Komodo(MI/Ramdani)
SEBUAH studi terbaru mematahkan anggapan lama mengenai cara bertahan hidup manusia purba Homo floresiensis, yang dijuluki manusia "Hobbit". Spesies manusia bertubuh kerdil yang pernah hidup di Pulau Flores, Indonesia ini, ternyata tidak pernah berburu hewan besar ataupun memasak makanan mereka menggunakan api. Sebaliknya, mereka bertahan hidup dengan mengonsumsi daging mentah dari sisa-sisa mangsa yang ditinggalkan komodo.
Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances ini meruntuhkan reputasi Homo floresiensis sebagai spesies purba dengan perilaku yang maju. Sejak fosilnya pertama kali ditemukan tahun 2004 di Gua Liang Bua, Flores, manusia purba dengan tinggi badan hanya sekitar 1 meter dan volume otak sepertiga manusia modern ini kerap dianggap sebagai pemburu yang ulung. Asumsi tersebut muncul karena fosil mereka ditemukan berdampingan dengan alat batu serta tulang-belulang Stegodon, sejenis gajah purba kerdil, yang memiliki bekas sayatan.
Namun, E. Grace Veatch, seorang pakar zooarkeologi dari Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian (NMNH), bersama rekan-rekannya memutuskan untuk meneliti kembali lebih dari 3.000 fragmen tulang Stegodon tersebut. Mereka menganalisis frekuensi dan lokasi bekas gigitan predator serta sayatan alat batu guna menentukan siapa yang lebih dulu menyantap bangkai tersebut.
Untuk membedakannya, tim peneliti mengamati bekas gigitan komodo penangkaran di Kebun Binatang Atlanta menggunakan pemindai 3D dan mikroskop. Hasilnya menunjukkan bahwa gigitan komodo meninggalkan bekas yang dangkal dan lebar, sementara sayatan alat batu berbentuk lebih sempit dan dalam. Melalui model statistik, peneliti berhasil mengidentifikasi 100 bekas gigi komodo dan 54 bekas sayatan alat batu pada fosil gajah purba tersebut.
Menariknya, tidak ada satu pun tulang yang memiliki kedua bekas tersebut secara bersamaan. Bukti kuat menunjukkan bahwa gigitan komodo berkerumun pada bagian tulang yang paling banyak mengandung daging, seperti paha, bahu, dan tulang dada. Sementara itu, sayatan alat batu manusia Hobbit hanya ditemukan pada bagian dengan kandungan daging yang sangat sedikit, seperti tulang jari kaki, fragmen tengkorak, dan tulang tenggorokan. Pemisahan ini membuktikan bahwa manusia Hobbit hanya mengais sisa-sisa daging yang telah dikupas habis oleh komodo.
Selain itu, klaim bahwa manusia Hobbit telah menggunakan api untuk memasak juga terbantahkan. Tim peneliti memeriksa ribuan tulang hewan pengerat di lapisan sedimen Liang Bua tempat fosil Hobbit berada, dan tidak menemukan satu pun tulang yang hangus. Noda hitam yang awalnya dikira bekas terbakar ternyata merupakan noda mangan dari tanah.
Mengais sisa makanan dinilai sebagai pilihan yang jauh lebih aman bagi manusia Hobbit. Menghadapi komodo hidup yang memiliki bisa pelumpuh darah tentu sangat berisiko mematikan. Di sisi lain, bisa komodo aman bagi pencernaan manusia jika dagingnya dikonsumsi karena struktur proteinnya yang besar. Dibandingkan berburu gajah purba yang menguras energi besar namun tidak efisien, memanfaatkan sisa mangsa komodo menjadi strategi terbaik mereka untuk bertahan hidup. (Earth/Z-2)

















































