Rusia Masukkan Pendiri Telegram Pavel Durov ke Daftar Hitam 'Teroris’

5 hours ago 1
Rusia Masukkan Pendiri Telegram Pavel Durov ke Daftar Hitam 'Teroris’ Pendiri aplikasi Telegram(Giuseppe CACACE / AFP)

RUSIA memasukkan pendiri Telegram, Pavel Durov, ke daftar hitam "teroris dan ekstremis". Keputusan ini diambil hanya sehari setelah Rusia mengumumkan rencana penangkapan Durov atas tuduhan membiarkan platformnya dimanfaatkan oleh intelijen Ukraina.

Pavel Durov, yang telah bertahun-tahun bermukim di luar negeri dan memegang paspor Prancis serta Uni Emirat Arab (UEA), memang dikenal kerap bersitegang dengan otoritas Moskow di tengah cengkeraman internet yang semakin ketat di Rusia.

Aplikasi Telegram sendiri merupakan salah satu pilar komunikasi utama warga Rusia. Selama bertahun-tahun, pejabat setempat berulang kali mencoba memblokir atau menjatuhkan Telegram demi menekan Durov agar mau mengirimkan data pengguna.

Moskow juga aktif mendorong warganya untuk beralih ke aplikasi pesan buatan pemerintah bernama Max, yang oleh Durov sebelumnya disebut sebagai alat "pengawasan dan sensor politik" karena tidak terenkripsi.

Dinas Keamanan Rusia (FSB) pekan ini menyatakan telah memulai proses pencarian internasional terhadap Durov. Kendati demikian, belum dapat dipastikan apakah negara lain atau badan penegak hukum internasional akan memenuhi permintaan tersebut.

Pada hari Kamis, nama Durov resmi terpampang di registrasi online "teroris dan ekstremis" yang dikelola oleh lembaga pengawas keuangan Rusia, Rosfinmonitoring. Khususnya, pria berusia 41 tahun itu dilarang keras melakukan transaksi keuangan apa pun di dalam wilayah Rusia.

Tuduhan mendukung "terorisme" atau "ekstremisme" sering kali digunakan Moskow untuk menjerat lawan-lawan politik, termasuk para tokoh yang sudah meninggalkan Tanah Air.

Menurut pihak FSB, Telegram dinilai lalai karena tidak menghapus bot kencan populer yang diklaim Moskow digunakan oleh dinas khusus Ukraina untuk merekrut generasi muda Rusia agar terlibat dalam "aksi teror dan sabotase."

Ketika dikonfirmasi oleh AFP, tim kuasa hukum Durov maupun pihak manajemen Telegram kompak menolak memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut.

Sebelum konflik terbaru ini, Pada tahun 2024, Durov sempat ditangkap oleh polisi Prancis terkait konten ilegal di platformnya, sebelum akhirnya dibebaskan dengan jaminan dan meninggalkan negara tersebut setelah pencekalan perjalanannya dicabut.

Durov lahir di Saint Petersburg, yang merupakan kota asal Presiden Vladimir Putin. Sebelum mendirikan Telegram, ia adalah pendiri VKontakte (VK), media sosial yang dijuluki sebagai "Facebook-nya Rusia". Namun, ia terpaksa meninggalkan perusahaan tersebut menyusul konflik dengan otoritas Rusia yang menuntut kontrol lebih ketat terhadap dunia maya.

(AFP/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |