KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral memulai pembangunan fasilitas Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Proyek senilai US$ 400 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun itu ditargetkan bisa mengolah 2.131 ton sampah per hari dari enam kabupaten dan kota di Jawa Barat menjadi listrik berkapasitas 40,79 megawatt.
Prosesi peletakan batu pertama dilakukan pada Rabu, 29 Juli 2026, di kawasan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah Regional (TPPAS) Legok Nangka. Acara tersebut dihadiri Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Yuliot mengatakan pembangunan PLTSa Legok Nangka merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat penyelesaian persoalan sampah perkotaan sekaligus meningkatkan pemanfaatan sampah sebagai sumber energi.
Menurut dia, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan penyelesaian persoalan sampah perkotaan secara menyeluruh sebelum 2029 melalui pendekatan dari hulu hingga hilir, termasuk mengembangkan skema waste to energy.
"Groundbreaking hari ini bukan sekadar menandai dimulainya pembangunan sebuah infrastruktur, tetapi juga menjadi simbol komitmen bersama untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih bersih, lebih hijau, dan berkelanjutan," kata Yuliot.
Ia berharap PLTSa Legok Nangka dapat menjadi model pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi di berbagai daerah. Selain mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir, proyek tersebut juga diharapkan menghasilkan energi bersih, menekan emisi gas rumah kaca, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan PLTSa Legok Nangka ditargetkan mulai beroperasi pada 2029. Menurut dia, proyek tersebut akan memberikan tiga manfaat utama, yakni mengurangi persoalan sampah di kawasan Bandung Raya, memasok listrik bagi masyarakat dan industri, serta meningkatkan kualitas lingkungan.
Selama masa konstruksi yang diperkirakan berlangsung 41 bulan, proyek ini diproyeksikan menyerap sekitar 1.565 tenaga kerja. Setelah beroperasi, PLTSa Legok Nangka diperkirakan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 311.874 ton karbon dioksida (CO) ekuivalen setiap tahun.
PSEL Legok Nangka digarap konsorsium asal Jepang, Sumitomo Hitachi Zosen. Konsorsium tersebut merupakan bagian dari proyek kerja sama yang didukung oleh Japan International Cooperation Agency (JICA), lembaga kerja sama internasional milik Pemerintah Jepang.














































