ilustrasi(Magnific)
OTORITAS keamanan obat dan alat kesehatan Selandia Baru (Medsafe) resmi memberikan izin terbatas bagi dua psikiater terlisensi untuk meresepkan 3,4-methylenedioxymethamphetamine (MDMA) kualitas farmasi. Penggunaan zat psikoaktif ini ditujukan sebagai bagian dari program psikoterapi khusus bagi pasien dewasa penderita gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD).
Sebagai catatan, PTSD merupakan gangguan kesehatan mental berat yang terpicu setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis, seperti perang, bencana alam, kecelakaan tragis, hingga kekerasan seksual.
Mengenal MDMA
MDMA merupakan zat psikoaktif yang lebih dikenal masyarakat sebagai ekstasi, E, XTC, atau molly. Zat ini memiliki efek stimulan dan dapat memengaruhi persepsi serta pengalaman emosional seseorang.
Dalam penggunaan medis di Selandia Baru, MDMA yang diberikan merupakan produk berkualitas farmasi, bukan produk ilegal yang beredar sebagai ekstasi. Penggunaannya dilakukan dalam pengawasan klinis yang ketat.
Mengapa MDMA Digunakan untuk PTSD?
Penggunaan MDMA dalam terapi ditujukan sebagai pilihan tambahan bagi orang dewasa dengan PTSD yang gejalanya tidak merespons terapi konvensional.
Pendekatan ini disebut psikoterapi berbantuan MDMA. Terapi menggabungkan psikoterapi dengan penggunaan MDMA kualitas farmasi dalam program perawatan yang lebih luas.
Namun, bukti mengenai penggunaan MDMA untuk PTSD masih terus berkembang. Pemerintah Selandia Baru menyebut penelitian lebih lanjut masih diperlukan, terutama untuk menilai keamanan dan menentukan protokol terapi yang tepat.
Persetujuan Penggunaan
Persetujuan penggunaan MDMA di Selandia Baru disertai sejumlah pembatasan. Beberapa ketentuannya meliputi:
- Hanya untuk orang dewasa, yakni pasien berusia 18 tahun atau lebih.
- Pasien harus menjalani penilaian klinis secara menyeluruh sebelum terapi dipertimbangkan.
- Pemberian dilakukan berdasarkan kasus per kasus oleh psikiater yang telah memperoleh persetujuan.
- Psikiater wajib mengikuti protokol terapi yang telah disetujui.
- Terapi dilakukan di lingkungan klinis yang terkontrol dan berada dalam pengawasan psikiater.
- MDMA tidak diberikan kepada pasien untuk dibawa pulang.
- Pengobatan diperkirakan hanya sesuai bagi sejumlah kecil pasien.
Untuk memperoleh persetujuan, psikiater juga harus menunjukkan keahlian yang memadai serta memberikan informasi terperinci mengenai bagaimana terapi akan dilakukan secara aman dan tepat. Medsafe mempertimbangkan manfaat tersedianya pilihan terapi baru sekaligus perlindungan pasien dari potensi risiko.
Persetujuan tersebut tidak berarti MDMA telah disetujui sebagai obat secara umum di Selandia Baru. Penggunaannya untuk PTSD masih terbatas pada dua psikiater yang telah mendapat persetujuan Medsafe, sementara klinisi lain yang ingin meresepkannya harus mengajukan persetujuan tersendiri.
Penggunaan MDMA di Selandia Baru saat ini hanya diperbolehkan secara terbatas dan terkontrol bagi pasien tertentu, bukan untuk penggunaan secara bebas.
(Ministry of Health New Zealand/DEA/Alodokter/P-4)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9292877/original/058508100_1783663395-IMG_2546.jpg)





