Ilustrasi.(Magnific)
PEMIMPIN Iran menarik pelajaran fundamental dari konfrontasi mereka dengan Amerika Serikat: Barat sangat bergantung pada minyak dan Iran berada di posisi strategis yang menguasai jalur distribusinya. Kalkulasi ini menjadi motor penggerak persiapan Teheran saat gencatan senjata mulai runtuh menjadi konflik terbuka.
Setelah AS menyerang 90 target dalam semalam yang menewaskan lebih dari selusin orang, Iran meluncurkan rudal dan drone balasan ke pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain. Teheran menyebutnya sebagai fase pertama respons hukuman terhadap para pelanggar janji Amerika.
Geografi sebagai Senjata Utama
Setelah bertahan dari dua gelombang pengeboman Amerika dan Israel, para pemimpin Iran menyimpulkan bahwa senjata paling ampuh mereka bukanlah kekuatan militer konvensional, melainkan geografi. Mereka kini menyusun rencana untuk menutup dua titik jalur maritim terpenting di dunia guna menghentikan pasokan minyak global.
Perubahan strategi ini diperparah oleh bocoran intelijen AS yang mengindikasikan bahwa Arab Saudi dan Emirat Arab secara rahasia berpartisipasi dalam serangan terhadap Iran awal tahun ini. Bagi Teheran, hal ini mengubah status negara tetangga dari penonton menjadi target yang sah, mengingat infrastruktur minyak mereka berada dalam jangkauan rudal Iran.
Ebrahim Azizi, Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, memperingatkan bahwa setiap salah perhitungan Amerika akan dibalas dengan respons yang menghancurkan dan menyakitkan.
Empat Langkah Doktrin Perang Iran
Berdasarkan doktrin yang diterbitkan oleh kantor berita Fars yang berafiliasi dengan Garda Revolusi, terdapat empat langkah strategis yang disiapkan Iran:
1. Penutupan Selat Hormuz
Iran berencana menghentikan seluruh ekspor minyak melalui Selat Hormuz dengan menyerang kapal tanker dan memasang ranjau laut. Selain itu, mereka menargetkan infrastruktur produksi dan pemurnian negara tetangga dengan serangan yang sangat parah sehingga tidak dapat dibangun kembali selama bertahun-tahun. Ini tuas penekan terkuat Iran karena dampaknya terhadap ekonomi global tidak dapat dicegah oleh sistem pertahanan udara mana pun.
2. Membuka Front Kedua di Laut Merah
Rencana kedua adalah mendominasi Selat Bab el-Mandeb, titik penghubung antara Laut Merah dan Teluk Aden. Dengan menguasai Hormuz dan Bab el-Mandeb secara bersamaan, Iran secara efektif memegang kendali atas arteri utama yang menghubungkan Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Operasi di Bab el-Mandeb kemungkinan besar akan dilakukan melalui sekutu Houthi di Yaman.
3. Meningkatkan Biaya Manusia dan Finansial AS
Iran menerapkan strategi pembebanan biaya (cost-imposition) melalui serangan asimetris untuk menimbulkan korban jiwa yang besar pada pasukan AS. Tujuannya bukan mengalahkan AS secara militer, melainkan membuat biaya bertahan di kawasan tersebut menjadi lebih mahal daripada biaya untuk pergi, serupa dengan strategi atrisi di Irak.
4. Ambiguitas Strategis dan Perubahan Aturan
Analis militer Iran mendesak Teheran untuk memaksimalkan ambiguitas strategis dengan menetapkan garis merah yang lebih ekstrem. Hal ini memaksa analis militer lawan untuk mempertimbangkan kembali batas-batas baru dari kekuatan pencegahan Iran.
Kekuatan Militer yang Tersisa
Di balik ancaman tersebut, Iran masih memiliki arsenal rudal balistik terbesar di kawasan, termasuk rudal bahan bakar padat Kheibar Shekan dan rudal hipersonik Fattah serta armada drone Shahed. Sistem pertahanan udara mereka juga terus dibangun kembali menggunakan Bavar-373 domestik dan sistem S-300 pasokan Rusia.
Pejabat Iran menyatakan bahwa persiapan perang diintensifkan dengan taktik dispersi--menyebarkan rudal dan mengevakuasi pangkalan--agar serangan mendadak lawan tidak dapat melumpuhkan komando mereka secara total. "Amerika hanya memahami bahasa kekuatan," ujar salah satu pejabat Iran, "Maka mereka harus diajak bicara dengan bahasa yang sama." (Telegraph/I-2)

















































