Ancaman Koi Herpesvirus Disease (KHVD) yang memicu kematian ikan mas hingga 100%.(Dok. Magnific)
PENYAKIT Koi Herpesvirus Disease (KHVD) kini menjadi ancaman serius bagi industri akuakultur global setelah studi terbaru mengungkap dampak fatalnya terhadap populasi ikan mas dan koi. Penelitian kolaboratif yang melibatkan Universitas Airlangga (UNAIR) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini menyoroti potensi kerugian ekonomi besar akibat tingkat kematian ikan yang sangat tinggi.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Advanced Veterinary Research menjelaskan bahwa KHVD disebabkan oleh Cyprinid herpesvirus 3 (CyHV-3). Virus ini sangat menular dan menyerang organ vital seperti insang, ginjal, serta jaringan kulit. Pada populasi yang rentan, terutama ikan muda, angka kematian akibat infeksi ini dilaporkan dapat mencapai 80 hingga 100 persen.
Para peneliti dari UNAIR, BRIN, bersama mitra internasional dari Korea Selatan dan Pakistan, menekankan bahwa virus ini sulit dikendalikan karena kemampuan fase latennya. Ikan yang tampak sehat setelah terinfeksi tetap dapat membawa virus dan menularkannya kembali saat mengalami stres akibat perubahan suhu air atau kualitas lingkungan yang buruk.
Faktor lingkungan memegang peranan kunci dalam penyebaran KHVD. Virus ini berkembang optimal pada suhu air antara 18 hingga 28 derajat Celsius. Selain suhu, parameter seperti kadar oksigen, pH, akumulasi amonia, serta kepadatan populasi di kolam budidaya turut mempercepat transmisi penyakit di antara ikan mas (Cyprinus carpio) dan koi.
Secara ekonomi, wabah KHVD berdampak luas mulai dari kehilangan stok ikan hingga pembatasan perdagangan internasional. Mengingat koi adalah komoditas bernilai tinggi, penurunan kepercayaan pasar global menjadi risiko nyata bagi para eksportir. Diagnosis akurat melalui metode PCR dan qPCR di laboratorium menjadi langkah krusial karena gejala fisik sering kali serupa dengan penyakit ikan lainnya.
Sebagai langkah mitigasi, tim peneliti mendorong pengembangan vaksin, mulai dari jenis vaksin hidup yang dilemahkan hingga vaksin DNA. Namun, sembari menunggu efektivitas vaksin skala besar, penerapan biosekuriti yang ketat, karantina ikan baru, dan pengelolaan kualitas air secara rutin tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan industri akuakultur global. (Universitas Airlangga/Z-10)

















































