Dua video yang telah diverifikasi menunjukkan kerusakan pada menara kontrol di pelabuhan utama di kota Chabahar, Iran tenggara, setelah serangan AS.(Instagram)
KETEGANGAN antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kian meruncing setelah kedua belah pihak saling meluncurkan serangan udara untuk malam kedua berturut-turut. Meningkatnya intensitas pertempuran ini memicu penurunan drastis pada jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan telah menggempur 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara dan infrastruktur logistik di sepanjang garis pantai. Serangan ini bertujuan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal komersial. Sebaliknya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membalas dengan menghantam pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain, yang mereka sebut sebagai fase pertama pembalasan.
Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 14 orang tewas dan 78 lainnya luka-luka akibat serangan AS yang menyasar lima provinsi selama dua hari terakhir. Selain itu, serangan dilaporkan merusak jembatan, jalur kereta api menuju Kota Mashhad, serta memicu kebakaran di barak IRGC di Bushehr, dekat pembangkit listrik tenaga nuklir. Kementerian Luar Negeri Iran pun mengecam tindakan AS ini sebagai kejahatan perang yang serius.
Di tengah situasi genting tersebut, jutaan warga Iran memadati jalanan Kota Mashhad untuk menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada 28 Februari lalu akibat serangan AS dan Israel.
Dampak dari eskalasi ini langsung melumpuhkan aktivitas ekonomi di Selat Hormuz. Phil Belcher, Direktur Kelautan Intertanko, mengungkapkan jumlah kapal harian yang melintasi jalur selatan kini menyusut hingga ke angka satuan. Dari yang semula mencapai 130 kapal per hari sebelum perang, angka tersebut merosot menjadi 70 kapal pada pekan lalu, dan kini tersisa kurang dari 10 kapal.
Konflik terbaru ini sekaligus menghancurkan kesepakatan gencatan senjata berupa Nota Kesepahaman (MoU) 14 poin yang baru ditandatangani kedua negara pada 17 Juni lalu. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa perjanjian damai tersebut kini telah berakhir karena menganggap negosiasi lanjutan hanya membuang waktu.
"Saya baru saja tidak tahu apakah mereka layak untuk diajak membuat kesepakatan, saya tidak tahu apakah mereka akan menghormati kesepakatan itu, itulah masalahnya," ujar Trump.
Menanggapi pernyataan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan jawaban tegas melalui platform X.
"Kami tidak membalas kekasaran dengan kekasaran, tetapi dengan tindakan: tanpa rasa takut dan dengan keberanian yang besar," tulis Araghchi.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan AS bahwa tindakan intimidasi tidak akan lagi bebas dari konsekuensi. Ia menegaskan Selat Hormuz hanya akan dibuka di bawah kendali Iran, bukan berdasarkan ancaman dari Amerika. (BBC/Z-2)

















































