Saatnya Pesepak Bola Putri Muda Mengejar Cita-Cita

8 hours ago 3
Saatnya Pesepak Bola Putri Muda Mengejar Cita-Cita Seremoni juara HPSL All-Stars 2025-2026(Dok HPSL)

ENAM bulan lalu, Ayla Dva Khala Ahisma harus meninggalkan kampung kelahirannya di Sleman, DI Yogyakarta. Pada usianya yang saat itu belum genap 14 tahun, dia memilih merantau ke Bogor demi satu tujuan yaitu menempa diri sebagai atlet sepak bola putri. Keputusan itu bukan perkara mudah. 

Ayla harus berpisah dari kedua orang tuanya, beradaptasi dengan lingkungan baru, sekaligus bersaing untuk lebih berkembang. Langkah berani itu perlahan membuahkan hasil. 

Pada penutupan kompetisi nasional Hydroplus Soccer League (HPSL) All-Stars musim perdana 2025-2026 di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (12/7), nama Ayla diumumkan sebagai pemain terbaik kategori U-15. Meski timnya Cipta Cendikia Football Academy (CCFA) Bogor U-15 harus puas menjadi runner-up setelah kalah adu penalti dari Goal Aksis Bandung U-15, gelandang cilik itu terus optimistis mengejar cita-cita untuk bisa menjadi pemain profesional dan menembus tim nasional.

"Impian terbesar saya untuk bisa masuk timnas senior," cetus Alya saat ditemui di sela-sela ajang HPSL Soccer League All-Stars. 

"Pindah ke Bogor adalah kesempatan supaya bisa berkembang lebih jauh," tambahnya. 

Di sekolah Cipta Cendikia, Ayla turut mendapat beasiswa penuh untuk pendidikan. Sebelum bergabung, Ayla berlatih di SSB Matra, Sleman. Kesempatan datang ketika pelatihnya mempertemukan dirinya dengan pelatih CCFA. Keputusan tersebut menuntut pengorbanan. Pada bulan-bulan pertama, rasa rindu kepada keluarga menjadi teman sehari-hari. Akan tetapi, perlahan dia belajar berdiri di atas kaki sendiri.

"Awalnya kangen sama orang tua. Lama-lama sudah terbiasa," ucapnya. 

Perjalanan Ayla sebenarnya sudah mulai menarik perhatian sebelum tampil di Kudus atau bahkan sebelum pindah ke Bogor. Dia berstatus top skor di dua seri MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta pada 2024 dan 2025.

Pada Mei lalu, dia mendapat kesempatan berharga dipanggil untuk pemusatan latihan timnas putri U-17 di pusat pelatihan legendaris dunia Clairefontaine, Prancis. Di sana, Ayla merasakan langsung atmosfer sepak bola yang berbeda. 

"Pengalaman di Prancis sangat seru. Saya belajar banyak teknik dari pelatih-pelatih di sana. Itu menjadi motivasi buat saya," ujarnya.

Jauh-Jauh dari Papua

Jejak serupa juga ditempuh Ika Wonda. Pemain Putri Surakarta U-15 itu datang jauh dari Puncak Jaya, Papua, untuk bersekolah sekaligus menekuni sepak bola di Solo. Baginya, meninggalkan kampung halaman membuka jalan menuju kesempatan yang sebelumnya sulit dijangkau. 

HPSL menjadi panggung yang ingin ia manfaatkan sebaik mungkin. Meski timnya gagal melaju ke semifinal, Ika tetap membawa target pribadi untuk bisa masuk penyaringan skuad timnas U-16 yang akan berlaga di turnamen internasional Srikandi Merdeka Cup, Agustus nanti.

"Meski gagal membawa tim ke semifinal, saya tetap berharap bisa masuk pantauan talent scouting untuk Srikandi Merdeka Cup," kata Ika Wonda. 

Kisah Ayla dan Ika menunjukkan satu hal. Ketika ruang untuk bertanding tersedia, semakin banyak anak berani mengambil keputusan besar demi mengejar cita-cita. 

Musim perdana HPSL sendiri memang menjadi titik temu bagi pemain-pemain dari berbagai daerah. Mereka datang dari kota-kota penyelenggara kompetisi, bahkan sebagian rela berpindah sekolah agar dapat masuk ke dalam ekosistem pembinaan tersebut. 

HPSL fokus pada usia U-15 dan U-18 sedangkan MilkLife Soccer Challenge menjadi kompetisi liga usia dini atau sekolah dasar. Mulai musim depan, kesempatan akan semakin luas. Setelah digelar di empat regional pada musim perdana, HPSL akan menambah Solo sebagai kota penyelenggara. 

Adapun Soccer Challenge, yang sebelumnya berpusat di Pulau Jawa lalu merambah Banjarmasin dan Samarinda, juga akan berekspansi ke Jayapura. Semakin banyak kota berarti semakin banyak pula anak perempuan yang memiliki jalur untuk mengembangkan bakatnya.

Wadah untuk Berkembang

Kompetisi berjenjang menjadi bagian penting dalam rantai pembinaan. Dari Soccer Challenge, pemain kemudian melanjutkan ke HPSL sebelum menatap level berikutnya. 

Di musim perdana HPSL ini, Akademi Persib Bandung keluar sebagai juara putaran nasional kategori U-18 sedangkan Goal Aksis Bandung menjadi pemenang U-15. Kompetisi tersebut diharapkan terus bergulir untuk menghadirkan ruang bagi pemain usia muda. 

Pelatih Akademi Persib, Dian Nadia Mutiara, menilai dampaknya sudah mulai terlihat. Menurutnya, kompetisi dengan format liga yang digelar selama berbulan-bulan membuat pemain memiliki motivasi dan ruang untuk terus berkembang. 

"Di putaran nasional kita bisa melihat banyak pemain dari luar Jawa yang kualitasnya bagus. Kemampuan mereka merata dan meningkat pesat. Menurut saya, ini dampak dari kompetisi yang berlangsung rutin di masing-masing regional," kata Dian.

"Kalau ada kompetisi, pemain berkembang dengan sendirinya karena mereka punya motivasi untuk terus berlatih. Ini event yang sangat bagus untuk masa depan sepak bola putri Indonesia," tambahnya. 

Akademi yang Membuka Jalan

Semangat serupa juga dirasakan Goal Aksis. Akademi asal Bandung itu membangun tim putri dengan beasiswa penuh agar anak-anak tidak kehilangan kesempatan hanya karena persoalan biaya. Dari yang awalnya hanya belasan anak ketika tim putri dibentuk tiga tahun lalu, jumlah pemain putri binaan Goal Aksis sekarang mencapai sekitar 170 orang. 

Pelatih Goal Aksis Budi Sufarlan mengaku semakin banyak anak perempuan datang membawa mimpi menjadi pesepak bola. 

"Saya melihat banyak anak yang ingin berlatih tapi tidak punya biaya. Di Goal Aksis ini sistemnya beasiswa, gratis. Jadi niat saya ibadah, membantu anak-anak ini menggapai mimpi dan membentuk karakter mereka agar lebih tangguh. Kalaupun nanti tidak masuk Timnas atau profesional, setidaknya mereka punya karakter yang kuat," ujarnya.

Di balik sistem pembinaan gratis itu, operasional akademi juga perlu dibangun agar bisa berjalan. Semakin dikenal sebuah akademi, semakin besar peluang datangnya dukungan yang membuat lebih banyak anak dapat berlatih tanpa memikirkan biaya. Sebab itu, kata Budi, dukungan sponsor atau donatur diharapkan bisa makin berdatangan seiring prestasi akademi itu sendiri. 

"Saya melihat banyak anak yang ingin berlatih tapi tidak punya biaya. Di Goal Aksis sistemnya gratis. Jadi niatnya membantu anak-anak ini menggapai mimpi. Kalaupun nanti tidak masuk timnas atau profesional, setidaknya mereka punya karakter yang kuat," kata Budi. 

Langkah Berikutnya Liga Profesional

Meski jalur pembinaan liga sepak bola putri usia dini baru mulai terbentuk, mata para pemain kini tertuju pada panggung berikutnya yaitu ke liga profesional yang sudah lama vakum. 

PSSI telah memastikan Liga 1 Putri akan bergulir pada Oktober mendatang dengan enam klub peserta. Kehadiran kompetisi profesional itu menjadi mata rantai yang selama ini dinantikan para pemain muda.

Kiper Akademi Persib U-18 Gadhiza Asnanza termasuk yang sudah memasang target berikutnya. Pasalnya, HPSL menjadi penampilan terakhirnya di level U-18 karena usia. 

"Saya akan terus fokus latihan karena ingin tampil di Liga 1 Putri dan terus meningkatkan kualitas diri. Liga putri ini memang dinanti-nantikan karena saya juga ingin menjadi pemain profesional," katanya. 

Jalan menuju sepak bola putri Indonesia mulai terlihat. Panggungnya mulai tersedia, kompetisinya akan bertambah, dan jalur pembinaannya berjenjang sampai nasional. Tinggal bagaimana anak-anak yang memendam mimpi untuk berani melangkah karena kesempatan itu sekarang mulai terbuka. (E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |