Para pembalap berlomba di etape 17 Tour de France.(ANTARA/X/LeTour)
ASOSIASI Pesepeda Profesional (CPA) melayangkan protes keras terkait pelaksanaan tes doping mendadak pada tengah malam selama gelaran Tour de France 2026. Organisasi tersebut mendesak adanya prosedur pemeriksaan yang lebih "cerdas" dan adil tanpa mengorbankan waktu pemulihan para atlet.
Kritik ini mencuat setelah sejumlah pembalap papan atas, termasuk Jonas Vingegaard, dibangunkan oleh petugas medis pada pukul 02.00 waktu setempat pada Minggu dini hari. Pemeriksaan tersebut dilakukan tepat sebelum etape pegunungan krusial menuju Plateau de Solaison. Tak berselang lama, sekitar tiga jam kemudian, giliran Tadej Pogacar yang harus menjalani prosedur serupa.
Ganggu Waktu Istirahat Atlet
CPA menegaskan bahwa meskipun mereka mendukung penuh pemberantasan doping yang kredibel dan efektif, pemeriksaan di tengah malam dianggap tidak relevan dan mengganggu kondisi fisik pembalap. Sedikitnya lima tim dilaporkan didatangi petugas untuk menjalani tes pada atau sebelum pukul 05.00 waktu setempat.
“Pemeriksaan pada malam hari menimbulkan pertanyaan mengenai relevansinya. Mengganggu waktu istirahat mereka di tengah malam untuk menjalani pemeriksaan kini memerlukan pertimbangan serius,” tulis pernyataan resmi CPA yang dilansir dari Cyclingnews.
Secara regulasi, Uni Balap Sepeda Internasional (UCI) dan Badan Anti-Doping Dunia (WADA) umumnya membatasi rentang waktu pemeriksaan antara pukul 06.00 hingga 23.00. Namun, otoritas memiliki wewenang melakukan tes di luar jam tersebut untuk mendeteksi zat peningkat performa tertentu yang memiliki masa deteksi sangat singkat di aliran darah.
Tuntut Investasi Teknologi
CPA berargumen bahwa daripada menjadikan tes tengah malam sebagai kebiasaan yang mengganggu, otoritas anti-doping seharusnya lebih fokus pada pengembangan teknologi pendeteksian. Berdasarkan data CPA, dunia balap sepeda telah menyumbangkan sekitar 10 juta euro (sekitar Rp176 miliar) untuk pendanaan analisis sampel oleh Badan Pengujian Internasional (ITA).
Di sisi lain, WADA disebut hanya mengalokasikan rata-rata lima juta dolar AS per tahun untuk penelitian dasar metode pendeteksian zat baru di seluruh cabang olahraga. “Bukankah akan lebih tepat untuk berinvestasi lebih banyak dalam penelitian ilmiah dan teknologi pendeteksian, dibandingkan meningkatkan jumlah pemeriksaan mendadak yang sangat mengganggu?” tanya CPA.
Keadilan dan Pemulihan
Selain masalah kesehatan, CPA menyoroti aspek ketidakadilan kompetisi. Pemeriksaan yang hanya menyasar pembalap atau tim tertentu di jam istirahat dapat menciptakan ketimpangan dalam proses pemulihan (recovery) fisik di tengah kompetisi balap sepeda paling bergengsi di dunia tersebut.
“Tujuan kami bukan mempertanyakan pemberantasan doping, justru sebaliknya. Kami ingin upaya tersebut semakin efektif, tepat sasaran, dan efisien, tetapi tetap menghormati hak dasar, kesehatan, dan kondisi pemulihan atlet,” tegas organisasi tersebut.
CPA berharap adanya dialog antara seluruh pemangku kepentingan untuk memperjelas prosedur hukum dan memastikan setiap tes dilakukan dengan tetap menjaga integritas olahraga sekaligus kesejahteraan para pembalap. (Ant/I-1)

















































