Rahasia Bunga Snapdragon Liar Berevolusi Memoles Warna demi Memikat Lebah

8 hours ago 4
Rahasia Bunga Snapdragon Liar Berevolusi Memoles Warna demi Memikat Lebah Ilustrasi(Magnific)

WARNA pada kelopak bunga sering kali dianggap sekadar hiasan visual. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa corak warna bunga sebenarnya merupakan hasil dari penyesuaian evolusi yang sangat mendalam demi memikat serangga penyerbuk, khususnya lebah. Bagi tanaman liar, perbedaan kecil pada tampilan warna dapat menentukan keberhasilan reproduksi dan kelangsungan hidup gen mereka.

Tim ilmuwan dari John Innes Centre di Inggris, bekerja sama dengan para peneliti dari Austria, Tiongkok, dan Australia, mengungkap rahasia tersebut melalui studi terhadap populasi bunga snapdragon liar (Antirrhinum majus). Studi ini memanfaatkan laboratorium alam di Pegunungan Pirenia, yaitu sebuah zona hibrida sempit selebar satu kilometer tempat bertemunya dua varietas snapdragon alami.

Varietas pertama memiliki kelopak bunga berwarna kuning yang dihiasi bintik magenta sebagai petunjuk visual lokasi nektar bagi lebah. Sebaliknya, varietas kedua menampilkan corak sebaliknya, yaitu kelopak berwarna magenta dengan bintik kuning sebagai penanda titik masuk.

Perbedaan corak antarvarietas ini dikendalikan oleh interaksi tujuh gen utama yang bekerja layaknya "kuas cat genetik". Dari ketujuh gen tersebut, tiga gen mengontrol produksi dan penempatan pigmen magenta, sedangkan empat gen lainnya mengatur komponen warna kuning.

Di dalam zona hibrida, pencampuran genetik menghasilkan beragam kombinasi warna perantara, seperti bunga berwarna jingga dan putih. Meskipun tampak unik bagi mata manusia, bunga hasil persilangan hibrida ini kurang menarik perhatian lebah. Karena lebah lebih memilih mendatangi varietas dengan pola warna asli, seleksi alam secara aktif menjaga agar zona pencampuran genetik tersebut tetap sempit.

Melalui analisis genetik, para peneliti membuktikan bagaimana empat gen warna kuning bekerja sama membentuk gradasi molekuler. Pada varietas bunga magenta, gradasi warna kuning terbentuk secara curam sehingga menghasilkan bintik kuning yang tajam. Sementara pada varietas bunga kuning, gradasinya terbentuk secara landai, menghasilkan semburat warna kuning yang tersebar halus.

Efek dari satu gen individual mungkin sangat tipis dan hampir tak terlihat oleh mata manusia. Namun, mata lebah mampu mengenali perbedaan halus tersebut. Hal ini memungkinkan seleksi alam bekerja secara presisi pada banyak gen sekaligus.

"Kami telah meneliti bagaimana pola warna yang memukau di alam terbentuk dan terdefinisi, gen-gen yang menciptakan pola tersebut, serta bagaimana kerja sama gen-gen tersebut terseleksi sepanjang waktu evolusi demi memikat tarian dan kunjungan lebah," ujar Dr. Desmond Bradley, salah satu penulis utama studi tersebut.

"Secara bersama-sama, keempat gen ini bekerja untuk mengasah gradasi warna kuning secara presisi. Beberapa gen memiliki efek yang sangat halus, tetapi masing-masing berkontribusi pada pola gradasi yang dipantau oleh lebah. Bahkan pola yang hampir tidak dapat kita bedakan sekalipun dapat dikenali oleh lebah di zona hibrida tersebut," lanjut Dr. Bradley.

Temuan ini memberikan wawasan baru mengenai bagaimana seleksi alam membentuk dan menyempurnakan gradasi molekuler di alam demi mendukung keberhasilan proses penyerbukan. (Earth/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |