Puncak Fenomena Embun Beku di Dataran Tinggi Dieng Diperkirakan Berlangsung Agustus

4 days ago 3
Puncak Fenomena Embun Beku di Dataran Tinggi Dieng Diperkirakan Berlangsung Agustus Fenomena embun beku di Dataran Tinggi Dieng diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang, menjadi daya tarik wisatawan tetapi merugikan petani.(MI/Akhmad Safuan )

BERSAMAAN puncak kemarau, fenomena embun beku (upas) di Dataran Tinggi Dieng di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah, akan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.

Pemantauan Media Indonesia Selasa (21/7) fenomena embun beku (upas) di Kawasan Dataran Tinggi Dieng yang berada di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo sedikit mereda dan hanya terlihat menipis dibanding sebelumnya.

Namun, embun upas tersebut diperkirakan mencapai puncak pasa Agustus 2026 mendatang bersamaan puncak kemarau. Fenomena embun beku menjadi daya tarik wisatawan, tetapi merugikan bagi petani setempat karena mengakibatkan penurunan produksi pertanian. Upas merupakan kejadian rutin dan biasa terjadi di dataran dengan ketinggian diatas 2.000 mdpl setiap musim kemarau antara bulan Juni-September. 

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang Yoga Sambodo mengatakan, secara meteorologi fenomena yang dikenal sebagai frost atau embun beku itu merupakan kejadian alam yang lazim terjadi di kawasan dataran tinggi saat musim kemarau dan bukan merupakan peristiwa luar biasa. 

"Fenonena embun beku berbeda dengan salju yang terbentuk sebagai partikel presipitasi di atmosfer, embun beku merupakan fenomena munculnya butiran es di permukaan, " ujar Yoga Sembodo. 

Kemunculan embun beku atau upas tersebut, menurut Yoga, tidak terlepas dari kondisi klimatologis yang terjadi saat musim kemarau. Saat tekanan udara di Benua Australia lebih tinggi dibandingkan Benua Asia, memicu bertiupnya angin monsun Australia menuju Asia melewati wilayah Indonesia yang menandai berlangsungnya musim kemarau. 

Saat musim kemarau berlangsung, ungkap Yoga, tutupan awan sangat minim sehingga penyinaran matahari pada siang hari menjadi maksimal, sehingga suhu udara terasa cukup panas pada siang hari menjadikan uap air di permukaan bumi akan lebih mudah terlepas ke atmosfer karena langit relatif cerah tanpa tutupan awan. Kondisi ini berbalik pada malam hari, lanjut Yoga Sembodo, suhu udara turun cukup signifikan dan mencapai titik terendah menjelang matahari terbit, terutama di kawasan pegunungan seperti Dieng memiliki kelembapan udara yang cukup tinggi, sehingga kandungan uap air di udara tersebut menyebabkan embun menempel di rumput, dedaunan maupun tanaman. 

"Fenomena ini hampir setiap tahun muncul selama musim kemarau, umumnya pada Juni hingga September dan akan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang, " tambahnya. 

Merugikan Petani 

Fenomena embun beku (upas) menarik bagi wisatawan sehingga kunjungan wisata ke Kawasan Dataran Tinggi Dieng meningkat tajam, namun tidak untuk petani. Karena fenomena tersebut, hasil panen budaya seperti kentang, kol dan sayuran menurun dibandingkan kondisi normal. Munculnya fenomena tersebut, menjadikan daun tanaman yang tertutup embun beku akan layu. Dampak yang paling dirasakan adalah penurunan hasil panen yang menurun 25-30% dibandingkan kondisi normal. 

"Biasanya kondisi normal satu hektare tanaman kentang dapat menghasilkan 15 ton, tetapi sekarang hanya sekitar 10-12 ton, " ujar Marmo, petani di Dieng. 

Kepala Bidang Bina Program Dibas Pangan Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo Umar Soid mengungkapkan kemunculan embun upas merupakan fenomena tahunan yang biasa terjadi saat musim kemarau pada Juni-Agustus, sehingga telah diambil langkah memberikan informasi kepada petani agar dapat melakukan langkah antisipasi.

Namun tidak semua petani dapat menghindari risiko tersebut, demikian Umar Said. Keterbatasan lahan yang dimiliki membuat sebagian petani tetap menanam meski mengetahui ancaman embun upas. 

"Meskipun ada risiko akibat embun upas itu, petani tetap menanam," tambahnya. 

Sementara itu, berdasarkan data diperoleh menyebutkan bahwa embun beku (upas) di wilayah Wonosobo mengakibatkan ratusan hektare lahan terdampak seperti Desa Sikunang seluas 62,5 hektare, Desa Sembungan 59 hektare, Desa Patakbanteng 46 hektare dan Desa Dieng Wetan 39 hektare. 

"Dampak embun upas menyebabkan sebagian tanaman mengalami kerusakan hingga mati muda, " ujar Umar Said. (E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |