Ribuan warga Serbia menghadiri upacara pemakaman Ratko Mladic.(AFP/OLIVER BUNIC)
RIBUAN orang memadati ibu kota Serbia, Beograd, untuk menghadiri pemakaman Ratko Mladic, mantan jenderal yang dijuluki sebagai "Jagal dari Bosnia". Mladic meninggal dunia pada usia 84 tahun saat menjalani hukuman seumur hidup di penjara PBB di Den Haag, Belanda.
Meskipun telah divonis bersalah atas kasus genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pengadilan PBB, Mladic tetap menjadi sosok yang memicu polarisasi tajam.
Bagi banyak nasionalis Serbia, ia dipandang sebagai pahlawan dan pembela bangsa, sementara bagi dunia internasional dan para korban, ia adalah simbol kekejaman perang Balkan.
Kontroversi Penghormatan Negara
Prosesi pemakaman ini sempat memicu ketegangan diplomatik. Awalnya, seorang menteri pemerintah Serbia menyatakan bahwa Mladic akan diberikan pemakaman kenegaraan. Namun, rencana tersebut dibatalkan setelah muncul keberatan keras dari para pemimpin Eropa.
Uni Eropa (UE) secara tegas mengecam segala bentuk glorifikasi terhadap Mladic. Dalam pernyataannya, UE menegaskan bahwa penyangkalan genosida dan revisionisme sejarah tidak memiliki tempat di negara-negara kandidat anggota UE. Sebagai informasi, Serbia telah menjadi kandidat anggota UE sejak 2012, meski proses negosiasinya saat ini sedang mandek.
| Nama / Julukan | Ratko Mladic / "Butcher of Bosnia" |
| Usia Kematian | 84 Tahun |
| Kejahatan Utama | Genosida Srebrenica 1995 (±8.000 korban jiwa) |
| Pengepungan Sarajevo | Lebih dari 10.000 orang tewas |
| Status Hukum | Vonis Seumur Hidup (2021) |
Suasana Pemakaman di Belgrade
Jenazah Mladic diterbangkan kembali ke Serbia pekan lalu menggunakan pesawat pemerintah. Peti matinya yang dibalut bendera dibawa oleh enam tentara.
Pada hari pemakaman, antrean panjang terlihat di luar gereja St. Luka sejak pagi hari. Banyak dari pelayat adalah veteran perang yang mengenakan atribut bergambar wajah Mladic.
Ibadah pemakaman dipimpin langsung oleh kepala Gereja Ortodoks Serbia, Patriark Porfirije. Dalam pidatonya, Porfirije menyatakan bahwa nama Mladic akan tetap terukir dalam ingatan dan doa mayoritas umat Ortodoks Serbia sebagai bentuk rasa terima kasih.
Sejumlah pejabat tinggi pemerintah juga tampak hadir memberikan penghormatan, di antaranya Menteri Pertahanan Bratislav Gasic dan Menteri Keadilan Nenad Vujic. Dukungan juga datang dari sektor publik, di mana bus gratis disediakan dari berbagai kota di Serbia dan Bosnia bagi warga yang ingin melayat.
Luka yang Kembali Terbuka
Di sisi lain, pemakaman ini menjadi momen yang menyakitkan bagi para penyintas perang Bosnia. Zdravka Gvozdjar, seorang ibu di Sarajevo yang kehilangan putra berusia sembilan tahun akibat serangan pasukan Mladic, menyatakan kekecewaannya.
"Sangat mengerikan pemakaman ini dilakukan di Belgrade. Dia seharusnya diingat hanya sebagai seorang jagal, bukan dipromosikan sebagai pahlawan," ujarnya kepada Reuters.
Daniella Peled dari Institute of War and Peace Reporting menilai fenomena ini terjadi karena sistem pendidikan dan media pro-pemerintah di Serbia tidak merefleksikan skala kejahatan Mladic yang sebenarnya.
Menurutnya, masyarakat pasca-konflik seringkali kesulitan untuk mengakui tanggung jawab atas kejahatan masa lalu dan lebih memilih narasi kepahlawanan nasional. (bbc/Z-1)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9292877/original/058508100_1783663395-IMG_2546.jpg)




