerika Serikat dan Iran pada Selasa malam sepakat menekan tombol jeda melalui gencatan senjata selama dua pekan setelah mediasi oleh Pakistan. Mereka kemudian melakukan negosiasi di Islamabad, Pakistan pada akhir pekan, meski gagal mencapai kesepakatan.
Gencatan senjata ini sejak awal sudah dipandang rapuh. Iran masih menyimpan kecurigaan terhadap Amerika Serikat yang kerap melanggar kesepakatans, terutama serangan Israel ke Libanon yang menewaskan lebih dari 300 orang hanya dalam satu hari pada Rabu. Sebaliknya, Amerika Serikat diduga memanfaatkan jeda ini untuk memperkuat posisinya di Selat Hormuz.

















































