Ilustrasi(Dok Magnific)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga lebat pada Jumat, 10 Juli 2026. BMKG menegaskan beberapa wilayah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan sedang, hujan lebat hingga sangat lebat, serta angin kencang.
Masyarakat diimbau tetap waspada, terutama di daerah yang masuk dalam kategori siaga dan wilayah dengan potensi angin kencang. Kondisi cuaca yang dapat berubah cepat berpotensi mengganggu aktivitas harian serta perjalanan darat, laut, maupun udara.
Daftar Wilayah Waspada Cuaca Ekstrem
Berdasarkan data BMKG, berikut adalah rincian wilayah yang perlu diwaspadai pada Jumat, 10 Juli 2026:
- Hujan Sedang: Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, SumatraSelatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua.
- Siaga Hujan Lebat hingga Sangat Lebat: Sumatra Barat, Bengkulu, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
- Angin Kencang dan Berawan: Aceh, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara.
Analisis Dinamika Atmosfer
BMKG menjelaskan bahwa potensi hujan di awal Juli 2026 dipengaruhi oleh faktor atmosfer berskala regional maupun global yang masih aktif di sekitar Indonesia.
Beberapa fenomena yang memicu pertumbuhan awan hujan antara lain:
- Madden-Julian Oscillation (MJO): Aktif secara spasial di sebagian Sumatra.
- Gelombang Kelvin: Terpantau di Kepulauan Riau, pesisir utara Riau, Kalimantan, pesisir selatan Jawa, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Bali, NTB, NTT, Maluku Utara, hingga Papua Barat Daya.
- Gelombang Rossby Ekuatorial: Terdeteksi di Sumatra Selatan, Lampung, Jawa bagian barat, Maluku, Maluku Utara, Kalimantan Utara, Papua Selatan, NTT, dan Sulawesi Tenggara.
Selain itu, terdapat sirkulasi siklonik yang diprakirakan aktif di sekitar pesisir Sumatra Selatan dan pesisir barat Sumatera. Kondisi ini membentuk daerah perlambatan dan belokan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan. Kelembaban udara yang relatif tinggi juga menjadi penyebab hujan masih sering terjadi meskipun Indonesia mulai memasuki musim kemarau. (Chatrine Simanjuntak/E-4)

















































