Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.(MI/M Farhan Zhuhri)
PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta menginstruksikan seluruh pengelola gedung bertingkat yang memiliki fasilitas water mist untuk segera mengaktifkannya kembali. Langkah ini diambil guna mempercepat pembersihan sisa abu vulkanik serta menjaga kualitas udara di wilayah ibu kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, penanganan dampak abu vulkanik dilakukan secara terintegrasi dengan melibatkan Dinas Pemadam Kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga Satpol PP.
"Kerja sama antara Damkar, BPBD, Satpol PP, dan instansi terkait terus kita optimalkan. Penyemprotan water mist tetap kita jalankan sampai besok, dan kami meminta gedung-gedung yang memiliki fasilitas tersebut untuk ikut mengaktifkannya," ujar Pramono di Balai Kota, Senin (7/9).
Ia mengatakan, optimalisasi penyemprotan air dari udara dan gedung bertingkat bisa mengurangi dampak abu vulkanik. Pramono memastikan seluruh jajaran Pemprov DKI tetap bersiap di lapangan hingga situasi udara di Jakarta benar-benar kembali normal.
Sebelumnya, sebaran PM10 tinggi terpantau cukup luas di Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan. Setelah penyiraman, area dengan nilai PM10 tinggi terutama tersisa di Cilincing bagian timur dan Cipayung bagian tenggara.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan penyiraman dilakukan untuk membasahi abu yang telah mengendap di jalan dan permukaan lainnya agar tidak kembali beterbangan.
“Petugas bergerak melakukan penyiraman, sementara kondisi udara terus dipantau agar langkah perlindungan warga dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” ujar Dudi.
Pemprov DKI mengerahkan kendaraan pemadam kebakaran, truk tangki air, serta unit water mist mobile. Operasi melibatkan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, DLH, serta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota di bawah koordinasi Sekretaris Daerah.
Menurut Dudi, abu vulkanik yang mengering berpotensi kembali terangkat akibat angin maupun pergerakan kendaraan. Karena itu, pembasahan dilakukan sebelum pembersihan untuk menekan penyebaran abu ke udara.
Pada PM2.5, pemantauan juga menunjukkan penyempitan area dengan konsentrasi tinggi di sejumlah wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Namun, Kembangan dan Kebon Jeruk masih menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian.
Sementara itu, kondisi sulfur dioksida (SO₂) belum menunjukkan perbaikan secara merata. Pemprov DKI karena itu tetap memantau seluruh parameter pencemar untuk menentukan langkah lanjutan.
Dudi menegaskan hasil pemantauan menjadi dasar untuk menentukan wilayah yang perlu diprioritaskan. Evaluasi juga mempertimbangkan faktor angin, hujan, dan sumber pencemar lain sehingga dampak penyiraman terhadap kualitas udara dapat dinilai secara lebih akurat.
“Kami akan menggunakan hasil pemantauan untuk menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan sekaligus menyampaikan perkembangan kondisi udara secara terbuka,” katanya.
Pemprov DKI mengimbau masyarakat tetap waspada dengan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan mengurangi aktivitas luar ruangan jika lingkungan terdampak abu. Endapan abu juga disarankan dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan.
Masyarakat dapat memantau kondisi kualitas udara melalui udara.jakarta.go.id serta mengikuti informasi resmi DLH, BPBD, dan BMKG. “Keselamatan warga menjadi pegangan kami. Respons pemerintah harus cepat dan penanganannya tepat sasaran,” tandas Dudi. (Far/P-3)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9292877/original/058508100_1783663395-IMG_2546.jpg)




